Pengalaman Menginap di Hotel Angker
1. Selalu 'Permisi-permisi'
2. Nggak Usah Banyak Kepikiran
3. Tenangkan Hati dan Niatkan untuk Istirahat
4. Keep Things Organized!
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Belakangan banyak narasi jangan wisata ke Jogja karena kondisinya nggak aman dan nggak nyaman buat turis. Sebenernya selaku warga ber-KTP Jogja saya mau ngasih tau aja bahwa ada lho cara untuk liburan dengan aman dan nyaman di Jogja.
Bukan berarti Jogja bener-bener nggak aman sampe butuh Batman ya, tapi namanya kejahatan itu kan terjadi karena ada kesempatan dan kesempitan, jadi dimanapun kita berada tetap harus waspadalah-waspadalah, begitchu.
Pariwisata Jogja memang lagi diuji kedewasaannya. Pandemi yang sudah hampir 3 tahun berjalan ini memang memporak porandakan penghasilan sebagian besar warga Jogja yang hidup dalam kesahajaan dan kesederhanaan. Jadi, wajar kalau misalnya ada beberapa pengelola wisata baru yang masih kelabakan dalam mengelola wisatanya.
Belum lagi perubahan bentuk wisata ke arah new normal yang jujur aja nggak normal-normal amat. Tempat wisata masih buka siang pas matahari Jogja udah terbit tiga-tiganya, pengelola tempat yang harus mikirin okupansi sesuai aturan peduli lindungi, dannnnn tentu saja masalah tempat makan dengan harga yang konon mencekik.
Tapi soal harga di tempat makan ini, menurut saya subjektif banget ya. Karena murah buat saya belom tentu murah buat pembaca duckofyork, secara saya horang kayah.
Jadi gimana caranya supaya liburan di Jogja aman dan nyaman?
Tips Liburan di Jogja No 1: Cari Info Sendiri
Tips Liburan di Jogja No 2: Selalu Tanya Harga Terlebih Dahulu
Tips Liburan di Jogja No 3 : Minta karcis parkir
Tips Liburan di Jogja No 4: Klitih?
- Jangan mudah terpancing emosi, biasanya klitih akan melakukan sesuatu yang memancing emosi kita supaya mengejar, mblayer-mblayer knalpot misalnya.
- Sebisa mungkin kalau keluar malam jangan sendirian dan gunakan kendaraan yang relatif lebih aman seperti mobil.
- Waspada jika ada anak muda nggak jelas nongkrong di pinggir jalan (dan kelihatan sudah membawa gir, parang, samurai, dan lain-lain) segera hubungi kantor polisi terdekat.
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Pernah nggak sih pas menginap di hotel ternyata service-nya super mengecewakan, padahal hotel yang dipesan cukup mahal? Saya baru aja mengalami nih, dua kali berturut-turut dalam satu minggu bahkan.
Jadi beberapa minggu lalu saya baru saja road trip bersama keluarga. Kali ini kondisinya agak ribet karena seperti biasa, orang tua saya nggak bisa dikondisikan dan mama saya lagi ngga bisa jalan. Otomatis PR banget mengondisikan dua orang sepuh yang lagi balik jadi anak kecil dan serba maunya maunya.
Nah kondisi ini diperparah dengan hotel yang dipesan ternyata nggak sesuai harapan.
Jadi pas saya sampai di hotel yang pertama, yang notabene hotel bintang lima dan ada di pusat kota jakarta... nggak ada info pintu masuk dan keluar yang jelas di bagian depan. Untuk sampai ke lobby kita harus muterin satu compound hotel dan perkantoran buat keluar dulu baru masuk lagi, dan di pintu keluar tetep disuruh bayar.
Okelah nggak masalah disuruh bayar parkir walaupun males banget 5 ribu nggak sampai lima menit dan muter doang. Pas nyampe lagi di lobby, saya tanya ada jalur ramp difabel nggak karena kami harus bantu si Mama jalan kan. Satpamnya jawab nggak ada.
Ternyata setelah kami nengok ke sebelah, persis di sebelah kiri kami ada ramp difabel.
Udah gitu resepsionis nggak ramah dan saya jelas udah nahan diri banget buat ngomel. Ternyata mereka lebih prioritasin tamu rombongan partai yang juga lagi menginap di hari yang sama dengan kami. Dari 4 lift yang tersedia, yang nyala cuma dua. Otomatis kami harus menunggu lama banget dan ngantri dengan rombongan lain. Belum lagi liftnya yang cepet banget nutupnya sampai saya sempet kejepit di pintu.
Untuk hotel bintang lima yang rate-nya jutaan sih jujur enggak banget. Cukup kecewa karena nggak yang ada harga ada barang begitu lho.
Belum makanan yang kualitasnya jujur so-so (cenderung mengecewakan untuk banquet order yang juga nggak murah). Urusan parkir yang sebenernya berbayar tapi kami nggak dikasih tau ada fasilitas pa
ini belum urusan sprei kotor, wc bau, dan masih banyak lagi sebenernya detil yang kalo dijembrengin nggak ada faedahnya. Intinya mengecewakan.
Well, hal-hal begini sebenernya lumrah banget sih mengingat kondisi pandemi membuat para hotelier kalang kabut dan kehilangan putra putri terbaiknya. Tapi nggak berarti lho sampai satpam nggak paham apa itu ramp buat difabel. Bye banget pak.
Lalu apa yang harus dilakukan kalau hotel yang kita tempati ternyata mengecewakan?
Jawabannya satu: komplain.
Tips Komplain ke Hotel
Bagaimana Kalau Komplain Kita Tidak Ditanggapi?
Seputar Kompensasi Hotel yang Mengecewakan
Kadang, Service yang Buruk itu Multifaktor
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Halo pembacaku yang budiman dan budiwoman, sudahkah kalian siap menghadapi gempuran pekerjaan di kuartal kedua tahun 2022 ini? Kalau saya jujur lagi kurang fit nih, kemarin banget saya masuk rumah sakit karena demam yang nggak turun-turun kayak harga minyak.
Beginilah nasib jadi Freelancer, kalau lagi nggak ada kerjaan sakit maag, kalau lagi banyak kerjaan sakit tipes.
Tapi serius dikit, ada yang merasa nggak setelah era WFH ini job freelance malah semakin banyak. Mungkin karena di masa-masa pandemi, orang lebih suka mencari tenaga kerja yang nggak terikat ya. Jadi kerjaan freelance adaaaa aja dari hari ke hari.
Seneng nggak? Seneng dong. Tapiiii... ada tapinya nih.
Kita jadi harus menjaga kesehatan dengan baik. Kenapa? Soalnya kalau sakit kan sama aja nggak bisa kerja lol, malah nambah-nambahin tagihan aja, padahal duit udah tiris *lirik dompet yang isinya penuh dengan senyuman gahar kapten Pattimura*
Percaya deh menjaga kesehatan itu jauh lebih murah daripada menjaga hati. Nah gimana sih cara saya sebagai freelancer menjaga kesehatan sehari-hari?
1. Olahraga
Yang paling gampang itu jalan kaki atau lari pagi rutin. Ini saya rutin lakukan sambil ngajak jalan-jalan si bobob, kucing saya yang paling sulung. Kalau nggak sempet jalan kaki dan di rumah ada treadmill ya pake treadmill juga nggak masalah. Kadang kalau lagi sibuk banget pun di gym saya suka treadmill sambil zoom meeting sama client.
Selain itu di akhir pekan biasanya saya akan ikut kelas Yoga bersama pak suami. Seringnya sih saya meninggoy duluan karena kecapean. Tapi nggak apa-apa lebih baik Yoga setengah jam (dari sesi selama sejam) ketimbang tidak sama sekali hehehe.
Menyisipkan waktu olahraga juga sebenarnya nggak mudah, apalagi klien saya tipenya yang maunya direspon cepat (kalau bisa saat itu juga) jadi ya gantian saya yang harus sabar. Makanya menyelipkan olahraga di tengah-tengah kesibukan jadi salah satu solusi yang menurut saya membantu banget.
Kalau kalian olahraganya gimana? Coba sharing deh di kolom komentar biar kita bisa sama-sama bagi tips.
2. Tidur yang Cukup dan Berkualitas
3. Eat Clean and Drink your Vitamin!
4. Mengurangi Kafein dan Minuman Beralkohol
Tapi sayangnya waktu usia saya lewat dari seperempat abad kerasalah kalau saya sering berdebar-debar (padahal nggak lagi fangirling lho!) dan juga sering gemetar berlebihan. Puncaknya saya kena GERD lol. Akhirnya saya mengurangi banget minum kopi. Hampir nggak pernah lagi bahkan. Kalau terpaksa ngopi di cafe pun saya memilih minuman yang tidak espresso-based kecuali kepepet hehehe.
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Banyak banget belakangan yang nanya di instagram, gimana ceritanya saya bisa sukses menjadi freelancer dan blogger. Emang saya udah sukses? Kayanya belom secara tiap awal bulan kerjaannya masih nagih invoice hahaha 👀👀
FYI sekarang saya bekerja remote untuk beberapa klien sebagai retoucher, copywriter dan sesekali masih mengambil project untuk video editing dan recording session. Selain itu saya masih punya side-hustle sebagai mediator. Hampir semua pekerjaan saya (kecuali recording dan mediasi) bisa saya kerjakan dari rumah, tapi konsekuensinya ya dirumah pun tetep harus kerja.
1. Bikin Jadwal Seminggu Kedepan
2. Patuhi Brief Sampai Ke Deadline-Deadlinenya
Jujur, saya jarang banget nawar deadline kecuali emang nggak masuk diakal (kayak 1 post 2 hari udah harus jadi lengkap sevisual-visualnya. Mungkin dipikirnya saya tinggal minta bantuan kerajaan jin buat ngedit foto kali ya hmmm)
3. Bisa Bekerja Dari Mana Saja
4. Menjaga Kesehatan Itu Penting
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Marilah kita mulai postingan ini dengan misuh-misuh karena ada dua post saya di draft yang entah gimana ceritanya ke-delete dan nggak bisa di recover lagi.
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Ada yang kangen sama artikel separo curhat saya? Kayanya ngga ada, jadi saya skip aja ya postingan kali ini! *bener-bener minta digeruduk massa*
Seperti biasa, artikel lifestyle nya duckofyork kan isinya suka-suka. Jadi ya pokoknya sesukanya saya aja gitu #DikeprukUlekanSambel nggak deng, kali ini saya mau berbagi cara berhenti merokok. Kenapa tiba-tiba saya bikin topik yang nggilani kayak gini? Karena saya mau dan itu yang saya suka! *dengan muka datar* *ala-ala audisi biskuat*
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
"mbak, kamu bangun jam berapa tiap pagi?" -- quotes by, literally, semua orang yang liat foto-foto bento buatan saya untuk pak suami di Path.
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Saya mau memproklamirkan diri sebagai makhluk ter #kerehore se-indonesia raya. Dengan pendapatan pak suami yang maju mundur cantik plus pajak profesi yang mihils plus uang kuliah tunggal yang sukses bikin saya ketar ketir tiap awal semester, saya pun mencoba 'kreatif' mengelola keuangan keluarga. Maklum, pak suami kan dokter hewan dengan jam terbang yang belum terlalu tinggi, jadi penghasilan kami ya masih penghasilan fresh graduate alias UMR.
Tapi setelah saya renungi (ceileh), ternyata dengan pemasukan pas-pasan yang ketika dipotong biaya listrik saja bisa sukses membuat kami mengencangkan ikat pinggang tiap akhir bulan, saya dan suami bisa dibilang menemukan cara-cara 'nyeleneh' untuk hore-hore. Buktinya? every saturday night is a date night! Inget ya, kere bukan berarti gak bisa hidup bahagia! Camkan itu ibu-ibu! *semangat 45*
Oya, tips ini mungkin sedikit nyeleneh dan ribet (but aren't we all?) tapi percaya deh, tanpa tips-tips gila ini, mungkin kami ngga akan bisa menabung tiap bulan demi masa depan anak yang masih di awang-awang. Penasaran? Here We Go!
1. Belanja-lah di kampus. Karena Mahasiswa mostly are cheapskates, and so were we.
Percaya tidak percaya, segala kebutuhan pokok yang ada di rumah saya beli dari Minimarket Kampus. Kok minimarket kampus?
Satu, harganya lebih murah dari toko waralaba, dua, kadang ada benda aneh-aneh yang cuma ada di minimarket kampus, misalnya takoyaki super enak harga 3.500 isi 2 atau pizza homemade harga 8 ribu dengan kualitas yang nggak kalah sama chain pizza nasional.
Salah satu favorit saya adalah Agromartnya Fakultas Peternakan UGM.
Saya biasa beli telur, sayur, sampai makanan beku disitu. Mozarella Cheese ukuran 10x10cm dengan ketebalan 2cm bisa saya dapatkan hanya dengan 30 ribu saja (kadang bahkan 20 ribu). Aneka macam Yogurt juga bisa saya dapatkan dengan mudah. Pokoknya murah dan gembira. Sisanya bisa beli di pasar sih--walaupun mereka juga menyediakan bahan makanan olahan yang lain.
Jadi kalo ada yang tanya, kenapa saya bisa masak western food/japanese food hampir tiap hari, nih rahasianya!
2. Investasi Itu bernama BAWANG dan CABE
Dulu jaman awal-awal ngekos, saya diberi hadiah ulang tahun berupa kaktus oleh teman-teman kuliah saya. Alasannya karena kaktus jarang mandi (dan demikian pula saya). Hobi memelihara tanaman memang tidak bertahan lama karena kurang dari setahun, si kaktus akhirnya layu. Saya memang nggak bakat berkebun kok Jangankan merawat tanaman, merawat diri sendiri saja jarang! *elus-elus rambut kusut*
Belakangan kalo liat-liat instagram, saya hobi banget liat urban jungle blog yang isinya rumah-rumah dengan banyak tanaman, terus juga kalo liat youtuber-youtuber luar negeri, banyak yang punya herb garden sendiri di dapurnya. Dari situ, agak ngiri juga sih, kenapa saya ga diberkahi hubungan batiniah yang bagus sama tanaman.
Alhamdulillah, saya diberi rejeki berupa suami yang hobinya berkebun. Pot-pot yang tadinya saya isi kaktus lucu-lucu berubah menjadi pot berisi bawang (yang kelamaan ditaro dikulkas sampe bertunas), cabe, parsley, wortel dan lain-lain. Pokoknya sayur-sayur yang sehari-hari kami pakai dirumah selalu ada didepan rumah. Hemat, dan jelas, gak perlu pake beli-beli. Pak suami juga happy, tiap pagi dia ngasih makan ayam sambil nyiramin tanaman ala-ala game Harvest Moon. Lumayan, selain hemat bisa buat hiburan juga ternyata.
3. Layar Tancep is Just One HDMI Cable Away
Hobi saya adalah nonton film. Tapi kalo diturutin semua film saya tonton di bioskop, dunia persilatan bisa bubar jalan. Kok bisa? Karena nonton di bioskop itu mahal. Coba kita itung-itungan yaaa...
Sekali nonton film di bioskop: 35 ribu. Nonton berdua yaaa 70 ribu.
Belum sama popcorn endefrey endesbrey anggap lah 25 ribu.
ongkos parkir 5 ribu (kalo beruntung)
belum bensin ke bioskopnya.
Coba ditotal.
Udah 100 ribu sendiri!!! Bisa buat makan enak tiga hari!!! *insert emot nangis disini* Itu juga kalo 1 film per bulan yang ditonton. Lah saya kan movie junkie, sampai film horror Indonesia yang jalan ceritanya absurd pun kadang saya tonton, just because.
Solusinya? Banyak ibu-ibu. Jaman sekarang siapa sih yang nggak kenal Netflix, Youtube, Rent Movies di iTunes dan.... streaming (oops!). Ternyata, dengan cara yang benar, kita bisa memanfaatkan gadget kita untuk nonton film meskipun pasti level kepuasannya beda dengan nonton di bioskop.
Nah berhubung kita juga belom punya uang untuk beli chromecast, smart tv, top box tv dll, jadilah laptop dan ps3 dirumah sebagai TV box kita. Tinggal colok HDMI laptop ke TV dan voila, you got yourself a merry little Layar Tancep. Teman-teman yang lebih advanced ke-layar-tancepannya juga sering cerita soal Miracast, yaitu semacam proyeksi HDMI via wi-fi sehingga kita bisa mindahin proyeksi gambar dari smartphone ke TV atau layar proyektor. Detilnya cari sendiri ya, karena saya juga belum pernah nyoba.
Jadi, saya modalin aja bayar tagihan internet broadband tiap bulan. Lumayan, selain punya wi-fi unlimited buat browsing, saya juga jadi punya
4. Berburu Diskon, Cashback, Sampai Click-to-get-reward Services
Tapi jangan salah! biasanya sebelum berbelanja kami akan melakukan riset ekstensif bagaimana caranya mendapatkan diskon di marketplace tersebut. Biasanya sih, yang paling sering kami gunakan adalah website proxy yang menawarkan Cashback semacam Shopback atau website penyedia voucher macam Groupon.
Cara lainnya adalah dengan menggunakan aplikasi LINE dan mantengin promo dari marketplace tersebut. Beberapa hal yang sukses kami beli dengan diskon dan cashback serta kode-kode voucher adalah kamera (yang sekarang kami pake untuk vlog di youtube), tas, flat shoes, mikroskop kerja pak suami dan masih banyak lagi. Selain untuk mantengin promo dari marketplace, saya juga hobby nungguin voucher promo dari Official Account yang ada di LINE, biasanya sih promo Starbucks. Lumayan kan ngopi-ngopi murah di tempat mahal, hehehe.
Kalau pak suami lagi hobi dengan click to get reward apps. Jadi kita cuma nge-klik-nge-klik iklan dan dapat uang yang bisa dijadikan pulsa gratis. Lumayan, belakangan desye bisa isi kuota pake pulsa hasil ngeklik-ngeklik iklan tersebut. Pak suami pake app Cashtree yang bisa didownload di Playstore. Kalo mau free credits di Cashtree, kamu bisa klik link refferal ini. Lumayan kaaan?
5. Biasakan Menyebut bilangan ratusan ribu dengan juta
Ini adalah kebiasaan saya yang paling dibenci oleh teman-teman saya. Sebagai Ibu Rumah Tangga dan wanita hemat bin independen
Fungsinya apa ibu-ibu??? Supaya he...mat.
Coba misalnya, kita mau beli sebuah tas yang harganya 249 ribu rupiah dan uang di kantong kita ada satu juta rupiah. Seandainya kita hanya terbayang "oooh murah ya, cuma 250 ribu..." atau bahkan "oooh 240 ribuan, murah ya??" lenyap deh itu uang, tinggal tersisa 750 ribu rupiah saja.
Tapi kalo kita membayangkannya, ketika kita punya uang satu juta dan kita hanya akan dapat 4 tas model seperti itu... ooo, tentu pegangan pada dompet akan sedikit lebih kencang dari biasanya yes.
Contoh lain, pak suami mau cicil motor dengan cicilan 500 ribu satu bulannya. Kalau dengan gaji sekarang tentu enak tinggal bilang "ah cuma 500 ribu ini", tapi kalau ia memvisualisasikan 500 ribu itu dengan setengah juta, pasti rasanya yang keluar akan lebih banyak daripada yang seharusnya.
Jadi visual itu penting ibu-ibu! Penting! *semangat empat lima*
6. Gak Usah Kebanyakan Printilan Di Rumah, Pokoknya Gak Usah!!
Jadi sebenarnya ya bapak-bapak dan ibu-ibu, yang penting itu bukan jumlah uang yang kita miliki, because money will always be a number and number is infinite. Ngga ada abisnya kita mengejar uang. Kalau kata Chuck Palahniuk di fight club, kita mengerjakan pekerjaan yang gak kita sukai supaya kita bisa beli benda-benda yang gak kita butuhkan untuk membuat orang-orang yang kita gak suka kagum sama kita. Dalem, yes?
Bahagia itu kan intinya sederhana, kita bisa hidup cukup, happy, dan punya waktu untuk diri sendiri. Kalau misalnya sekarang memang kita belum bisa cicil mobil atau cicil mesin cuci, sudahlah jangan dipaksakan. Jangan mengeluarkan uang untuk gaya hidup yang sebenarnya tidak kita butuhkan dan tidak bisa kita bayar. Hiduplah apa adanya. Toh saya kere-kere begini masih bisa hore-hore, ya gak ibu-ibu??
Yuk saling support untuk bisa hidup lebih bahagia dan berkualitas!
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus
Well guess what, call me fat or whatever, I don't care. The only thing I'm concerned of, is my health and my well being. I don't need some random bastard on social media prancing around mocking my body images. Sorry, I'm not sorry I was born this way. I got friends, families and fiance who loves me no matter how fat I am and some hate comments will not break my will down.
![]() |
| image from Headspace (head there for more information!) |
Body image issues can lead to several unhealthy eating habits and in the end, eating disorder. You will find yourself turn into a self-deprecating enthusiast and develop this unhealthy obsession about yourself. It leads to several conditions including depression, anxiety, and addictions. And before some of you pro-anorexic/pro-bulimia groups attack me with "eating disorder is just a myth" argument, i present you headspace's article about eating disorder mythbuster which you can read and download here.
Lately this whole body-image issues were surfacing since I have this habit of scrolling through my social media feeds and find a lot of people fat-shaming other people. I found this as a very vile and unhealthy thing. Well, from my experience, people who make comments about other people bodies were the one who was uncomfortable with themselves either. They projected their anxieties towards other people, shaming them so in the end they feel extra good with themselves.
For those who were going through some body images issues; never break down. Love yourself, because if you don't even know how to love yourself, how can everyone else loves you? Stay positive and stay with positive people who encourages you to be healthier not to be skinnier. Focused on being healthy, not being skinny. And if you do some cardio and other sports activities, aim to look good naked rather than look good in clothes!
Until next time!
Blogger Lifestyle dari yogyakarta, Indonesia yang hobi bikin konten gado-gado dan seringnya sih ngerjain konten orang lain makanya blog sendiri malah jarang keurus































