• about me
  • menu
  • categories
  • Agi Tiara Pranoto

    Agi Tiara Pranoto

    Seorang Blogger Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Selain menulis, dia juga sangat hobi main PUBG Mobile. Cita-citanya adalah mendapatkan passive income sehingga tidak perlu bekerja di kantor, apa daya selama cita-cita itu belum tercapai, dia harus menikmati hari-harinya sebagai manajer sebuah penginapan syariah dan content manager sebuah clothing line

    Memulai Catatan Keuangan Keluarga (+Free Printables Catatan Keuangan Keluarga Sederhana!)


    Weekend gini enaknya ngomongin soal duit, mumpung masih awal bulan ya kaaaaannn... masih banyak duit ya kan.... *kemudian disambut dengan raungan amarah netizen yang baru aja ngabisin 1/2 gaji buat bayar cicilan dan tagihan*
    Ngga apa-apa gengs, saya paham kok. Saya juga pernah ngerasain gali lobang tutup lobang demi membayar laptop yang baru lunas setelah setaun lulus kuliah. Hidup memang kejaaaa~m. 

    Sekarang sih saya personally mengurangi banget yang namanya cicilan atau utang karena pelit aja nggak mau keluar 8 juta untuk barang seharga 5 juta. Tapi kan nggak semua orang bisa kaya begitu ya. Bisa aja ada kondisi yang mengharuskan dia untuk nyicil atau ngutang dulu gitu, dan kita ngga bisa ngejudge kecuali emang dia ngga mau bayar utang.

    Nah kemarin kan saya datang tuh ke acara salah satu inisiatifnya Visa yaitu "Ibu Berbagi Bijak". Jangan tanya saya kenapa namanya Ibu Berbagi Bijak, bukan Ibu Bijak Berbagi karena saya juga nggak ngeh kenapa. Nggak apa-apa, yang penting niatnya ya ibu-ibu. Jangan kebanyakan jadi grammar nazi, karena yang dibagi memang info-info Bijak beneran!

    Jujur awalnya tuh dateng saya setengah ngantuk karena baru pulang dari Bali, tapi penasaran aja pengen dengerin talkshownya Mba Prita Ghozie yang merupakan financial planner favorit temen-temen saya. Eh ternyata acaranya seru aja dong, membahas dari memulai usaha kecil buat ibu-ibu sampai seputar utang-utangan.

    Dih, topiknya saya banget kan ya? Nggak usah ditulis lagi kan yaaaa? *kemudian dikeplak ibu-ibu se-Indonesia raya yang udah ngescroll sejauh ini, ya bhaiikkk*

    Ibu-ibu dan Wirausahawati Itu Nggak Semudah Keliatannya



    Ih iya, jujur ini saya banget. Meski latar belakang keluarga emang pengusaha dan akuntan, tapi jujur nih literasi keuangan saya nggak begitu bagus. Dulu tuh, saya sampe harus titipin uang sekecil apapun ke mama buat dikelolain gimana-gimananya soalnya kalo saya pegang sendiri auto habis.

    Nah ternyata menurut Pak Riko Abdurrahman dari Visa Indonesia, emang ada penelitian kalo tingkat literasi keuangan ibu-ibu di Indonesia itu cuma sekitar 25% kalah sama laki-laki yang 35%nya sudah terpapar literasi keuangan. Padahal kan ya sebagai menteri keuangan dalam negeri nih, ibu-ibu punya peran yang penting dalam mengelola keuangan.

    Tapi kalo dipikir-pikir ya iya juga sih, secara kalo saya lagi bahas topik berhemat dan menabung itu rame banget isinya dengan sesama emak-emak yang minta tips mengelola keuangan. Mungkin bener sih ya harusnya literasi keuangan ini masuk ke kurikulum pendidikan dibanding sama rumus-rumus kimia yang... ah sudahlah (anaknya emang nggak suka kimia gengs, mohon maaf ya)

    Nah Mbak Prita juga bilang loh, jadi biasanya sih kebanyakan ibu-ibu menjadi wirausaha supaya bisa fokus dengan urusan rumah kan ya? Masalahnya menjadi wirausahawati itu sebenernya makan banyak tenaga. Kalo udah menyebut diri sebagai pengusaha berarti mau gamau harus mengusahakan daaaaannnn HARUS PROFIT!!!

    Yaiyalah masa udah cape-cape usaha nggak profit juga? Kan betein banget ya.

    Nah bagaimana caranya biar tahu udah profit apa belum? Ya harus jelas pemasukan dan pengeluarannya. Cara gampangnya dicatat, ya ala-ala Certified Financial Analyst gitu lah. Kebanyakan sih sekarang masih jadi Certified Feeling Analyst ya kan? Ada Saldo di rekening udah happy kan?

    Padahal kalo usaha nih, duit pribadi dan duit usaha udah harus dipisah nih, enggak boleh digabung jadi satu. Kalo digabung nanti kan nggak jelas tuh udah profit apa belom. Nah disinilah pentingnya catatan keuangan

    Kalian Nyatat Pemasukan dan Pengeluaran Kalian Nggak Sih?



    Ini pertanyaan yang selalu saya ajukan ke followers saya kalau lagi ngebahas keuangan di instastory. Mba Prita juga menanyakan pertanyaaan yang sama ke hadirin yang lain loh. Sebenarnya kalian mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan detil nggak sih?

    Nah menurut Mba Prita, sebaiknya kita selalu mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan baik, kalau perlu bikin laporan keuangan yang annual. Kalau dulu Ibu saya selalu mengajari untuk membuat laporan keuangan pribadi tiap 3 bulan sekali lengkap dengan neraca untung ruginya, cuma berhubung saya blogger jelata dan DUCKOFYORK penghasilannya nggak seberapa banyak *curhat* jadi saya bikin laporan keuangan gedenya tetep setahun sekali.

    Terus menurut Mba Prita, bahkan di perusahaan gede sekalipun, selevel CEO pun masih menerima gaji. Jadi ngga semua profit langsung ujug-ujug masuk ke kantong CEO ya, melainkan tetep gajian tiap bulannya. Profit jadi bisa diputar ulang untuk ekspansi usaha lainnya.

    Jadi tetep ya buibu, nyatet keuangan itu penting banget supaya bagi-bagi duitnya jelas. Namanya pengusaha ya HARUS mengusahakan biar usahanya jalan terus, jangan cuma duduk-duduk nunggu terus.

    Mencatat Keuangan dan Menyiapkan Anggaran



    Meski bukan pengusaha tapi ibu ibu teteupppp wajib banget mencatat keuangan ya. Fungsi Catatan Keuangan itu sebenernya banyak banget. Selain mempermudah kita untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran, catatan keuangan itu juga mempermudah kita kalau mau merencanakan anggaran.

    Lho apa hubungannya catatan keuangan dengan anggaran?

    Mba Prita selalu menekankan: Nabung diawal baru gunakan uangnya, jangan nabung dari sisa uang. Ini bener banget sih. Dengan memaksa menabung diawal, kita mau gak mau jadi punya simpanan uang untuk kedepannya. Ini saya juga masih sering missed sih, jadi kadang duit tabungan kepake juga untuk hal-hal yang receh seperti gofood bakso tusuk senilai tiga ratus ribu rupiah

    Tapi bukan berarti ya, nabung terus ngga bisa hura-hura, enggak. Sekarang tuh zaman udah maju, mau nabung atau investasi nggak perlu duit gede. Buktinya di pegadaian dan marketplace e-commerce udah banyak yang nawarin tabungan logam mulia dengan saldo mulai 10 ribu rupiah aja. Kecil-kecil tapi kalo tiap hari dijabanin ya lumayan juga.

    Sebagai contoh nih, dulu waktu pertama duckofyork mau ekspansi beli lensa dll, saya nggak ngopi ataupun pergi ke cafe lucu-lucu (selain untuk meeting kerjaan ya) dan uangnya saya masukin reksadana. Jadi tiap ada impulse buat nongkrong lucu tanpa tujuan, duitnya langsung saya transfer ke rekening reksadana. Lumayan loh, seminggu 100 - 200 ribu aja dalam sebulan udah jadi berapa kan?

    Terus abis itu kalo mau meeting seputar kerjaan atau ngerjain blogpost di cafe gitu ongkosnya saya potong dari fee. LOL. work expense jadinya.

    Sebenernya ya bisa aja kalo saya mau nyicil kan? Tinggal lihat aja apakah cicilannya bisa kebayar dengan kondisi keuangan saya yang bisa dilihat dari catatan keuangan itu. Waktu itu, saya sampai di suatu keputusan bahwa kalo saya nyicil, saya ga bisa bayar karena masih harus bayar expenses ini itu.

    Nah saya nggak akan bisa tracking hal-hal kecil seperti itu tanpa catatan keuangan yang jelas kan? Makanya penting untuk mencatat keuangan kita. Ini cuma contoh kecil aja, kalau kalian misalnya mau ambil KPR atau cicilan mobil, kalian bisa ngelihat pengeluaran kalian dari catatan keuangan. Jangan sampe karena cicilan nih, kalian jadi nggak bisa have fun dan memanjakan diri kalian sendiri juga.

    ((sampe sini kalo ada yang ngeyel ngomong ah gue gapapa kok gak have fun demi cicilan ini itu bakal saya ketawain ya, karena plis deh tingkat stress kehidupan yang fana ini udah cukup tinggi tanpa perlu diembel-embelin pake kengototan duniawi))

    Tapi nggak semua cicilan itu jelek lho ya! Kata Mba Prita, cicilan yang baik itu adalah cicilan yang emang kita butuh dan bisa kita bayar. Yang nggak baik itu kalo kebanyakan cicilan untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif apalagi kalo nilai barangnya turun terus misalnya aja kayak gadget gitu. Yaaaa... dikurang-kurangin lah gengs. 

    Nah terinspirasi dari buku catatan keuangan milik Bu Bijak Berbagi, saya jadi mau berbagi freebies nih! Buat kalian yang juga pengen memulai catatan keuangan, saya akan berbagi printables catatan keuangan sederhana seperti yang ada di Buku Catatan Keuangan Keuangan Bu Bijak berbagi!



    Simpel sih ya, kalian boleh perbanyak sendiri lembaran catatan keuangan sederhana yang aku bikin. Ada 2 jenis yaitu pemasukan dan pengeluaran. Tinggal kalian print atau langsung coret-coret digital aja disitu kalau kalian pake digital planner! Gampang kan?

    Kalian bisa Download Printables Catatan Keuangan Sederhana Gratis Disini!

    Sebenernya nih masih banyak obrolan seru dari Mbak Prita + informasi menarik lainnya dari buku saku Ibu Berbagi Bijak yang saya dapet selepas acara ini, tapi kalo kebanyakan bahasan dan topiknya kemana-mana, jadinya enggak fokus kan? Jadi ditunggu aja part 2 nya dari postingan ini.

    Enggak, semoga enggak wacana kok. Tolong dibantu kalo wacana lagi, dicolek aja via DM Instagram ya. See you gengs dan jangan lupa catat pengeluaran dan pemasukan kalian dengan detail yaaaa!

    Weekend gini enaknya ngomongin soal duit, mumpung masih awal bulan ya kaaaaannn... masih banyak duit ya kan.... *kemudian disambut dengan raungan amarah netizen yang baru aja ngabisin 1/2 gaji buat bayar cicilan dan tagihan*
    Ngga apa-apa gengs, saya paham kok. Saya juga pernah ngerasain gali lobang tutup lobang demi membayar laptop yang baru lunas setelah setaun lulus kuliah. Hidup memang kejaaaa~m. 

    Sekarang sih saya personally mengurangi banget yang namanya cicilan atau utang karena pelit aja nggak mau keluar 8 juta untuk barang seharga 5 juta. Tapi kan nggak semua orang bisa kaya begitu ya. Bisa aja ada kondisi yang mengharuskan dia untuk nyicil atau ngutang dulu gitu, dan kita ngga bisa ngejudge kecuali emang dia ngga mau bayar utang.

    Nah kemarin kan saya datang tuh ke acara salah satu inisiatifnya Visa yaitu "Ibu Berbagi Bijak". Jangan tanya saya kenapa namanya Ibu Berbagi Bijak, bukan Ibu Bijak Berbagi karena saya juga nggak ngeh kenapa. Nggak apa-apa, yang penting niatnya ya ibu-ibu. Jangan kebanyakan jadi grammar nazi, karena yang dibagi memang info-info Bijak beneran!

    Jujur awalnya tuh dateng saya setengah ngantuk karena baru pulang dari Bali, tapi penasaran aja pengen dengerin talkshownya Mba Prita Ghozie yang merupakan financial planner favorit temen-temen saya. Eh ternyata acaranya seru aja dong, membahas dari memulai usaha kecil buat ibu-ibu sampai seputar utang-utangan.

    Dih, topiknya saya banget kan ya? Nggak usah ditulis lagi kan yaaaa? *kemudian dikeplak ibu-ibu se-Indonesia raya yang udah ngescroll sejauh ini, ya bhaiikkk*

    Ibu-ibu dan Wirausahawati Itu Nggak Semudah Keliatannya



    Ih iya, jujur ini saya banget. Meski latar belakang keluarga emang pengusaha dan akuntan, tapi jujur nih literasi keuangan saya nggak begitu bagus. Dulu tuh, saya sampe harus titipin uang sekecil apapun ke mama buat dikelolain gimana-gimananya soalnya kalo saya pegang sendiri auto habis.

    Nah ternyata menurut Pak Riko Abdurrahman dari Visa Indonesia, emang ada penelitian kalo tingkat literasi keuangan ibu-ibu di Indonesia itu cuma sekitar 25% kalah sama laki-laki yang 35%nya sudah terpapar literasi keuangan. Padahal kan ya sebagai menteri keuangan dalam negeri nih, ibu-ibu punya peran yang penting dalam mengelola keuangan.

    Tapi kalo dipikir-pikir ya iya juga sih, secara kalo saya lagi bahas topik berhemat dan menabung itu rame banget isinya dengan sesama emak-emak yang minta tips mengelola keuangan. Mungkin bener sih ya harusnya literasi keuangan ini masuk ke kurikulum pendidikan dibanding sama rumus-rumus kimia yang... ah sudahlah (anaknya emang nggak suka kimia gengs, mohon maaf ya)

    Nah Mbak Prita juga bilang loh, jadi biasanya sih kebanyakan ibu-ibu menjadi wirausaha supaya bisa fokus dengan urusan rumah kan ya? Masalahnya menjadi wirausahawati itu sebenernya makan banyak tenaga. Kalo udah menyebut diri sebagai pengusaha berarti mau gamau harus mengusahakan daaaaannnn HARUS PROFIT!!!

    Yaiyalah masa udah cape-cape usaha nggak profit juga? Kan betein banget ya.

    Nah bagaimana caranya biar tahu udah profit apa belum? Ya harus jelas pemasukan dan pengeluarannya. Cara gampangnya dicatat, ya ala-ala Certified Financial Analyst gitu lah. Kebanyakan sih sekarang masih jadi Certified Feeling Analyst ya kan? Ada Saldo di rekening udah happy kan?

    Padahal kalo usaha nih, duit pribadi dan duit usaha udah harus dipisah nih, enggak boleh digabung jadi satu. Kalo digabung nanti kan nggak jelas tuh udah profit apa belom. Nah disinilah pentingnya catatan keuangan

    Kalian Nyatat Pemasukan dan Pengeluaran Kalian Nggak Sih?



    Ini pertanyaan yang selalu saya ajukan ke followers saya kalau lagi ngebahas keuangan di instastory. Mba Prita juga menanyakan pertanyaaan yang sama ke hadirin yang lain loh. Sebenarnya kalian mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan detil nggak sih?

    Nah menurut Mba Prita, sebaiknya kita selalu mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan baik, kalau perlu bikin laporan keuangan yang annual. Kalau dulu Ibu saya selalu mengajari untuk membuat laporan keuangan pribadi tiap 3 bulan sekali lengkap dengan neraca untung ruginya, cuma berhubung saya blogger jelata dan DUCKOFYORK penghasilannya nggak seberapa banyak *curhat* jadi saya bikin laporan keuangan gedenya tetep setahun sekali.

    Terus menurut Mba Prita, bahkan di perusahaan gede sekalipun, selevel CEO pun masih menerima gaji. Jadi ngga semua profit langsung ujug-ujug masuk ke kantong CEO ya, melainkan tetep gajian tiap bulannya. Profit jadi bisa diputar ulang untuk ekspansi usaha lainnya.

    Jadi tetep ya buibu, nyatet keuangan itu penting banget supaya bagi-bagi duitnya jelas. Namanya pengusaha ya HARUS mengusahakan biar usahanya jalan terus, jangan cuma duduk-duduk nunggu terus.

    Mencatat Keuangan dan Menyiapkan Anggaran



    Meski bukan pengusaha tapi ibu ibu teteupppp wajib banget mencatat keuangan ya. Fungsi Catatan Keuangan itu sebenernya banyak banget. Selain mempermudah kita untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran, catatan keuangan itu juga mempermudah kita kalau mau merencanakan anggaran.

    Lho apa hubungannya catatan keuangan dengan anggaran?

    Mba Prita selalu menekankan: Nabung diawal baru gunakan uangnya, jangan nabung dari sisa uang. Ini bener banget sih. Dengan memaksa menabung diawal, kita mau gak mau jadi punya simpanan uang untuk kedepannya. Ini saya juga masih sering missed sih, jadi kadang duit tabungan kepake juga untuk hal-hal yang receh seperti gofood bakso tusuk senilai tiga ratus ribu rupiah

    Tapi bukan berarti ya, nabung terus ngga bisa hura-hura, enggak. Sekarang tuh zaman udah maju, mau nabung atau investasi nggak perlu duit gede. Buktinya di pegadaian dan marketplace e-commerce udah banyak yang nawarin tabungan logam mulia dengan saldo mulai 10 ribu rupiah aja. Kecil-kecil tapi kalo tiap hari dijabanin ya lumayan juga.

    Sebagai contoh nih, dulu waktu pertama duckofyork mau ekspansi beli lensa dll, saya nggak ngopi ataupun pergi ke cafe lucu-lucu (selain untuk meeting kerjaan ya) dan uangnya saya masukin reksadana. Jadi tiap ada impulse buat nongkrong lucu tanpa tujuan, duitnya langsung saya transfer ke rekening reksadana. Lumayan loh, seminggu 100 - 200 ribu aja dalam sebulan udah jadi berapa kan?

    Terus abis itu kalo mau meeting seputar kerjaan atau ngerjain blogpost di cafe gitu ongkosnya saya potong dari fee. LOL. work expense jadinya.

    Sebenernya ya bisa aja kalo saya mau nyicil kan? Tinggal lihat aja apakah cicilannya bisa kebayar dengan kondisi keuangan saya yang bisa dilihat dari catatan keuangan itu. Waktu itu, saya sampai di suatu keputusan bahwa kalo saya nyicil, saya ga bisa bayar karena masih harus bayar expenses ini itu.

    Nah saya nggak akan bisa tracking hal-hal kecil seperti itu tanpa catatan keuangan yang jelas kan? Makanya penting untuk mencatat keuangan kita. Ini cuma contoh kecil aja, kalau kalian misalnya mau ambil KPR atau cicilan mobil, kalian bisa ngelihat pengeluaran kalian dari catatan keuangan. Jangan sampe karena cicilan nih, kalian jadi nggak bisa have fun dan memanjakan diri kalian sendiri juga.

    ((sampe sini kalo ada yang ngeyel ngomong ah gue gapapa kok gak have fun demi cicilan ini itu bakal saya ketawain ya, karena plis deh tingkat stress kehidupan yang fana ini udah cukup tinggi tanpa perlu diembel-embelin pake kengototan duniawi))

    Tapi nggak semua cicilan itu jelek lho ya! Kata Mba Prita, cicilan yang baik itu adalah cicilan yang emang kita butuh dan bisa kita bayar. Yang nggak baik itu kalo kebanyakan cicilan untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif apalagi kalo nilai barangnya turun terus misalnya aja kayak gadget gitu. Yaaaa... dikurang-kurangin lah gengs. 

    Nah terinspirasi dari buku catatan keuangan milik Bu Bijak Berbagi, saya jadi mau berbagi freebies nih! Buat kalian yang juga pengen memulai catatan keuangan, saya akan berbagi printables catatan keuangan sederhana seperti yang ada di Buku Catatan Keuangan Keuangan Bu Bijak berbagi!



    Simpel sih ya, kalian boleh perbanyak sendiri lembaran catatan keuangan sederhana yang aku bikin. Ada 2 jenis yaitu pemasukan dan pengeluaran. Tinggal kalian print atau langsung coret-coret digital aja disitu kalau kalian pake digital planner! Gampang kan?

    Kalian bisa Download Printables Catatan Keuangan Sederhana Gratis Disini!

    Sebenernya nih masih banyak obrolan seru dari Mbak Prita + informasi menarik lainnya dari buku saku Ibu Berbagi Bijak yang saya dapet selepas acara ini, tapi kalo kebanyakan bahasan dan topiknya kemana-mana, jadinya enggak fokus kan? Jadi ditunggu aja part 2 nya dari postingan ini.

    Enggak, semoga enggak wacana kok. Tolong dibantu kalo wacana lagi, dicolek aja via DM Instagram ya. See you gengs dan jangan lupa catat pengeluaran dan pemasukan kalian dengan detail yaaaa!
    . Sabtu, 07 September 2019 .

    4 komentar

    1. Kalo istriku wala bulan ini sudah mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran keuangan. Tapi lewat aplikasi di HP gitu entahlah apa namanya.

      Baru masuk hari ke sembilan langsung kaget ternyata pengeluaran kita terbulang cukup besar.

      Mulai sekarang Harus belajar menghemat. Jangan beli sesuatu kalau ga penting pentung banget :v

      BalasHapus
    2. Assalamualaikum Maemunah,

      Bakso tusuk 10 rebong aja udah kenyang bets, MASAK SAMPE 300 REBONG SIH HEY.

      Etapi siapa tau ada hajat dan borong sampe segitu, who knows yha.

      BalasHapus
    3. Assalamualaikum..

      Salam ukwah dari saya untuk anda..

      Jom follow blog saya iya seo dan


      Tinggalkan komen dan saya akan cuba membalas komen anda..

      Saya akan berusaha membalas kunjungan anda jika berkesempatan..

      Komen yang baik2 sahaja ye..

      Semoga ikatan ukhwah kita akan berterusan..

      Terima kasih sekali lagi..ya

      BalasHapus

    popular posts

    IBX5B00F39DDBE69