• about me
  • menu
  • categories
  • Agi Tiara Pranoto

    Agi Tiara Pranoto

    Seorang Blogger Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Selain menulis, dia juga sangat hobi main PUBG Mobile. Cita-citanya adalah mendapatkan passive income sehingga tidak perlu bekerja di kantor, apa daya selama cita-cita itu belum tercapai, dia harus menikmati hari-harinya sebagai manajer sebuah penginapan syariah dan content manager sebuah clothing line

    Kampung Ketandan Malioboro, Pecinannya Yogyakarta


    Apa sih yang terlintas di benak kalian kalo ngomongin Malioboro? Mungkin belanja oleh-oleh? Mirota? Pasar Beringharjo? Lupis viral yang dimakan Lee Seung Gi?

    Kalian tahu nggak kalo di Malioboro, Jogja ada Chinatown alias Pecinan? Itu loh, yang kemarin fotonya viral karena dikira di Shanghai xixixixi. Kalau belum tahu, sini aku ceritain. Siapa tahu besok kalau lagi jalan-jalan ke Malioboro jadi kepikiran buat kesini kan? 

    Sebelum cerita soal Pecinan di Malioboro, saya cerita soal Malioboronya dulu yah, biar ada gambaran dikit kenapa bisa tetiba ada Chinatown ditengah-tengah kota Jogja. 


    Malioboro ini emang semacam business district-nya Jogja di masa lampau. Ada yang bilang nama Malioboro berasal dari bahasa sansekerta yaitu "karangan bunga" tapi ada juga yang bilang kalau namanya berasal dari nama pejabat Inggris yang dulu tinggal disitu yaitu Malborough.

    Lokasi Malioboro ini emang strategis banget, ibarat kata persis ditengah-tengah Jogja. Konon Jalan Malioboro ini termasuk sumbu porosnya jogja yang menghubungkan antara laut pantai selatan dan gunung merapi. Jadi kalo ditarik garis lurus nih, bakal ada jalur lurus dari Pantai Selatan - Keraton - Tugu - Gunung Merapi. Nah Malioboro ini menghubungkan antara Tugu dan Keraton.

    Nah, karena dulunya pusat pemerintahan dan perdagangan (sampe sekarang juga sih, cuma agak beralihfungsi ya bok, dari perdagangan komoditas primer ke perdagangan oleh-oleh), jadi banyak banget etnis yang bercampur baur di daerah Malioboro, salah satunya etnis Tionghoa.

    Konon sih, dulu sekitar tahun 1800-an ada Kapiten yang hijrah dari Karesidenan Kedu ke Yogyakarta, yaitu Kapiten Tan Djing Sin. Karena kiprahnya yang luar biasa, Kapiten Tan Djing Sin kemudian menikah dengan kerabat keraton dan akhirnya menjadi keluarga keraton. Oleh Keraton, beliau diberikan tanah di daerah Malioboro yang sekarang menjadi kampung Ketandan. 

    Kampung Ketandan, Malioboro, Yogyakarta



    Meski perlahan tergusur modernisasi, beberapa rumah di kampung ketandan tetap mempertahankan ciri arsitektur khas peranakan dengan pintu panel kayu berwarna merah atau telur asin. Tembok-tembok tinggi minim jendela khas ruko pecinan menjulang di setiap lorongnya. Ada juga beberapa sudut tembok yang dicat dengan warna kuning dan emas, khas chinatown.

    Hanya saja, kalau diperhatikan baik-baik, kebanyakan rumah disini sudah beralihfungsi menjadi toko. Kenapa begitu? Karena kebanyakan orang Tionghoa di Jogja sudah menyebar tempat tinggalnya mengingat harga tanah yang bikin nangis darah *curhat_mode_on* dan karena ada semacam aturan dari Keraton bahwa orang Tionghoa di jogja ngga boleh punya Sertifikat Hak Milik Tanah, bolehnya pake hak guna bangunan aja.

    Tapi pindahnya nggak jauh-jauh kok, masih banyak keluarga Tionghoa di Jogja yang tinggal di daerah sekitar Jl. Malioboro yaitu di daerah Pajeksan, Ngupasan, Beskalan, Pathuk dan sekitarnya. Bahkan udah banyak juga yang berasimilasi alias menikah dengan warga lokal. 

    Jadi Jogja itu aslinya diverse alias Bhinneka banget ya pembacaku yang budiman dan budiwoman, jangan dipikir Jogja itu isinya orang jawaaaaa doang, karena jaman dulu aja prajurit bugis yang bantuin keraton jogja dikasi tempat tinggal di daerah Bugisan hihihi. 

    Balik lagi ke kampung Ketandan. Karena jalanan di Jogja yang terhubung satu sama lain, kalian bisa masuk ke kampung ketandan ini dari mana-mana. Kalau gapura utamanya terletak di tenggara jalan Malioboro yang ada Gapura Merah bernuansa oriental gedeeee banget disamping toko Ramayana. 

    Kalo kalian datang dari arah Mall Malioboro, kalian jalan aja terus di jalurnya Mall Malioboro sampe ketemu Gapuranya di kiri jalan. Nggak mungkin kelewat karena emang gapuranya segede itu, kecuali kalian jalannya asik sambil liatin Toko Liman atau Mirota Batik di seberang jalan.

    Selain dari Mall Malioboro, kalian juga bisa masuk dari arah utara Pasar Beringharjo yang berbatasan dengan Supermarket Progo. Kan ada jalan kecil tuh disamping pintu masuk Parkiran Pasar Beringharjo yang di lantai atas? Nah kalian ikutin aja jalan tersebut sampai ketemu deretan toko emas. Itu udah masuk Daerah Ketandan. 

    Selain itu ada juga jalan tembus dari arah Hotel Melia/DPRD Kota Jogja, tapi aku agak lupa-lupa inget jalan persisnya. Kalo dari Hotel Melia sih jalan aja lurus ke arah malioboro nanti nemu kok gang tembusannya ke arah Kampung Ketandan.

    Sehari-hari di Ketandan sih sebenernya biasa aja ya, ada warung makan, ada toko kelontong warga, dan ada beberapa toko emas--tapi kalau bulan Januari atau Februari menjelang dan sesudah imlek baru deh Kampung Ketandan ini rame.

    Kalau kalian datengnya pas hari biasa, masih bisa kok selfie didepan tembok kuning ikoniknya Kampung Ketandan hihihi.

    Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Ketandan



    Biasanya tiap tahun menjelang tahun baru china alias imlek alias sincia, di Ketandan digelar Pasar Rakyat dan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta alias PBTY. Nantinya sepanjang jalan ketandan sampai ke gang-gang kecilnya bakal dipenuhi dengan stand-stand makanan dan acara kebudayaan Tionghoa.

    Tiap Tahun biasanya saya dateng sih, lumayan banyak makanan murah meriah lol.

    Bagi yang muslim jangan khawatir ya, karena vendor-vendor yang menjual masakan B2 dan yang menjual masakan yang halal dipisah. Jadi teman-teman bisa memilih jajanan yang diinginkan tanpa ragu-ragu.

    Biasanya sih menu yang dijajakan mulai dari cemilan-cemilan streetfood kaya kwecap, aneka dimsum, sate cumi, roti john yang berbau-bau masakan peranakan sampai masakan jawa juga ada jadi nggak cuma chinese food doang. Makan berat juga ada, dari bakmie, yammie, nasi campur, ramesan, pokoknya lengkap banget!

    Mau ikut jualan? Bisa banget, tapi biasanya slot buat jualannya cepet banget sold out nya karena memang denger-denger nih, gratis, dan emang rame banget. Biasanya infonya bakal beredar di akun-akun informasi seputar jogja sejak awal bulan Januari. 

    Biasanya acara dimulai pukul enam sore sampai jam 10-11 malam. Rame sih, ada pemilihan koko-cici jogja, atraksi barongsai dan aneka hiburan lainnya. Biasanya saya kesini buat nyari bakcang telur asin hahahaha, di Jogja ga ada yang mbikinin soalnya *kode keras sambil melirik ke nyokap*




    Buat kalian yang datang dari luar kota, jangan khawatir karena disekitaran Malioboro banyak penginapan dengan berbagai bentuk dari losmen, guesthouse, hotel dari bintang 1 sampai bintang 5 ada semua loh! Lumayan kan, bisa ditabung uangnya buat kulineran di PBTY hehehe. 

    Kalau mau booking hotel di malioboro jangan lupa pake Pegi-Pegi ya. Mulai dari Hotel murah di malioboro, Losmen Murah di malioboro sampe Guesthouse murah di Malioboro ada semua lengkap donggg! 

    Banyak promo juga di pegi-pegi setiap harinya dan semakin banyak kamu booking menggunakan pegi-pegi maka semakin banyak poin yang bisa kamu kumpulkan untuk bonus jalan-jalan dan promo lainnya :D  Makanya segera install aplikasi pegi-pegi terus kita ketemuan deh di Malioboro!

    Apa sih yang terlintas di benak kalian kalo ngomongin Malioboro? Mungkin belanja oleh-oleh? Mirota? Pasar Beringharjo? Lupis viral yang dimakan Lee Seung Gi?

    Kalian tahu nggak kalo di Malioboro, Jogja ada Chinatown alias Pecinan? Itu loh, yang kemarin fotonya viral karena dikira di Shanghai xixixixi. Kalau belum tahu, sini aku ceritain. Siapa tahu besok kalau lagi jalan-jalan ke Malioboro jadi kepikiran buat kesini kan? 

    Sebelum cerita soal Pecinan di Malioboro, saya cerita soal Malioboronya dulu yah, biar ada gambaran dikit kenapa bisa tetiba ada Chinatown ditengah-tengah kota Jogja. 


    Malioboro ini emang semacam business district-nya Jogja di masa lampau. Ada yang bilang nama Malioboro berasal dari bahasa sansekerta yaitu "karangan bunga" tapi ada juga yang bilang kalau namanya berasal dari nama pejabat Inggris yang dulu tinggal disitu yaitu Malborough.

    Lokasi Malioboro ini emang strategis banget, ibarat kata persis ditengah-tengah Jogja. Konon Jalan Malioboro ini termasuk sumbu porosnya jogja yang menghubungkan antara laut pantai selatan dan gunung merapi. Jadi kalo ditarik garis lurus nih, bakal ada jalur lurus dari Pantai Selatan - Keraton - Tugu - Gunung Merapi. Nah Malioboro ini menghubungkan antara Tugu dan Keraton.

    Nah, karena dulunya pusat pemerintahan dan perdagangan (sampe sekarang juga sih, cuma agak beralihfungsi ya bok, dari perdagangan komoditas primer ke perdagangan oleh-oleh), jadi banyak banget etnis yang bercampur baur di daerah Malioboro, salah satunya etnis Tionghoa.

    Konon sih, dulu sekitar tahun 1800-an ada Kapiten yang hijrah dari Karesidenan Kedu ke Yogyakarta, yaitu Kapiten Tan Djing Sin. Karena kiprahnya yang luar biasa, Kapiten Tan Djing Sin kemudian menikah dengan kerabat keraton dan akhirnya menjadi keluarga keraton. Oleh Keraton, beliau diberikan tanah di daerah Malioboro yang sekarang menjadi kampung Ketandan. 

    Kampung Ketandan, Malioboro, Yogyakarta



    Meski perlahan tergusur modernisasi, beberapa rumah di kampung ketandan tetap mempertahankan ciri arsitektur khas peranakan dengan pintu panel kayu berwarna merah atau telur asin. Tembok-tembok tinggi minim jendela khas ruko pecinan menjulang di setiap lorongnya. Ada juga beberapa sudut tembok yang dicat dengan warna kuning dan emas, khas chinatown.

    Hanya saja, kalau diperhatikan baik-baik, kebanyakan rumah disini sudah beralihfungsi menjadi toko. Kenapa begitu? Karena kebanyakan orang Tionghoa di Jogja sudah menyebar tempat tinggalnya mengingat harga tanah yang bikin nangis darah *curhat_mode_on* dan karena ada semacam aturan dari Keraton bahwa orang Tionghoa di jogja ngga boleh punya Sertifikat Hak Milik Tanah, bolehnya pake hak guna bangunan aja.

    Tapi pindahnya nggak jauh-jauh kok, masih banyak keluarga Tionghoa di Jogja yang tinggal di daerah sekitar Jl. Malioboro yaitu di daerah Pajeksan, Ngupasan, Beskalan, Pathuk dan sekitarnya. Bahkan udah banyak juga yang berasimilasi alias menikah dengan warga lokal. 

    Jadi Jogja itu aslinya diverse alias Bhinneka banget ya pembacaku yang budiman dan budiwoman, jangan dipikir Jogja itu isinya orang jawaaaaa doang, karena jaman dulu aja prajurit bugis yang bantuin keraton jogja dikasi tempat tinggal di daerah Bugisan hihihi. 

    Balik lagi ke kampung Ketandan. Karena jalanan di Jogja yang terhubung satu sama lain, kalian bisa masuk ke kampung ketandan ini dari mana-mana. Kalau gapura utamanya terletak di tenggara jalan Malioboro yang ada Gapura Merah bernuansa oriental gedeeee banget disamping toko Ramayana. 

    Kalo kalian datang dari arah Mall Malioboro, kalian jalan aja terus di jalurnya Mall Malioboro sampe ketemu Gapuranya di kiri jalan. Nggak mungkin kelewat karena emang gapuranya segede itu, kecuali kalian jalannya asik sambil liatin Toko Liman atau Mirota Batik di seberang jalan.

    Selain dari Mall Malioboro, kalian juga bisa masuk dari arah utara Pasar Beringharjo yang berbatasan dengan Supermarket Progo. Kan ada jalan kecil tuh disamping pintu masuk Parkiran Pasar Beringharjo yang di lantai atas? Nah kalian ikutin aja jalan tersebut sampai ketemu deretan toko emas. Itu udah masuk Daerah Ketandan. 

    Selain itu ada juga jalan tembus dari arah Hotel Melia/DPRD Kota Jogja, tapi aku agak lupa-lupa inget jalan persisnya. Kalo dari Hotel Melia sih jalan aja lurus ke arah malioboro nanti nemu kok gang tembusannya ke arah Kampung Ketandan.

    Sehari-hari di Ketandan sih sebenernya biasa aja ya, ada warung makan, ada toko kelontong warga, dan ada beberapa toko emas--tapi kalau bulan Januari atau Februari menjelang dan sesudah imlek baru deh Kampung Ketandan ini rame.

    Kalau kalian datengnya pas hari biasa, masih bisa kok selfie didepan tembok kuning ikoniknya Kampung Ketandan hihihi.

    Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Ketandan



    Biasanya tiap tahun menjelang tahun baru china alias imlek alias sincia, di Ketandan digelar Pasar Rakyat dan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta alias PBTY. Nantinya sepanjang jalan ketandan sampai ke gang-gang kecilnya bakal dipenuhi dengan stand-stand makanan dan acara kebudayaan Tionghoa.

    Tiap Tahun biasanya saya dateng sih, lumayan banyak makanan murah meriah lol.

    Bagi yang muslim jangan khawatir ya, karena vendor-vendor yang menjual masakan B2 dan yang menjual masakan yang halal dipisah. Jadi teman-teman bisa memilih jajanan yang diinginkan tanpa ragu-ragu.

    Biasanya sih menu yang dijajakan mulai dari cemilan-cemilan streetfood kaya kwecap, aneka dimsum, sate cumi, roti john yang berbau-bau masakan peranakan sampai masakan jawa juga ada jadi nggak cuma chinese food doang. Makan berat juga ada, dari bakmie, yammie, nasi campur, ramesan, pokoknya lengkap banget!

    Mau ikut jualan? Bisa banget, tapi biasanya slot buat jualannya cepet banget sold out nya karena memang denger-denger nih, gratis, dan emang rame banget. Biasanya infonya bakal beredar di akun-akun informasi seputar jogja sejak awal bulan Januari. 

    Biasanya acara dimulai pukul enam sore sampai jam 10-11 malam. Rame sih, ada pemilihan koko-cici jogja, atraksi barongsai dan aneka hiburan lainnya. Biasanya saya kesini buat nyari bakcang telur asin hahahaha, di Jogja ga ada yang mbikinin soalnya *kode keras sambil melirik ke nyokap*




    Buat kalian yang datang dari luar kota, jangan khawatir karena disekitaran Malioboro banyak penginapan dengan berbagai bentuk dari losmen, guesthouse, hotel dari bintang 1 sampai bintang 5 ada semua loh! Lumayan kan, bisa ditabung uangnya buat kulineran di PBTY hehehe. 

    Kalau mau booking hotel di malioboro jangan lupa pake Pegi-Pegi ya. Mulai dari Hotel murah di malioboro, Losmen Murah di malioboro sampe Guesthouse murah di Malioboro ada semua lengkap donggg! 

    Banyak promo juga di pegi-pegi setiap harinya dan semakin banyak kamu booking menggunakan pegi-pegi maka semakin banyak poin yang bisa kamu kumpulkan untuk bonus jalan-jalan dan promo lainnya :D  Makanya segera install aplikasi pegi-pegi terus kita ketemuan deh di Malioboro!
    . Kamis, 05 September 2019 .

    2 komentar

    1. Sayangkuuu, kapan jelong-jelong ke ketandan lagi???
      *Maksudnya aku mau ikot gitu

      BalasHapus

    popular posts

    IBX5B00F39DDBE69