Jujur, saya paling males beres-beres dompet. Kalau kata pak suami, dompet saya itu kayak segitiga bermuda--apa aja yang masuk pasti ilang--kecuali angpao sisa imlek yang entah kenapa makin numpuk karena saya jadikan jimat. Sampai hari ini, saya merasa kalau saya punya hutang budi pada guru akutansi saya jaman SMP (Hai Bu Kris!) dan SMA (Hai Pak Dendy!) karena tanpa mereka, mungkin sekarang saya akan jadi orang ter-gak-tau-duit-gue-lari-kemana. Yes, I log all of my expenses, company accountant style!
Mungkin, karena saya malas kalo liat dompet saya penuh berisi tumpukan uang receh (ya, uang receh karena langka sekali saya bawa pecahan 100 ribuan semenjak tinggal di Jogja), makanya saya lebih memilih membawa debit card, prepaid card atau credit card kemana-mana. Alasannya simpel, saya tau uangnya lari kemana!
Lho, iya kan? kalau pake uang elektronik, kita tinggal cek saja rekening kita dengan berbagai aplikasi yang tersedia--ngeceknya bisa lewat handphone pula. Kan praktis? Coba kalau pake uang kertas, masa makan angkringan minta nota? yekeles!
Lebih lanjutnya lagi, sebagai orang yang selalu berusaha untuk stay organized--walaupun lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya--saya itu selalu lupa habis ngeluarin berapa, dimana, dan buat apa. Hal ini diperparah dengan belanja-belanja yang ada nilai nominal desimalnya. Seriously, siapa sih yang punya pecahan 28.214 rupiah untuk beli deodoran? siapaaaa???? *gedor pintu kaca minimarket yang buka 24 jam*
Hal ini berubah setelah saya tinggal di Jogja, dimana uang cash adalah primadona--lebih tepatnya uang cash dengan nominal dibawah 50 ribu rupiah, karena makanan disini murah-murah syekaliiii (meskipun sekarang udah agak mahal--terimakasih inflasi *mendelik-delikkan mata dengan sinis dan sarkastis ala neneknya tapasya*) Semenjak di Jogja saya sudah ganti dompet 10 kali! 10 kali saudara-saudaraaaaa!!!! Padahal di Jakarta saya paling males gonta ganti dompet.
ganti-ganti dompet ini ternyata ada korelasinya dengan si isi dompet yang kemana-mana. Saya cenderung memasukkan semuanya ke dompet, dari uang, nota, receh, foto, kartu member ini itu. Duh dompet, maafkan aku yanghoarding impulsif bin abusive ini *sambil nangis dipojokan*
oleh karena itu, saya menemukan sebuah cara untuk mengontrol si isi dompet. Jadi, selain membuat si dompet lebih rapi, pengeluaran kita jadi lebih terkontrol juga. Penasaran? Cus yuk disimak!
ganti-ganti dompet ini ternyata ada korelasinya dengan si isi dompet yang kemana-mana. Saya cenderung memasukkan semuanya ke dompet, dari uang, nota, receh, foto, kartu member ini itu. Duh dompet, maafkan aku yang
oleh karena itu, saya menemukan sebuah cara untuk mengontrol si isi dompet. Jadi, selain membuat si dompet lebih rapi, pengeluaran kita jadi lebih terkontrol juga. Penasaran? Cus yuk disimak!
.
Kamis, 27 Oktober 2016
.
A How To Series /
finance /
keuangan keluarga





