• about me
  • menu
  • categories
  • Agi Tiara Pranoto

    Agi Tiara Pranoto

    Seorang Blogger Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Selain menulis, dia juga sangat hobi bermain game FPS. Cita-citanya adalah mendapatkan passive income sehingga tidak perlu bekerja di kantor, apa daya selama cita-cita itu belum tercapai, dia harus menikmati hari-harinya sebagai mediator kesehatan.
    category
    movie
    Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan

    Review Pengabdi Setan 2

    Ea, kembali lagi di review film horror yang paling ditunggu-tunggu sejuta jagat umat pengemar film horror. Kali ini saya akan mereview film paling happening Agustus 2022 yaitu Pengabdi Setan 2: Communion. 

    Ending Pengabdi Setan/Satan Slaves pertama yang saya tonton di tahun 2017 lalu bener-bener bikin saya nggak sabar nungguin Pengabdi Setan 2 ini. Pasalnya saya punya harapan Fachri Albar dan Asmara Abigail bakal memegang peran penting soal cerita kehidupan Rini, Toni, dan Bondi pasca hilangnya Ian dan tragedi di rumah lama mereka. 

    . Kamis, 04 Agustus 2022 .

    [REVIEW] Pengabdi Setan 2 - Communion (SPOILER TIPIS-TIPIS ALERT!)

    popular posts

    IBX5B00F39DDBE69
    category
    movie
    Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label movie. Tampilkan semua postingan
    . Kamis, 04 Agustus 2022 .

    Review Pengabdi Setan 2

    Ea, kembali lagi di review film horror yang paling ditunggu-tunggu sejuta jagat umat pengemar film horror. Kali ini saya akan mereview film paling happening Agustus 2022 yaitu Pengabdi Setan 2: Communion. 

    Ending Pengabdi Setan/Satan Slaves pertama yang saya tonton di tahun 2017 lalu bener-bener bikin saya nggak sabar nungguin Pengabdi Setan 2 ini. Pasalnya saya punya harapan Fachri Albar dan Asmara Abigail bakal memegang peran penting soal cerita kehidupan Rini, Toni, dan Bondi pasca hilangnya Ian dan tragedi di rumah lama mereka. 

    . Jumat, 20 Agustus 2021 .

    Rekomendasi Film Ninja Xpress

    Kalian kalau lagi cari inspirasi pas kerja darimana sih? Kalau saya biasanya suka nonton film. Yang terbaru sih saya suka banget sama beberapa film seputar bisnis dan korporasi. Buat yang suka nongkrongin Instastory saya pasti update banget saya lagi nonton apa. 

    (Clue: ceritanya soal kejahatan finansial dan bisa ditonton di netflix lol)

    Apalagi di saat PPKM yang he-em banget gini, hiburan saya ya cuma nonton film aja. Kalau udah bete dan bosen ya paling saya cuma nonton film dan main game. Belum lagi emang kondisi saya belum fit buat banyak beraktivitas. 

    Nah kemarin saya liat-liat di blog NinjaXpress ada 5 film Indonesia soal bisnis yang cocok untuk ditonton pas lagi selo. Jadi saya coba deh untuk mini-review dari film yang direkomendasikan Ninja Xpress berikut. Disimak yaaaa!

    Rekomendasi Film Indonesia Soal Bisnis



    Cek Toko Sebelah (2016)

    Film garapan Ernest Prakasa ini emang relatable di kehidupan saya yang isinya bangun, mandi, jaga toko, repeat. Gitu mulu sampe dunia tenggelam. Ungkapan cek toko sebelah ini juga sesuai dengan kehidupan jaga toko yang niscaya maha palugada. 

    Film cek toko sebelah ini bercerita soal Erwin yang harus memilih antara melanjutkan bisnis orangtuanya atau mengikuti cita-cita karirnya. Sungguh sebuah topik yang DUCKOFYORK banget kan. 

    Kalau kalian pengen tahu kehidupan sehari-hari saya pas nggak lagi jadi seleblog kurang terkenal, tonton deh Cek Toko Sebelah. Asli emang gitulah kira-kira kehidupan saya. 

    Filosofi Kopi (2015)

    Saya inget banget dulu nonton ini di bioskop 21 Ambarrukmo Plaza dan ngantri sama Angling dan Kaka cuma demi nonton Chico Jericho dan Rio Dewanto. Dua kombo cowo ganteng plus iming-iming ditraktir popcorn membuat saya rela menghabiskan malam minggu saya yang nggak ngapa-ngapain itu nonton bioskop. 

    Filosofi Kopi bercerita soal ben dan jody, sepasang sahabat yang punya kafe dan punya obsesi sama kopi--obsesi yang saya jelas nggak bisa relate karena saya tim kopi sasetan yang diseduh pake air dispenser. Nah dua orang ini terbelit hutang karena bisnisnya nggak jalan. 

    Terus mereka nyoba cari jalan keluar dengan mencari kopi terenak supaya menang lomba barista. Cheesy sih, intinya clash antara butuh uang dan idealisme. Kalau aku sendiri timnya Rio Dewanto karena uang adalah segalanya. 

    Film Filosofi Kopi ini yang bikin demam kopi dimana-mana. Bahkan habis itu para cast-nya jadi buka warung kopi dengan nama yang sama di Jogja. Sayangnya saya belom pernah kesana hahaha.


    Laundry Show (2019)

    Dulu saya pernah ngomong sama pak suami, kalo akang laundry deket rumah seganteng boy william, saya pasti bakal rajin ngelaundry kiloan. Sayangnya ternyata saya masih lemah iman karena tentu saja cuci sendiri --meski capek-- lebih hemat. 

    *pelit pangkal kaya adalah jalan ninjaku*

    Laundry Show ini adalah film yang cocok buat para budak korporat yang ingin menguj peruntungan di dunia bisnis. Sekilas bisnis laundry keliatan seperti bisnis yang receh-receh gitu kan, tapi ternyata enggak. Uki si koko-koko pemilik laundry harus merasakan jatuh bangun membangun bisnis, menghadapi persaingan, sampai menghadapi customer yang rese. 

    Meskipun sebenernya laundry show ini semi- semi komedi romantis tapi sebenernya banyak kok business lesson yang bisa diambil dari film yang satu ini. 


    Milly and Mamet (2018)

    Film yang ini merupakan spin-off dari serial Ada Apa Dengan Cinta yang bercerita soal teman-teman cinta yaitu Milly dan Mamet. Film ini sebenernya ada di netflix, tapi kalian sebenernya kan tahu saya lebih seneng film horror ketimbang film cinta-cintaan. 

    Anyways, Milly and Mamet bercerita soal Mamet yang sebenernya sudah sukses menjadi Chef, akan tetapi kemudian Mamet harus bekerja di pabrik milik keluarga Milly. Ini pilihan yang berat karena Milly sendiri sudah berkorban dengan resign dari pekerjaannya sebagai Banker setelah mereka berdua memiliki anak. 

    Cerita ini bagus ditonton sama couple yang harus milih antara keluarga atau bisnis keluarga (karena jujur aja, there's no such thing as family in business lol). Milly & Mamet sendiri cocok dijadikan tontonan bagi para keluarga baru yang masih mencari jati diri secara finansial. 


    9 Summers 10 Autumn (2013)

    Film ini klasik banget sih. Pemainnya juga Ihsan Tarore yang mana adalah gebetan saya jaman-jaman fangirling hanya dapat dilakukan di Indonesian Idol jaman dulu. Iya saya tahu kalimat barusan jebakan umur banget. 

    Bercerita soal Iwan, pemuda asal Batu, Malang, yang hidup di New York, Amerika Serikat. Iwan ini flashback ke masa lalunya, dimana keluarganya itu miskin dan hidup pas-pasan. Bapaknya Iwan pengen Iwan jadi anak yang bisa cari duit buat keluarga dan saudara-saudaranya, tapi Iwan ini pinternya ampun-ampunan. 

    Kalau kalian suka cerita-cerita motivasi yang from zero to hero 9 Summers 10 Autumn ini layak banget buat ditonton. Tapi kalau kalian orangnya bebal nggak bisa dimotivasi kaya saya, film ini juga tetap layak tonton karena ceritanya bagus.

    Intinya film ini bagus. Kalau nggak bagus nggak bakal emnang banyhak penghargaan sik, bye. 


    Rekomendasi Seputar Bisnis Hanya di Ninja Xpress

    Nah kalau kalian pengen lebih banyak rekomendasi film, channel youtube, buku dan hal-hal terkait bisnis lainnya, kalian bisa banget lho kepoin Blog Ninja Xpress! Seperti yang sebelom-sebelomnya udah pernah aku ceritain, Ninja Xpress ini punya komitmen yang luar biasa untuk memajukan UMKM di Indonesia,  mulai dari bikin Ninja Academy, Sharing session soal bisnis di channel youtubenya sampe info-info menarik soal bisnis di blog Ninja Xpress! 

    Oh ya, di masa pandemi ini, Ninja Xpress terus membantu para local business dan UMKM untuk bisa berkembang terus lho. Pokoknya Ninja Xpress ini salah satu rekan UMKM yang menurut saya cukup business-friendly dan mengerti kebutuhan para pelaku usaha kecil. 

    Jadi kalian yang mau coba bikin bisnis kecil-kecilan nggak usah ragu untuk berpartner dengan Ninja Xpress ya. Saya sering dapet pengiriman yang menggunakan Ninja Xpress dan sejauh ini selalu aman, kurirnya juga sopan. Tandatangannya pake hp pula hehehe. 

    Nah kalo dari 5 film diatas, kalian udah nonton yang mana? komen ya di bawah, biar kita bisa ngobrol lagi seputar film. 
    . Minggu, 16 Mei 2021 .

    the woman in the window review indonesia


    Selamat idul fitri gaes!! Gimana liburannya? Liburan kali ini saya gunakan untuk menonton beberapa film yang sudah lama ingin saya tonton, misalnya saja The Inerasable dan The Woman in the Window. Nah kali ini saya mau mereview The Woman in the Window terlebih dahulu karena tentu saja filmnya masih hot dan kalian pasti sedang googling reviewnya makanya nyasar kesini kan?
    *pede gila*

    Film the Woman in the Window ini dibuat berdasarkan novel yang bernama sama karangan A.J Finn. Harusnya film ini release di bioskop tapi apa daya karena pandemi akhirnya film ini bisa ditonton lewat netflix. Saya sih better kaya gini ketimbang beberapa film yang ngotot theatrical release dan akhirnya ngga bisa saya tonton *batuk*kayak theunholy*batuk

    Jadi gimana sih cerita the woman in the window ini? Sebelumnyas nonton trailernya dulu yuk biar penasaran sama film yang satu ini:

    Trailer the Woman in The Window:




    Sinopsis The Woman in The Window


    via GIPHY


    The Woman In The Window bercerita soal Anna Fox, seorang psikolog anak yang punya agoraphobia. Agoraphobia itu fobia sama tempat umum, jadi si Anna ini ga berani keluar rumah dan ngumpet di dalam rumah. 

    Wow terdengar seperti saya, tapi saya bukan agoraphobia kok, saya cuma nggak suka keramaian aja. 

    Kerjaannya Anna setiap hari cuma ngeruntel di rumah pake daster gede-gede sama teleponan bareng suami dan anaknya. Katanya Anna sama suaminya udah pisah dan anaknya ikut suaminya. Nah dari cerita-cerita Anna dan suaminya ini konon suaminya kaya suportif banget Anna bisa keluar rumah lagi. 

    Rumahnya Anna ini guwede pol, tipe-tipe rumah townhouse New York gitu lah yang gaji UMR jogja ga berani bayangin harganya berapa. Dia tinggal sama tenant-nya alias orang yang nyewa basementnya buat tinggal namanya David. Bahkan sampe buat buang sampah aja harus David yang buat sampah karena Anna bisa meninggoy kalo keluar dari rumahnya. 

    Anna ini juga bandel. Jadi karena dia psikolog, dia suka ngakal-ngakalin psikiaternya. Psikiaternya ngeresepin obat yang nggak boleh diminum sama alkohol karena ngiranya Anna udah ngga punya drinking habit. Padahal mah kerjaannya Anna ngamer muluuuuuu... dikit-dikit mabuc. Belom aja Anna ngerasain diteplak sama Pak Haji Oma Irama. 

    Nah kata psikiaternya Anna, Anna ini ada progress karena mulai curious sama kehidupan di luar rumahnya. Jadi Anna bisa ngeliat kehidupan tetangga-tetangganya dari jendela mereka. Mulai dari tetangga yang doyan bible study, tetangganya yang main terompet tiap malem, dan masih banyak lagi. 

    Untung Anna nggak kepo kenapa tetangganya banyak duit padahal di rumah doang. Untung di Amerika nggak ada babi ngepet. Untung...*ah sudahlah*

    Nah suatu hari Anna punya tetangga baru yang rumahnya PERSIS di seberang rumah dia, namanya Russell family. Keluarga Russell ini pindahnya kaya buru-buru karena rumah baru selesai di cat langsung ditinggalin. Anna udah suudzon, tapi barangkali Anna belum ngerasain kontrakan udah habis dan ngga bisa diperpanjang perbulan ya hmmm. 

    Nah anaknya keluarga Rusell, namanya Ethan, dateng ke rumah Anna nganterin hadiah buat kenalan. Anna yang psikolog anak tadinya nggak mau kenalan sama Ethan, tapi setelah ngeliat Ethan ini anak baik-baik dan keliatannya ada masalah di rumah akhirnya jadi berteman sama Ethan. 

    Nggak lama, David mau pergi ngga tau kemana dan waktu itu Halloween kan ya. Si David udah ngasih tahu kalau mendingan Anna naroh permen di depan rumah buat anak-anak itu, tapi dasar Annanya ngeyel akhirnya nggak terjadi deh tuh wacana naroh permen. Akhirnya rumahnya Anna dilemparin telor sama anak-anak itu. 

    Disini saya dengan sepenuh hati ingin berkata "yo salahmu dewe lah su!"

    Tapi si Anna marah banget rumahnya dilemparin telor dan berusaha mau keluar dari rumahnya itu. Walhasil begitu pintu kebuka, Anna langsung pingsan. Ngga diceritain gimana nasib anak-anak yang ngelemparin rumah Anna pake telor (gue yakin itu bocah-bocah kapok) karena selanjutnya bangun-bangun Anna ditolong sama Jane Russell aka ibunya Ethan. 

    Anna sama Jane ini ngobrol rame banget, Jane nunjukin foto Ethan waktu masih bayi dan ngegambar muka Anna. Pokoknya mereka berdua ngobrol seru banget sampai akhirnya mereka dadah-dadahan. Anna ini pokoknya kesengsem banget sama Jane karena Jane orangnya caur dan seru. 

    Ehhh gak lama abis Jane pulang, datenglah tuh si Bapak Alistair Russell aka bapaknya Ethan. Alistair ini orangnya keliatan nggak asik gitu jadi Anna bohong kalo keluarganya nggak ada yang dateng dari situ. Nah dari situ Anna makin kepo sama The Russell ini dan seriusan nyari tau soal kehidupan keluarga Russell. 

    via GIPHY

    Mbak Anna lagi macak street photographer tapi mager keluar rumah


    Pas lagi kepo-kepo lewat jendela, Anna ngeliat Jane keluar dari rumah Russell gitu kaya panik dan abis nangis, dia bisa liat si Pak Russell dan Ethan kayak abis berantem juga. Ngerasa ada yang ngga beres, Anna makin kepo sama kondisi keluarga Russell ini. Beberapa hari kemudian, dia ngeliat si Jane ditusuk di jendela rumah Russell. 


    Panik gak?
    Panik gak?
    Panik lah! Masa enggak!!

    Anna langsung telepon polisi, tapi karena habis minum obat dan ngamer dia jadi agak slur slur dan mumet begitu guis. Akhirnya polisi dateng juga tapi ternyata... Jane Russell masih hidup! Cuma dia beda orang sama yang pernah nolongin Anna. Bahkan Ethan pun cerita kalo ibunya belum pernah dateng ke rumah itu. Anna jadi makin stress dong. Dia percaya kalo Pak Russell ini udahlah nyiksa Ethan, ngebunuh Jane dannnn.... ngegantiin Jane Russell dengan orang lain. 

    Dari sini hidup Anna bener-bener berubah dan kita sebagai penonton jadi bertanya-tanya, sebenernya Jane ini beneran ada nggak sih? Jangan-jangan Anna cuma halusinasi aja??

    Review The Woman in The Window (2021) 

    Mau cerita dikit kalau review kali ini kayanya bakal super subyektif. Ini karena saya sendiri sudah banyak menonton dan membaca novel dengan genre serupa jadi thrill yang ditawarkan The Woman in The Window berasa kurang banget.

    Saya pertamanya skeptis kalo Anna salah. Perkaranya, semenjak Gone Girl booming, hampir semua cerita dengan unreliable narrator gini ya jalan ceritanya setipe. Kalau kalian penggemar cerita thriller dengan unreliable narrator pasti udah bisa nebak lah kira-kira gimanalah kelanjutan cerita the woman in the window ini. 

    Penggambaran Anna yang reklusif disini masih belum begitu terasa karena Anna masih outspoken dan ngobrol terus sama David, Ethan dan "Jane", sehingga thrill ketika Anna marah-marah ke detektif yang nuduh Anna bohong soal Jane juga berasa meh aja gitu. Padahal menurut saya ini adegan penting yang akan nge-shape film ini kedepannya. 

    At times, saya bingung apakah sutradaranya pengen membuat film thriller yang berasa bleak atau film thriller dengan bumbu-bumbu sinematik seperti suspiria, karena ada beberapa adegan 'warna-warni' yang kerasa begitu out of place dan ada disitu cuma sebagai pajangan supaya kita bisa mengira-ngira mental state Anna aja.

    Film ini tuh juga sebenarnya ((bertabur bintang)) tapi kok ya eksekusinya terasa meh seperti film-film thriller B-Movies hanya dengan sinematografi yang lebih bagus dan wajah yang lebih familiar. Misalnya aja Amy Adams, Julianne Moore, dan Gary Oldman. 

    Alistair yang diperankan sama Gary Oldman juga terasa kurang greget karena kemunculannya cuma sebentar dan ngomel-ngomel doang. Ini nggak tahu apakah karena beda latar belakang apa gimana but Alistair just sounded like a grumpy old man rather than someone who abuses his family. Jadi belangnya Alistair kurang kerasa, sementara kalo di Novelnya ada lebih banyak encounter antara Anna dan Alistair yang lebih bikin merinding. 

    Menurut saya plot twist yang ditawarkan oleh The Woman in the Window ini emang sebenernya kurang greget. Mungkin karena saya udah kebanyakan nonton film sejenis jadi jalan ceritanya ini berasa ketebak banget. Daripada thriller, film ini lebih berasa kaya melodrama. Bahkan scene puncak film ini masih berasa kurang menegangkan. 

    Film yang harusnya bisa berasa creepy karena perilaku Anna yang sneaky dan orang-orang di sekelilingnya yang nggak membantu sama sekali gagal bikin saya merasakan emosi para tokoh di dalam film ini. All in all saya cukup beryukur film ini rilis di Netflix dan bukan di bioskop, karena saya nggak yakin kritikus dan reviewer lain akan seforgiving ini ketika film yang udah lama ditunggu ini malah mengecewakan. 

    Buat sekedar summer movie list di Netflix, The Woman in The Window bagus banget. Cocok untuk ditonton dikala senggang dan pengen gregetan sendiri nonton perilaku kepo Anna. 

    Lesson learned dari film ini: gausah kepoin tetangga. Ribet. 

    (image: netflix/giphy)

    . Minggu, 28 Februari 2021 .

    Review Pulang (2020) / Affliction (2020)Kalau kalian mengikuti wattpad saya, pasti tau dong kalo saya tergila-gila sama horor psikologis? Jadi pas tahu Teddy Soeriatmadja bikin film horror psikologis berjudul Pulang--atau judul bahasa inggrisnya Affliction, saya langsung tertarik banget untuk nonton. 

    Secara Badai Pasti Berlalu garapan Teddy Soeriatmadja sempet bikin saya cukup terhemek-hemek, saya jadi kepo, apakah Teddy Soeriatmadja bakal se-OP itu kalo bikin film Horror? 

    Apalagi ini film di rave banget sama kebanyakan reviewer di Twitter karena konon minim jumpscare, bagus banget, mainin mood dan psikologis banget. Langsung saja saya hajar menonton film ini di Netflix. 

    disclaimer: Review ini mengandung Spoiler garis keras! Jangan baca kalau kalian belum nonton filmnya

    Plot Pulang/Affliction (2020)


    Premisnya simple, bercerita soal sepasang suami istri, Nina dan Hasan yang punya personality yang sangat berbeda. Nina yang baru saja kehilangan Ibunya, kedatangan seorang wanita dari kampung Hasan yang mengaku bahwa ia yang merawat Bundanya Hasan selama ini di Kampung. 

    Bundanya Hasan memang hidup sendirian dan punya penyakit Alzheimer yang menyebabkan Nina jadi khawatir. Muncullah wacana untuk memboyong Bundanya Hasan ke Jakarta. Masalahnya, Hasan dan ibunya seolah-olah estranged dan Hasan juga keberatan buat pulang. 

    Nina yang baru kehilangan Ibunya jadi ngotot harus pulang ke Hasan. Akhirnya Hasan dengan reluctant mengiyakan kemauan Nina. Baru sampe ke rumah Bunda, kita langsung disuguhi adegan Bunda mengendap-endap megang pisau sambil mendengar suara-suara yang gak jelas. 

    Latar belakang Bunda yang misterius dan Nina yang keponya maksimal bener-bener sukses bikin penonton jadi serius pengen tahu kenapa Bunda bisa sampe Alzheimer, kenapa perilakunya seperti itu dan ada rahasia apa di rumah itu sampai Bunda nggak bisa meninggalkan rumah tersebut. 

    Pelan-pelan kita dipaksa untuk mengikuti kisah Nina yang ((bertualang)) di rumah Bunda untuk mencari tahu soal rahasia masa lalu Bunda. 

    Tetap Rawan Plothole

    Walau sebenernya film ini punya premise yang bagus, ada banyak hal yang membuat saya kurang nyaman selama menonton film ini. 

    Yang pertama adalah karakter Ibnu Jamil/Hasan yang dicitrakan distant, workaholic, dan lain-lain. Hasan ini ceritanya adalah seorang psikolog anak. Tapi sepanjang film, kita cuma liat Hasan yang asshole bukan Hasan yang distant. 

    Beda ye, orang workaholic sama orang yang berengsek gatau waktu dan tempat. 

    Walhasil meski Hasan adalah salah satu karakter kunci dalam cerita ini, akting Ibnu Jamil jadi kerasa sinetron dan cheesy banget--apalagi ketika disandingkan dengan akting Raihaanun/Nina--yang meski kadang keponya berlebih dan nggak perlu, tapi tetap berasa emosinya. 

    Yang membuat saya kurang nyaman lagi adalah, film ini terasa ingin menduplikasi pola cerita Hereditary dimana idenya adalah hadirnya sebuah keluarga yang distressed, delusional, hingga kita nggak tahu mana yang realitas dan mana yang bukan. Sayangnya eksekusi cerita ini belum dapat memberikan slow paced horror yang diberikan oleh Hereditary. Mungkin karena setting latar ceritanya yang kurang memberikan kesan remote kepada kita semua. 

    Banyak yang bilang film ini mirip dengan Relic. Saya sendiri sudah menonton Relic dan fokus Relic kepada metafora penyakit Alzheimer dan Dementia sebenarnya 'gila' dan horror banget. Sayangnya Pulang terkesan menyuapi penontonnya, jadi penonton juga kurang bisa menyelami karakter Bunda dan penyakitnya. Bahkan fokus disini lebih banyak ke kemampuan Nina untuk ((melihat setan)) daripada ke penyakit Bunda dan penyebabnya

    Karakter anak-anak Nina sendiri terasa seperti tempelan belaka karena fokus tetap ada pada Nina dan Bunda. Padahal jika karakter anak-anak ini bisa digali lebih dalam, saya yakin Pulang bisa menjadi film yang benar-benar luar biasa. Malah ada banyak scene yang terkesan "dilambat-lambatkan" seperti adegan anaknya Nina hilang, adegan ngompol, dan lain sebagainya. 

    Rasa ngeri yang harusnya lahir dari kesan terisolasi pada film-film slow paced horror juga mendadak hilang di third act film ini. Kisah soal masa lalu Hasan dan Bunda juga tidak memberikan kengerian yang berarti. Disini saya cukup kecewa dengan adegan-adegan yang sifatnya flashback karena menurut saya akan jauh lebih seram ketika Nina yang menyusun potongan puzzlenya sendiri. 

    Mungkin karena durasi juga ya, jadi rasa horror dari Pulang kurang nempel di benak saya. typically, film-film Slow-Paced Horror seperti Pulang memang membutuhkan durasi yang panjang sedangkan Pulang sendiri memang bukan film yang panjang

    All in All...

    Teddy Soeriatmadja berusaha banget untuk bisa appeal ke penonton mainstream yang suka dengan genre horror-flicks, sayangnya usaha ini malah membuat filmnya jadi nanggung. Di sisi lain, film ini terlalu slow untuk mainstream horror indonesia, namun juga terlalu easy untuk para veteran penikmat Horror

    Namun tidak tepat juga kalau dibilang film ini tidak bagus. Justru sebaliknya, Pulang menjadi salah satu film horror yang cukup berkesan meskipun endingnya masih terasa stale di lidah. Menurut saya jika cerita hehantuan disini dikurangi malah akan lebih creepy. Belum lagi interaksi keluarga Bunda yang sebenarnya bagus banget jika diulik lebih dalam. 

    Akting Raihanun dan Bunda di film ini harus diacungi empat jempol, karena penggalian karakternya dapet banget. Nina dan Bunda adalah kombo laknat yang bisa bikin kita merasa tidak nyaman saat menonton interaksi mereka. Disisi lain akting Ibnu Jamil jadi berasa kurang dapat mengimbangi, entah karena dialog-dialog yang terasa cetek atau memang konsep detached ini sama sekali nggak didapat oleh karakter Hasan. 

    Tapi serius, interaksi Nina + Bunda berhasil memberikan rasa tidak nyaman yang luar biasa bagi saya, ketakutan sekaligus rasa penasaran Nina berasa real dan meyakinkan. Andai saja film ini bisa menggali lebih banyak interaksi antara Nina dan Bunda, saya yakin Pulang akan menjadi salah satu film horror yang nge-set Benchmark untuk film-film horror lainnya. 

    Affliction bisa kalian tonton di Netflix. 


    . Minggu, 21 Februari 2021 .

    Review Serial Thailand Sleepless Society Nyctophobia

    Satu lagi cerita soal anak setan (dalam artian figuratif ya) yang saya tonton selama pandemi ini. Sungguh nonton film dan series soal kejahatan para anak-anak bangke ini adalah metode KB yang efektif. 

    Memang mungkin cerita soal anak-anak yang jahatnya ngelebihin iblis model the omen, the children dan bahkan The Strange Things about the Johnson belum cukup ramai di kancah perfilman Asia. Apalagi kalo mengingat disini anak-anak selalu jadi 'korban' utama dari film horror. 

    Bahkan sejatinya Toshio di Ju-On juga merupakan korban gaes ((teteup)) ((#PembelaHakAsasiSetan))

    (also don't get me start on Jangsan Tiger ya. Itu film masih bikin saya emosi) 

    Makanya ketika ada cerita mengenai anak yang misterius dan jahat dari Thailand, saya langsung buru-buru nonton di Netflix. Maklum Pil KB dan Kondom sudah abis. 

    Disclaimer: Review ini mengandung Spoiler! 

    Sleepless Society: Nyctophobia




    Sleepless Society di Thailand adalah semacam serial seperti American Horror Story yang tiap seasonnya punya premis dan cerita berbeda. Di tahun 2019, mereka merilis season yang berjudul Nyctophobia alias fobia kegelapan. 

    Ceritanya bermula ketika Meena, seorang ibu dan Direktur Rumah Sakit yang depresi pasca meninggalnya sang anak, mencoba untuk bunuh diri. Ternyata anaknya, Arm, meninggal di pelukan Meena karena Asthma dan inhalernya habis. Padahal sebelum meninggal Meena habis marah-marahin Arm karena selalu gangguin Meena kerja. 

    Ini adalah bukti nyata bahwa you don't know what you got till it's gone, literally.

    Meena beruntung karena ditolong oleh teman-temannya, Karn dan Wan yang juga merupakan dokter di Rumah Sakitnya. Akhirnya Meena untuk sementara waktu tinggal di rumah Wan. Disini ketauan kalo setelah Arm meninggal, Meena jadi takut gelap seperti Arm. Arm emang punya beberapa trait khusus seperti Nyctophobia (fobia kegelapan), Asma, dan punya hal-hal yang hanya diketahui Meena sebagai seorang ibu. 

    Gak lama, Meena udah ngerasa baikan, akhirnya dia balik ke rumahnya yang super mewah di tepi pantai. Ehhhh tetiba malem-malem, ujan-ujan, munculah seorang bocah yang mirip banget sama Arm dan MENGAKU REINKARNASI ARM. 


    Arm: ini jojo bu.... jojo kehujanan bu...
    Meena: SAPE ELU BAMBANG???

    Jreng jreeeng... Meena jadi stress lagi dong, secara ini anak emang MIRIP BANGET sama Arm dan bahkan tahu hal-hal yang hanya diketahui oleh Arm.  Akhirnya Meena nonton youtube (??) dan nemu video seorang dukun bernama Sita yang menjelaskan soal reinkarnasi. 

    Sampai sini kita mulai narik napas panjang karena pelan-pelan kita melihat si Arm itu nggak se-angelic yang selama ini diceritakan Meena ke teman-temannya. 

    Satu persatu muncul tokoh tokoh baru yang bikin kondisi makin runyam. Mulai dari Fai, anak Karn yang sotoynya luar biasa, Plernuwan yang problematic, Sita si dukun sampai Pete, mantan suami Meena yang konon nggak deket sama Arm. 

    Kalo kalian orangnya ga sabaran pasti bawaannya pengen nabok Meena karena saya pun merasa begitu. Peluk kalian yang nggak sabaran selama menonton film ini. 

    Pelan-pelan kita jadi penasaran, siapakah "Arm" yang baru datang ini sesungguhnya?? Lalu gimana dengan Meena bisa menghadapi situasi baru ini? 

    Kenapa Saya Mau Menonton Nyctophobia?

    Karena saya nggak pengen *langsung* spoiler, saya komentarin ceritanya nanti aja ya. Saya komentarin gambar dan ceritanya dulu.

    Sebenernya kualitas gambarnya bagus, nggak ((sinetron-esque)) kaya beberapa serial Thailand yang pernah saya tonton, tapi juga nggak yang cinematic kaya film-film thriller Thailand yang baru-baru ini saya tonton. Tapi shot-shotnya jelas nggak astrada alias asal terang gambar ada. 

    Disini kita dikasi liat kehidupan Meena yang sekilas terlihat mevvah tapi penuh dengan cela. Intinya everything is not what it seems. 




    Untuk setting dan latar cerita, kita akan dimanjakan dengan kemewahan duniawi dan setting yang sesuai dengan cerita. Misal kalo ceritanya soal rumah sakit, ya digambarkanlah kantor rumah sakit layaknya kantor. Rumah ya digambarkan seperti rumah. Pokoknya nggak berlebihan atau berkekurangan layaknya sinetron low budget. 

    Tone agak somber yang digunakan oleh Nyctophobia juga berhasil membangun suasana serial yang creepy. Meski penggunaan properti didalam film ini masih ala-kadarnya, misal kamera polaroid yang kita kira akan punya peran besar dalam film ini karena masuk di credit openingnya, ternyata nggak berperan banyak. 

    Tapi kalo dari segi cerita... hmmm, terlalu banyak kebetulan, ya bambang. 

    Series ini cukup panjang, makanya plot hole dan kontinuitasnya juga jadi banyak. Bahkan menurut saya endingnya seolah ngga masuk di akal dan easy fix banget untuk segala plot hole yang terjadi sepanjang cerita. 

    Padahal kalian nggak boleh skip satu episode pun karena ceritanya nyambung terus, tapi tetep aja ada hal hal yang nggak bisa dijelaskan dengan baik. Banyak juga detil cerita yang miss, bahkan penggambaran karakter Arm terasa terlalu one dimensional karena kurang sukses dalam mengulik emosi Arm. Jadi Arm itu ya jahat, Meena itu ya baik, Karn itu baik, Plernuwan ya Pler... udah gitu doang. 

    Nah sampai sini saya mulai spoiler ya. kalo ngga mau baca plis scroll sampai header selanjutnya ajah. 

    Mulai bete nonton Nyctophobia Karena...

    Jujur saya sebel banget sama yang istrinya Karn yaitu Plernuwan. Memang nama adalah doa ya karena perilaku istrinya Karn ini emang peler banget. 

    Bawaannya waktu arc soal konflik keluarga Karn, saya pengen skip aja karena apalah fungsinya saya menghabiskan 10 menit nonton istrinya Karn eyel-eyelan soal dateng ke reunian temen-temennya. HEYYYYY TEMEN BAIK LAKI LO MENINGGAL AND ALL U CARE ABOUT IS REUNIAN kan anjheng,

    Makanya waktu Pler mo dibunuh saya sih seneng setengah mati. Ini Pler kalo di Indonesia emang tipe-tipe yang hidup di dunia tipu-tipu sosmed. Apalagi yang dia naro rekaman di tempatnya Arm. Sumpah ini orang dramatis, sinetron, nyebelin, nyolot, udahlah dibikin mati aja karena nggak ada peran pentingnya dalam kontinuitas cerita. Kali-kali aja kalo kita ga bahas keluarga Karn, ini series bisa tinggal nyisa 7 episode. 

    Arc soal Pler ini bikin jalan cerita yang tadinya solid--soal Karn yang terlalu sibuk kepo dan main detektif-detektifan sampai lupa keluarga--jadi nanggung antara cinta tak sampai Karn ke Meena dan Pler yang ibu-ibu sinetron banget. Bikin males dan pengen skip-skip jadinya. 

    Terus juga soal kabel Wan yang konslet dan angus.. secara hapenya mereka iPhone generasi terbaru kan ya, kayanya kalo kabel konslet dikit langsung otomatis nggak bisa kepakai gitu. Jadi kejadian iPhone meleduk gara-gara charger konslet itu pushing it banget.

    tapi namanya juga film kan ya. si "Arm" ini juga emang bocah setan banget perilakunya bikin istighfar. Tapi kejahatan-kejahatan yang dilakukan Arm ini menurut saya terlalu berlebih. Saya masih mau paham ketika di awal cerita diceritakan bahwa Arm ini punya kecenderungan psikopat karena suka menyakiti binatang, tapi kalo abis itu langsung bisa bikin rencana buat nyetrum manusia dewasa, ngebunuh orang-orang disekeliling Meena kok kayanya loncatnya jauh banget ya. 

    Meena pun juga sepertinya nggak begitu tertarik menyelidiki masa lalu Arm. Maksudnya gini lho, walaupun itu konon "Arm" yang terbangun di badan orang lain, itu bocah kan pasti punya orang tua, punya rumah, dan pastinya ada yang nyariin. Ini nggak ada sama sekali lho. 

    Saya juga bingung soal rencana Tom dan Arm untuk switch kehidupan dan soal pamannya Tom yang ditemukan jadi mayat. Kalo di endingnya kan dijelaskan bahwa Tom ga terima sama rencana Arm buat ngebunuh pamannya Tom. Tapi kita juga nggak tahu kenapa ujug-ujug pamannya Tom tetep mokat. 


    arm: lihat saja, akan kubunuh dia saat lengah
    Meena: nonton youtube apa lagi ya hari ini?

    Jadi akhirnya cerita yang awalnya solid horror story tentang anak yang jahatnya ngelebihin boneka chucky berubah jadi sinetron putri yang tertukar. 

    Sampai akhir juga penjelasan mengenai Nyctophobia yang dialami sama Meena juga nggak ada juntrungannya. Harusnya series ini dikasi judul Sleepless Society: Bayi Ajaib. Intinya emang anak setan aja gitu si Arm dan Tom ini. Udah gitu doang. 

    Terus gimana ceritanya Pete dan Sita bisa menemukan Tom dan nyusun rencana se-elaborate itu tapi tetep bisa dikadalin bocah tengik modelan Tom bener-bener bikin saya semakin puyeng. Disini juga ngga ada closure yang jelas.

    Tadinya saya udah expect arc ritual-ritual Sita ini bakal berkembang jadi cerita yang lebih cult-like atau emang ada cult yang kerjaannya ngadalin orangtua-orangtua yang sedang bersedih, ternyata ceritanya begitu doang. Kzl. 

    Bahkan penggambaran Karn dan temennya yang polisi aja kesulitan menghadapi Arm. Sebel banget pokoknya nonton series ini, bawaannya pengen cepet kelar dan tahu siapa "Arm" sesungguhnya

    Pokoknya tau tau mendadak sinetron banget lah ini series, kzl. 

    All in All...

    Saya merekomendasikan Nyctophobia ini sebagai series dikala bosan dan dikala lelah; kalau ditonton pas lagi fokus emang malah bikin emosi aja karena kita jadi bisa pinpoint masalah-masalahnya dimana. 

    Series ini juga cocok buat yang sabar nonton serial yang cukup panjang dan sabar nonton kelakuan Plernuwan yang bikin emosi.

    Jadi apakah saya akan menonton Sleepless Society lagi kedepannya? Jujur saya belum tahu. Kayanya sih enggak karena saya kurang sabar sama episodenya yang cukup banyak. Serial Horror--in my opinion--should be short and bittersweet. Meski Nyctophobia adalah pembuka yang cukup lumayan sayangnya ia terjebak dalam kebingungan karena banyaknya karakter didalam cerita yang seharusnya cukup berfokus pada dua orang saja. 

    After all, saya percaya bahwa kengerian yang sesungguhnya terjadi ketika manusia merasa kalau ia sendirian. 

    Serial Nyctophobia ini bisa kalian tonton secara legal di Netflix. Selamat menonton!

    . Kamis, 21 Mei 2020 .


    Mari kita mulai artikel kali ini dengan sebuah quotes yang tidak perlu dipertanyakan kesahihannya: "Kalo Lo Gak Tau Koya Pagayo Maka Masa Muda Lo Kurang Mesum" - duckofyork, 2020.
    . Selasa, 22 Oktober 2019 .


    Fresh from the oven, saya baru kelar nonton Perempuan Tanah Jahanam, satu lagi karya Joko Anwar yang saya tonton. Kayanya saya belom pernah nggak nonton karya Joko Anwar sampai Jenny yang nyangsang di Tribe pun saya bela-belain tonton. 

    Jujur buat saya film Joko Anwar yang paling berkesan tetep Pintu Terlarang, dan entah kenapa setiap Joko Anwar rilis film terbarunya, saya punya harapan akan dikemas seapik Pintu Terlarang. Atau sebagus Pengabdi Setan. Atau keduanya. Pokoknya lebih bagus.

    Oke moving on dari harapan harapan saya karena tidak penting dan tidak ada hablumnya. 

    Dengan ekspektasi bahwa Perempuan Tanah Jahanam akan lebih baik daripada Pengabdi Setan atau Pintu Terlarang, saya membeli tiket bioskop tanpa promo. Lokasi Menonton: CGV Transmart Maguwo. 

    Ingat, tanpa promo ya. Karena notifikasi promo baru muncul 4 jam kemudian #jiamput

    DISCLAIMER: SPOILER ALERT

    Oh ya, disclaimer dulu ya: Review Perempuan Tanah Jahanam ini mengandung SPOILER. Bagi kalian yang tidak kuat spoiler diharap nggak usah membaca review ini dulu. Tonton dulu, terus kita diskusi bareng. Review menggambarkan opini pribadi yang tercemar opini pak suami dan opini mas-mas yang duduk disebelah saya terus diskusiin jalan cerita filmnya mayan kenceng sepanjang film.

    Baca Juga: Review Pengabdi Setan 2: Communion yang bikin saya emosi

    Sebagai #PerempuanJahanam™saya paham betul arah film ini. Sepasang sahabat, Dini dan Maya, tadinya bekerja sebagai operator Pintu Tol. Pekerjaan yang menurut saya paling berat sedunia karena harus duduk didalam box tertutup, terus ngitung kembalian dengan cepet, terus kalo pipis dimana coba??

    Karena tugas mereka digantikan dengan GTO, Dini dan Maya mencoba peruntungan dengan berbisnis pakaian tapi gagal karena pasar tempat mereka kulakan SEPI. Ya monmaap nih bukan begimana... masa mau buka bisnis ngga liat lokasi dulu? Lokasi itu penting. Feng Shui tempat usaha sangat mempengaruhi kelancaran percuanan... oke skip...

    ....Masalahnya WC Pasarnya aja mampet, itu pertanda Hong Shui yang tidak lancar...oke skip. Beneran Skip, kita serius dulu.


    Berbekal pengalaman nyaris mati waktu menjadi Operator Pintu Tol, Maya memutuskan untuk mencari tahu soal masa lalunya di sebuah desa yang bahkan nggak ada di google maps sampai harus telfon Pemda setempat untuk mencari tahu soal desa tersebut. 

    Opening Maya yang nyaris mati waktu jadi operator pintu tol, menurut saya cocok jadi satu film pendek sendiri. Bagus banget asli. Disini feel creepy nya DAPET banget. Malah menurut saya adegan Maya di Gerbang Tol dan di Pasar jauh lebih dapet ketimbang di desa. Mungkin karena saya kurang bisa relate gitu dengan kehidupan desa ya. 

    Balik ke jalan cerita dimana berbekal sotoy dan naik bis hantu, Maya bisa menemukan kampung halamannya yaitu Desa Harjosari. Bagaimana Maya bisa tahu soal desa tersebut? Dari sebuah foto. Di foto itu ada dia, orang yang diduga bapak ibunya, didepan sebuah rumah gedong di tengah-tengah desa.

    Bayangan Maya, dia bisa menjual tanah milik orang tuanya itu terus dijadiin modal usaha. Jadi dia harus banget pergi ke desa tersebut untuk ngecek keberadaan tanah tersebut. Mungkin Maya nggak tahu kalo mau ngecek sertifikat tanah desa paling gampang ya lewat Kantor Badan Pertanahan setempat, atau ke kelurahan.

    Enggak dong, bukannya ke kelurahan, mereka malah ke rumah dalang Ki Saptadi yang baru sekali mereka dengar namanya. Pura-pura jadi mahasiswa lagi.

    MAHASISWI APAAN MO PENELITIAN NGGA ADA SURAT PENGANTAR DARI KAMPUS OYYYY!!!!

    Terus mereka masuk aja ke rumah gede yang ada di foto tersebut karena Ki Saptadi nggak ada dan make themselves at home. Gue kalo jadi setan pun gue tai-taiin ini dua orang karena maen masuk aja dan tidur aje di rumah orang kaga pake halo-halo. Iye kalo bener itu rumah orangtua Maya, kalo bukan? 

    Skip-skip-skip karena ngga penting, waktu mereka berkeliling desa, mereka menemukan banyak kuburan anak-anak. Tanggal mati sama lahirnya sama. Yang aneh kenapa puskesmas dan dinas kesehatan nggak dateng ke desa itu? Secara kan angka kematian ibu dan bayi itu KPI Dinkes dan puskesmas loh.

    Ya karena settingnya di jawa gue menolak percaya bahwa ada desa yang ngga ada puskesmasnya. Masa udah ada HP tapi belom ada USG 4D??? Helloooo... dana desa kemana tuh?

    ((ya tapi ini kan fictional universe gi, jadi suka-suka joko anwar ajalah ya))

    Nah akhirnya mereka ketemu sama Ki Saptadi. Janjianlah mereka ketemuan dong dirumah Ki Saptadi malem itu. Si Dini udah ngerasa ada yang gak beres nih tapi Maya mah tetep gaskeun aja. Emang kalo udah ada cuan di otak, susah berpaling ke lain target :((

    Padahal kalo dipikir pake akal sehat, tanah segede dosa di kampung yang jalanannya aja bahkan belom di aspal dan warganya kayanya nggak ada yang punya motor dan tukang ojek nggak mangkal di terminal, SIAPA YANG MAU BELIIIIIII BAMBANG????

    Nah mencar tuh, Maya beli makan, Dini mandi dirumah. Kelar mandi, dia didatangi akamsi yang nyuruh mereka untuk jangan tinggal disitu. Eh dengan sotoy-nya si Dini ngaku dia Rahayu. Digiringlah Dini ke hutan sama dua akamsi tersebut.

    Aduh Din, tadinya elo pinter kenapa sekarang jadi begini sik. Kesel gue. 

    Skip-skip-skip karena adegannya gore (dan bagus gorenya meski harness di paha Marissa Anita tetep nyembul karena hello itu skinny jeans, dan monmaap kenapa tanktopnya tetep stay in place ya?) si Dini dikuliti dan dijadikan wayang oleh Ibunya Ki Saptadi.

    CUMA SATU YANG GUE HERAN: buset apa-apaan nyamak, ngeringin kulit terus jadiin wayang cuma butuh beberapa jam aja (dari pagi sampe malem udah jadi satu wayang) sumpah ini Ki Saptadi cs kudu FIX BANGET buka pabrik penyamakan kulit men... kebayang nggak sih produktivitas pabrik kalo kulit orang aja cuma butuh sekian jam sampe jadi wayang... saya sih siap aja invest...

    KENAPA JADI MIKIRIN CUAN...OKE SKIP!

    Disisi lain Maya ketemu sama Ratih yang bilang kalo dirumah Maya ada iblis. Nah Maya yang bingung, balik ke rumah dan si Dini ga ada. Dicari sampe ke tempat Ki Saptadi, tapi nggak nemu juga. Akhirnya malem harinya Maya nengok pementasan wayangnya Ki Saptadi sambil nyari Dini. Nengoknya langsung ke belakang layar lagi... dipikirnya Dini pemain gendang apa gimana huhuhu kesel.

    Skip-skip-skip akhirnya Maya dapet wangsit dari roh anak kecil untuk pergi ngeliat bayi yang akan dilahirkan. Ternyata pas dia ngintip, bayinya lahir tanpa kulit. Nah Maya nyaris ketauan tuh, cuma dia diselamatkan Ratih dan dibawa ngumpet di rumah Ratih.

    Disitu dia diceritain deh kalo misalnya desa itu dikutuk, jadi tidak ada bayi-bayi yang lahir dengan selamat. Semua bayi lahir didesa itu tanpa kulit, jadi supaya mereka tidak menderita, mereka langsung dibunuh di tempat oleh Ki Saptadi and the gengs. Ternyata... Ratih sudah tau kalo Maya adalah Rahayu, si pemilik rumah tersebut.


    me: lebih shock karena ratih ngga bunuh maya ketimbang tau ki saptadi bunuhin bayi-bayi

    Tapi Ratih ngga mau balas dendam atau membunuh Maya karena dendam hanya melahirkan dendam baru gitu. Wow Ratih so bijak. Ratih bahkan melindungi Maya ketika ada warga desa yang mencari keberadaan Maya loh. Padahal suami Ratih lah yang berusaha membunuh Maya. I love you asmara abigail i truly do, you're a gemstone to this movie meskipun Christine Hakim sebagai ibunya Ki Saptadi is the best teteup.

    Sampai disini saya bertanya-tanya faedahnya Maya ngasih tau Ratih kalo suaminya udah mati apa coba? HELLOOOO lo udah dikejar 1 desa, apa iya lo masih mau dikejar 1 perempuan hamil yang super duper creepy dan satu satunya temen lo di desa jahanam ini?

    Asli Maya bego luar biasa.

    Tapi yang lebih aneh lagi, gimana ceritanya suaminya Ratih bisa tahu kalo Maya adalah orang Harjosari? KAN UDAH GANTI NAMA? Ih sotoy abis. Harusnya disini ada penjelasan sih buset. 

    Udah gitu sempet-sempetnya Maya kesurupan arwah tiga dara tiga bocah yang dibunuh bapaknya supaya dia bisa punya kulit. Yang mana durasi kesurupannya lama loh, bisa bikin warga desa nemuin dia. Tapi tentu saja, nggak ketemu dong karena....NAMANYA JUGA FILM.

    Nah pas kesurupan ini Maya mendapatkan ilmu pengetahuan sejarah bahwa dia sebenernya adalah anak hasil perselingkuhan ibunya dan ki saptadi, cuma ketauan sama ibunya ki saptadi yang merupakan pembantu di rumah itu. Sumpah ibunya Ki Saptadi galak bener, baru sekali ini gue liat ART segitu galak sama majikan. Kalo jaman sekarang itu pasti udah masuk IG Blacklist nanny dan ART asli. 

    Nah sama ibunya, disireplah Ki Saptadi supaya amnesia akan hubungannya dengan ibunya Maya terus sejak dalam kandungan si Maya diguna-guna sama ibunya Ki Saptadi sehingga lahir tanpa kulit. SEKALI LAGI. lau kan tuan tanah nih, kenape kaga ke dokter seh...

    logika cerita yang loncat-loncat tanpa rules of the game mengisyaratkan kalo film ini ada di JokAn Universe alias satu universe sama kala, pintu terlarang, dan lain-lain yang merupakan gabungan dari film-film jokan lainnya. Buat yang sering nonton film Joko Anwar pasti tau anything can happen. LITERALLY ANYTHING. Saya curiga saya dan Joko Anwar ini sodaraan karena jalan cerita film-filmnya mirip dengan hal-hal absurd yang saya pikirin sebelom bobo. 

    Ada satu lagi nih yang bikin saya makin yakin ini film exist di timeline JokAn Universe. Waktu kesurupan kan Maya dikasi liat bapak dan kakeknya di desa Harjosari masih pake beskap lengkap dll, ya pokoknya attire bedinde-bedinde jaman belanda gitu... padahal umurnya Maya aja 25 tahun. Logikanya itu terjadi ya sekitar 30 tahun yang lalu kan yaaaa... sementara di kampung daddy A dimana beliau lahirnya jaman perjuangan ya nggak segitu-gitunya. Kakek gue udah pake kemeja di tahun 1950an kok. Asli. Settingnya berarti ya gak jauh beda sama Kala, Pintu Terlarang, Pengabdi Setan, Modus Anomali dan lain-lain. 

    Long story short akhirnya Maya berhasil mengakhiri kutukan tanpa kulit, tapi etsss tentu cerita tidak berakhir begitu saja karena baru satu jam sekian bosqueeee.... Tiba-tiba muncullah ibu suri ibunya Ki Saptadi lengkap dengan para akamsi dan disitu terkuaklah kalo Ki Saptadi sebenernya adalah anak haramnya kakeknya Maya.

    JENG JRENG JREEEENG...

    Sampe disini sih saya udah mulai lelah dengan momen anakku bukan anakku tapi anaknya pembantuku yang ternyata juga anaknya kakekku heyyyyy~ karena begitu Maya digantung kebalik  (teteup dengan tanktop yang konsisten nggak kusut dan nggak kendor) Maya berusaha ngomong kalo dia anak Ki Saptadi. Terus Ki Saptadinya percaya dong. Terus Ki Saptadi sama ibunya berantem, berakhir dengan dua-duanya bunuh diri terus ada bayi yang lahir dengan kondisi sehat sehingga Maya dilepaskan oleh Ratih.

    Akamsinya? NONTON AE BUSET.

    Jokan mesti internship jadi orang jawa dimana orang jawa punya dualisme karakter yaitu: kalem sekaligus mampu menikmati pertubiran duniawi. Secinta-cintanya orang jawa kepada pertubiran tidak mungkin menyaksikan ketubiran tanpa melu sambat atau minimal ngrasani. BTW aksen bahasa jawa disini nyampur-nyampur pol. Mungkin karena shootingnya di beberapa lokasi sih ya...

    Cuma....

    Bagi yang ngomong ini mistisnya dapet banget, jawanya dapet banget... kok saya nggak dapet momen itu ya

    Satu: dalang itu tugasnya ga cuma godek godekin wayang doang. Ada ceritanya, ada omongannya. Suara dalang itu pasti berat dan cengkok jowo nya pasti kental. Ario Bayu kalo ngomong masih indonesia banget jadi ya... susah. 

    Attirenya Ki Saptadi ini, beskapnya beskap putra solo, blangkonnya blangkon solo, kerisnya kok keris jogja? Pas mentas kok kayanya gamelannya gamelan jogja? Pas Ndalang kok ngga pake pembukaan, main duduk ambil wayang terus jger ditabrak-tabrakin? Kakinya kok nggak nratap kotaknya dalang itu? 

    Setting kawinan juga kawinan dengan adat solo nampaknya jadi settingnya saya pikir jawa tengah. Lha begitu tokohnya ngomong bahasa jawa, kok logatnya jawa timuran. Meski "asu"nya Asmara Abigail bisa diterima secara universal tapi logat jawanya masih kurang banget, kecuali christine hakim ya... aduh sumpah peran Nyi Misni alias ibunya Ki Saptadi ini dapet banget... kena banget lah istilahnya.

    Kemudian, yang aneh lagi... Ki Saptadi ngomong sama ibunya pake bahasa kromo (albeit kromo madya) terus warga ngomong ke Ki Saptadi yang ditakuti di daerah itu juga pake campur campur bahasa madya dan ngoko. 

    HEYYY YANG KONSISTEN DONG AH!!! #KZL

    (sekarang saya paham betapa keselnya pak suami tiap saya ngomong campur-campur madya & ngoko. ternyata memang tidak enak didengar)



    Meski demikian emang suasana mencekam yang disajikan Joko Anwar 'dapet' banget dari sinematografinya. Caranya menggambarkan lingkungan pedesaan yang tertutup dengan warga yang hidup segan pindah tak mau itu sudah pas. Cuma ya sayang, soal kebudayaannya kurang pas aja gitu.

    Selain itu ada beberapa arc yang kesannya cuma tempelan: arc dosen rusia yang ngga tau tujuannya apa, arc tole yang tidak punya kulit dan udah cuma buat pajangan doang, arc dini yang tadinya kalem, pinter jadi bego mendadak... hadeeeeehhhh...

    Lagian tujuannya Ibunya Saptadi apa sih segala jadi kuyang, segala pake ngisiki kalo si Maya harus dijadiin wayang? Kan beliau pergaibannya wes pol, kalo mau kan dia tinggal ngikutin arwah tiga bocah itu. Tapi enggak donggggg aduhhh kesel padahal actingnya Christine Hakim disini layak dapet piala citra. 

    Mungkin karena durasi yang singkat jadi semua serasa harus dijelaskan begitu saja kali ya. Padahal mungkin kalo penggalian karakter dibuat lebih dalam, kita malah bisa jadi apologis terhadap perilaku Ki Saptadi, bahkan mungkin kita bakal benci sama Maya... tapi enggak. Padahal jujur itu lho yang selalu saya tunggu-tunggu dari film Joko Anwar--the big blob of grey area where nobody is truly evil and no one is truly good either. 

    Meski aktingnya bagus dan sinematografinya mantap mempesona tapi jujur untuk jalan cerita masih terlalu banyak bolong-bolongnya. Feeling saya mengatakan karena Joko Anwar harus kerja keras nulis Perempuan Tanah Jahanam dan beberapa film lainnya yang juga akan tayang tahun ini. Mungkin om Joko Anwar mau collab sama aku buat bikin cerita thriller? ditunggu DM nya loh om (teteup)

    Untuk scoring saya nggak mau berkomentar banyak. Openingnya gila bagus banget, sound design juga bagus bangeeet, scoring gila gilaan apiknya. Nggak ada obat. Sepanjang film kuping saya dimanjakan dengan berbagai detil suara yang edun mempesona seolah olah emang didesign untuk saya yang duduk di kursi tersebut. 

    All in all i gave this movie 3 out of 5 star. Enak ditonton buat hiburan, enggak enak kalo sepanjang film malah mikir ini settingnya jawa tengah, jawa timur apa jogja!