• about me
  • menu
  • categories
  • Agi Tiara Pranoto

    Agi Tiara Pranoto

    Seorang Blogger Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Selain menulis, dia juga sangat hobi main PUBG Mobile. Cita-citanya adalah mendapatkan passive income sehingga tidak perlu bekerja di kantor, apa daya selama cita-cita itu belum tercapai, dia harus menikmati hari-harinya sebagai manajer sebuah penginapan syariah dan content manager sebuah clothing line

    BEWARE TERTIPU!!! Ada Penipu Pura-Pura Menjadi Kita di Chat Untuk Meminjam Uang!

    penipuan pura-pura jadi orang lain di LINE messenger app

    Oke, harusnya posting ini sudah naik dari seminggu yang lalu, cuma kita semua tahu kalo saya kena tipes lagi sibuk jadi nggak bisa auto-auto update blog. Anaknya emang seambisius itu kalo mau nulis di duckofyork bawaannya harus perfek meskipun cuma curhat #YaBhaik 

    Sesuai judul, kali ini saya jadi korban penipuan di aplikasi LINE. Sebenernya bukan saya yang ketipu melainkan ada penipu yang berpura-pura menjadi saya di aplikasi LINE. 

    Wow, sengehits apakah seorang Agi Tiara Pranoto sampai ada penipu ngaku ngaku menjadi dirinya? #SalahJumawa

    Awal mulanya itu, di sebuah senin di awal februari 2020, saya yang lagi dimarahin pak composer karena sangat indecisive menerima chat dari mbak Rahma, sesama anggota Jogja Bloggirls yang lumayan dekat lah sama saya. Usut punya usut, Rahma dichat oleh seseorang yang menggunakan nama saya dan foto saya di instagram untuk meminjam uang sebesar 3,5 juta rupiah buat belanja di online shop gitu. 

    Jadi menurut pengakuan agi-agian alias agi palsu ini, dia mau belanja di online shop tapi M-Bankingnya nggak bisa dipake transfer/keblokir dan harus transfer sejumlah uang, lalu mau pinjem M-Banking teman-teman agi.

    HELLOOOO SEORANG AGI NGGAK PUNYA 3.5 JUTAAAAAA???? PENIPUNYA KURANG AJAR SEKALI. 

    (padahal emang nggak punya)
    (tapi nggak pernah belanja belanja yang juta-jutaan juga)
    (anaknya pelit dan minimalis apalagi soal budget)

    FYI, kalau kalian sudah kenal saya dari lama pasti akan tahu #TragediBengBeng (dimana saya cuma makan beng beng sehari 3x selama seminggu karena ATM saya ketelen dan banknya masih atas nama mama jadi ngurus kartunya di Jakarta) jadi saya punya uang jimat simpenan duit yang bertebaran dimana-mana.

    Disclaimer: Tolong jangan dibayangin simpenan duit ini seperti koruptor yang punya rekening di Bank Panama dan Hong Kong ya, karena simpenan duit ini maksudnya saya punya beberapa debit card, e-money, dan e-wallet yang bertebaran dimana-mana, jadi kalo yang 1 error, tetep bisa makan dari yang lain gitu. Anaknya males nih dininu ninu orang pajak karena simpenannya cuma bernilai ratusan ribu aja, maklum UMR Jogja.

    Back to the topic, si Penipu ini lumayan meyakinkan juga loh karena dia bisa kasi sense of urgency ke temen-temen saya, misal ngechat URGENTTTTTTTT panjang gitu dan mengajak teman-teman untuk buru-buru transfer ke sebuah rekening. 

    Dan ternyata bukan cuma Rahma yang dichat, melainkan hampir setengah populasi jogja *lebay mode ON* ikut dichat juga. Hari itu DM saya pun penuh sepenuh penuhnya udah kaya antrian daging pas idul adha. Banyak banget teman-teman saya yang mengaku dichat oleh si Penipu dan bahasanya copasan banget. Brengsek abis.

    Dari Mana si Penipu Menemukan Saya???

    Sebagai 'self-proclaimed' duta parno internet nasional, saya merasa bahwa saya sudah cukup menjaga privasi saya di media sosial dengan mengurangi ekspos data-data pribadi seperti tempat tinggal, tempat hangout favorite, kapan saya dirumah dan tidak dirumah, dan lain sebagainya. Ya emang nggak bisa 100% protected mengingat saya kan juga hidup di mata public, jadi update sosmed etc ya tetep jalan #ceileh

    Berdasarkan perkiraan saya yang lebih banyak benernya daripada salahnya, si penipu ini memanfaatkan foto yang sudah saya upload ke instagram (mengingat foto yang digunakan oleh si penipu hanya saya pernah saya upload di instagram) dan nama saya. 

    Jadi si penipu ini kayanya lumayan niat ya karena dia bikin akun line dulu dengan nama saya dan profile picture saya. 

    Terus abis itu dia kok bisa add temen-temen saya di LINE? Ini yang masih menjadi misteri. Kalo menurut GPS (Gunakan Pengetahuan Sotoy) sepertinya sih dia masukin username instagram temen-temen saya ke username search di LINE karena terbukti temen-temen yang usernamenya di line gak sama atau di hidden engga ada yang di add, padahal mereka jauh lebih sering berinteraksi dengan saya sehari-hari.

    Kalo berdasarkan analisis saya (ceileh dikata detective conan) dia melihat siapa yang dekat dengan kita dari recent tagged pictures atau followers paling atas, karena kebanyakan teman-teman yang dichat juga masih lingkup blogger dan influencer jogja. Jadi teman-teman di Inner Circle saya yang jarang tag foto ataupun jarang sosmedan malah kena. coba kalo mereka yang dimintain transfer, pasti langsung ditransfer gak pake mikir huhuhu :(

    Kenapa si Penipu Menggunakan Aplikasi LINE untuk berpura-pura menjadi orang lain?

    Satu, aplikasi ini umum digunakan oleh remaja dan young adult di Indonesia sehingga tidak mencurigakan kalau orang seperti saya yang young, hip, urban dan edgy punya aplikasi seperti LINE.

    Dua, karena di LINE kamu bisa menyembunyikan identitas (no telfon dan ID Line). Sebenernya ini bagus untuk privacy kita juga, tapi ternyata fitur ini disalahgunakan oleh orang-orang nggak bertanggung jawab.

    Jadi pas kita lapor, baik ke aplikasi LINE dan ke polisi, kita sama sekali nggak tahu ini siapa penipunya dan alhasil nama yang ditulis jadi nama saya sebagai pelaku. Sungguh merugikan nama baik :(

    Tiga, penanganan komplain di aplikasi LINE ini cukup berbelit-belit karena ketika saya reach out ke helpdesk saya harus berkali-kali filling out kuesioner komplain dan upload foto bukti-bukti maksimal 3 foto saja perkomplain sementara bukti penipuan banyak banget. Lo and behold, korespondensi ini berkali-kali dan makan waktu banget. 

    Karena kesel, saya akhirnya nulis komplain di instagram story DAAAAAN tada~ ketauanlah kalo sebenernya lebih efektif kalo misalnya saya langsung report akunnya dari aplikasi line. 

    Tapi gimana mau report, secara si pelaku kan nggak ngeadd saya, ngeaddnya temen-temen saya. Dan kita juga nggak familiar banget sama LINE karena udah lama gak pake LINE. By the time team line reach out ke saya soal kasus ini,si akun udah keburu ilang. 

    Jatuh Korban Tidak?

    Ada satu teman saya yang kena, karena posisinya bener-bener habis chatting sama saya pagi-pagi, dan dia nggak kepikir sama sekali kalo itu bukan saya. 

    Kejadiannya hari senin sekitar jam 10-11 pagi dimana orang-orang abis meeting ataupun briefing jadi kan belom konek 100% ke dunia nyata juga, jadi ya terjadilah. 'untung'nya dia sempat bilang kalau uangnya hanya 900 ribu, jadi dia diminta mentransfer 800 ribuan ke si penipu. 

    Dengan mengaku dia mau bayar belanjaan online shopping, kita juga jadi terpikir bahwa ga masalah kalau rekening yang diberikan adalah rekening pribadi yang bukan atas nama teman kita sendiri, karena dia bisa ngaku itu adalah si seller online (makanya berita acara selalu diminta dikosongkan kalau kita pake m-banking)

    Setelah kejadian itu kami langsung melapor ke Polda DIY untuk mengurus surat yang dapat dipakai untuk memblokir rekening dan lain-lain. Soal lapor polisi ini nanti akan saya bahas lebih lanjut dibawah ya.

    contoh chat penipuan di messenger app
    graphics are from katemangostar at freepik

    Kenapa Harus Lapor Polisi?

    Karena untuk bisa memblokir rekening bank (atau setidaknya memberi tahu bank tersebut untuk melakukan investigasi) kamu harus punya surat dari kepolisian. Untungnya lapor polisi ini bisa 24 jam, kalo nggak ya agak repot juga.

    Banyak korban yang nggak mau ribet berurusan dengan polisi karena ya jujur aja, lapor polisi itu ribet dan makan waktu. Selain itu banyak juga korban yang merasa malu karena bisa ketipu dengan scam 'abal-abal' seperti ini, but let me tell you, that isn't the case

    Dengan lapor polisi itu kamu memberikan informasi kepada penyidik soal scam yang sedang terjadi di masyarakat sehingga kalau nanti pelakunya berulah terus, polisi dapat menyelidiki kasus dengan baik. 

    Selain itu buat kamu yang dicatut namanya seperti saya juga harus lapor untuk melindungi nama baik juga. Jangan sampai kamu dituduh orang-orang disekelilingmu melakukan penipuan atau utang gak bayar gara-gara kasus ini.

    Cara Lapor Polisi Ketika Kamu Menjadi Korban Penipuan Seperti Ini

    Kenapa saya merasa harus membuat artikel ini? Karena proses lapor polisi cukup memakan waktu (dan biaya!) apalagi kalau kejadiannya di akhir bulan. Saya sempat bolak balik kantor POLDA beberapa kali padahal kasus penipuan online seperti ini idealnya harus diurus dalam hitungan jam karena penipu bisa menghilang kapan saja. 


    Jadi pertama-tama yang harus kamu siapkan untuk lapor polisi adalah:
    - identitas berupa KTP dan KK difotokopi rangkap 2
    - Semua bukti-bukti penipuan dari chat, bukti transfer, etc DIPRINT
    - Materai 6 ribu 
    - Kronologi kejadian singkat (bisa ditulis tangan atau diketik bebas)

    Habis itu berangkatlah ke kantor polisi, disini saya lapor ke POLDA DIY. Waktu itu saya sempat tanya ke bagian pelayanan bisa gak lapor ke kantor polisi lain selain POLDA tapi jawabannya harus ke POLDA karena nanti kasusnya ditangani bareskrimsus di POLDA. Mungkin buat temen-temen yang lebih tahu soal lapor melapor ini bisa bantu jelasin di kolom komen ya.

    Sampai di POLDA pertama-tama lapor ke pos piket di pintu masuk untuk mengisi buku tamu dan nanti diarahkan ke pos pengaduan. 

    Di Pos pengaduan kita akan ditanya-tanya kronologi peristiwa dan lain-lain terus dikasi kartu merah untuk rekomendasi penyidikan dari Bareskrimsus--lalu kita disuruh ke Bareskrimsus. Kalo di POLDA DIY lokasinya diluar kompleks polda, didekat masjid POLDA. 

    Di Bareskrimsus nanti kita disuruh menulis buku tamu lagi dan ditanya-tanya soal perkaranya di ruang tamunya. Nanti setelah itu kartu merah kita akan diisi dan kita disuruh balik lagi ke Pos Pengaduan. Nah di Pos Pengaduan ntar baru kita ditanya-tanya ulang kronologi peristiwa selengkap-lengkapnya dan nanti kita bakal dikasi surat-surat buat ke bareskrimsus dan bank.

    Terus kita balik lagi deh ke bareskrimsus dan dibuat BAP sama penyidiknya, abis itu boleh pulang. Nanti kita dipanggil lagi sewaktu-waktu penyidiknya butuh keterangan.

    Kalau kalian ketipu sejumlah uang, pertama lapor ke bank yang kalian pakai untuk menransfer uang dengan membawa surat keterangan kepolisian plus bukti-bukti, nanti akan dibuatkan surat keterangan lagi yang harus kalian bawa ke bank yang ditransfer.

    Contoh misalnya kalian pake m-banking mandiri untuk transfer ke rekening penipu yang menggunakan BNI, nah kalian lapor ke Mandiri dulu untuk dibuatkan surat keterangan ke BNI, nanti baru kalian ke bank BNI. Kalo misalnya transfernya gak antar bank, cuma antar rekening bakal lebih mudah, cukup ke bank yang bersangkutan aja.

    Kenapa Pelaku Penipuan Online Seperti Ini Jarang Tertangkap?

    Kalau kalian menyimak dari awal, jelas ya kalo emang penipuan kaya gini jarang banget bisa terungkap karena prosesnya semua yang serba panjang dan berbelit-belit. Padahal yang namanya online scam, dalam hitungan detik itu pelaku bisa menghilangkan jejak sampai bersih tak bersisa sama sekali. 

    Kemudian juga biasanya mereka menggunakan rekening yang bukan miliknya. Misalnya gini; penipu tersebut mau nipu Rahma, nah sebelumnya dia beli suatu barang di olshop tertentu misal beli TV di olshop X dengan harga sekian juta tapi belom dia transfer.

    Terus si penipu menghubungi rahma, ngaku-ngaku jadi saya misalnya dengan modus mau pinjam uang karena m-banking keblokir dan minta untuk ditransfer ke rekening olshop tersebut sejumlah harga TV dan minta beritanya di kosongin.

    Rahma yang ga curiga pun transfer ke rekening tersebut dan kasi bukti transfernya ke penipu. Si penipu pun menghubungi si online shop tersebut untuk mengirim barang ke tempat si penipu dan Rahma pun menagih saya karena dikiranya saya yang berhutang.

    Ribet banget kan nipunya? Melibatkan banyak pihak gitu. 

    Makanya mereka pede-pede aja nipu terus karena ga ketangkep-tangkep dan susah juga ngelacaknya. Nggak lama sesudah saya kena modus ini, beberapa teman influencer dan selebgram juga kena (bahkan masih sejumlah uang yang sama dan ditransfer ke sebuah rekening tertentu yang sama juga) 

    Kalau Kalian Mengalami Ini Maka Yang Harus Dilakukan Adalah...

    yang harus dilakukan jika tertipu penipuan online


    Dari penyidik sendiri bilang mereka juga emang nggak bisa berbuat banyak sehingga balik ke kitanya yang harus proaktif ngasi tau ke orang-orang disekitar kita bahkan kalo perlu bikin pengumuman di medsos bahwa itu adalah modus penipuan dan bukan kita yang pinjam uang.

    Jadi ya yang pertama harus kalian lakukan adalah buat pengumuman di seluruh lini media sosial kalo kalian nggak pernah pinjam uang dan itu adalah penipuan.

    Yang sempet bikin khawatir itu adalah karena pada saat terjadinya penipuan, duckofyork sedang melakukan open endorse sehingga sementara sponsored content di duckofyork pun ditutup sementara (kalian yang seneng kan karena berapa minggu nggak ada sponsored content HAHAHAAHA)  jadi langkah selanjutnya adalah mengabari pihak-pihak yang bekerjasama dengan saya untuk jangan mempercayai chat apapun yang mengatasnamakan saya selain dari chat whatsapp dengan nomer telfon yang sudah saya verifikasi. 

    Setelah membuat pengumuman, segera lapor ke kantor polisi. Langkah-langkahnya sudah saya share diatas ya. 

    Jangan lupa selalu simpan semua screenshot dan data-data terkait penipuan supaya jika sewaktu waktu dibutuhkan kalian nggak pusing nyarinya. 

    Kalau sudah jatuh korban seperti dalam kasus saya, usahakan untuk melapor bersama. Nantinya oleh polisi akan diarahkan siapa yang sebaiknya melapor dan kasusnya dijadikan satu berkas agar lebih mudah dalam proses penyelidikan.

    Jangan lupa untuk minta surat pengantar kepolisian untuk pemblokiran rekening di Bank ya, nanti bawa surat tersebut ke pihak Bank. Jika beda bank, bawa ke kantor Bank yang kalian pakai untuk mentransfer uang terlebih dahulu untuk dibuatkan surat keterangan untuk bank yang ditransfer. Jika banknya sama, cukup ke Bank tersebut saja.

    Prosesnya memang agak lama, khususnya karena di kepolisian sudah terlalu banyak kasus penipuan seperti ini yang menumpuk. Pihak bank juga biasanya kesulitan untuk menutup rekening karena biasanya uang keburu diambil/rekening dikosongkan atau bahkan itu bukan rekening si penipu.

    so that's it, that's my bad experience. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa saya ini ya. Jika ada pesan mencurigakan di messenger app, pastikan itu benar-benar teman/kerabat kalian. Jangan transfer ke rekening yang bukan atas nama teman kalian untuk berjaga-jaga. Always be vigilant and on the lookout! xoxo

    penipuan pura-pura jadi orang lain di LINE messenger app

    Oke, harusnya posting ini sudah naik dari seminggu yang lalu, cuma kita semua tahu kalo saya kena tipes lagi sibuk jadi nggak bisa auto-auto update blog. Anaknya emang seambisius itu kalo mau nulis di duckofyork bawaannya harus perfek meskipun cuma curhat #YaBhaik 

    Sesuai judul, kali ini saya jadi korban penipuan di aplikasi LINE. Sebenernya bukan saya yang ketipu melainkan ada penipu yang berpura-pura menjadi saya di aplikasi LINE. 

    Wow, sengehits apakah seorang Agi Tiara Pranoto sampai ada penipu ngaku ngaku menjadi dirinya? #SalahJumawa

    Awal mulanya itu, di sebuah senin di awal februari 2020, saya yang lagi dimarahin pak composer karena sangat indecisive menerima chat dari mbak Rahma, sesama anggota Jogja Bloggirls yang lumayan dekat lah sama saya. Usut punya usut, Rahma dichat oleh seseorang yang menggunakan nama saya dan foto saya di instagram untuk meminjam uang sebesar 3,5 juta rupiah buat belanja di online shop gitu. 

    Jadi menurut pengakuan agi-agian alias agi palsu ini, dia mau belanja di online shop tapi M-Bankingnya nggak bisa dipake transfer/keblokir dan harus transfer sejumlah uang, lalu mau pinjem M-Banking teman-teman agi.

    HELLOOOO SEORANG AGI NGGAK PUNYA 3.5 JUTAAAAAA???? PENIPUNYA KURANG AJAR SEKALI. 

    (padahal emang nggak punya)
    (tapi nggak pernah belanja belanja yang juta-jutaan juga)
    (anaknya pelit dan minimalis apalagi soal budget)

    FYI, kalau kalian sudah kenal saya dari lama pasti akan tahu #TragediBengBeng (dimana saya cuma makan beng beng sehari 3x selama seminggu karena ATM saya ketelen dan banknya masih atas nama mama jadi ngurus kartunya di Jakarta) jadi saya punya uang jimat simpenan duit yang bertebaran dimana-mana.

    Disclaimer: Tolong jangan dibayangin simpenan duit ini seperti koruptor yang punya rekening di Bank Panama dan Hong Kong ya, karena simpenan duit ini maksudnya saya punya beberapa debit card, e-money, dan e-wallet yang bertebaran dimana-mana, jadi kalo yang 1 error, tetep bisa makan dari yang lain gitu. Anaknya males nih dininu ninu orang pajak karena simpenannya cuma bernilai ratusan ribu aja, maklum UMR Jogja.

    Back to the topic, si Penipu ini lumayan meyakinkan juga loh karena dia bisa kasi sense of urgency ke temen-temen saya, misal ngechat URGENTTTTTTTT panjang gitu dan mengajak teman-teman untuk buru-buru transfer ke sebuah rekening. 

    Dan ternyata bukan cuma Rahma yang dichat, melainkan hampir setengah populasi jogja *lebay mode ON* ikut dichat juga. Hari itu DM saya pun penuh sepenuh penuhnya udah kaya antrian daging pas idul adha. Banyak banget teman-teman saya yang mengaku dichat oleh si Penipu dan bahasanya copasan banget. Brengsek abis.

    Dari Mana si Penipu Menemukan Saya???

    Sebagai 'self-proclaimed' duta parno internet nasional, saya merasa bahwa saya sudah cukup menjaga privasi saya di media sosial dengan mengurangi ekspos data-data pribadi seperti tempat tinggal, tempat hangout favorite, kapan saya dirumah dan tidak dirumah, dan lain sebagainya. Ya emang nggak bisa 100% protected mengingat saya kan juga hidup di mata public, jadi update sosmed etc ya tetep jalan #ceileh

    Berdasarkan perkiraan saya yang lebih banyak benernya daripada salahnya, si penipu ini memanfaatkan foto yang sudah saya upload ke instagram (mengingat foto yang digunakan oleh si penipu hanya saya pernah saya upload di instagram) dan nama saya. 

    Jadi si penipu ini kayanya lumayan niat ya karena dia bikin akun line dulu dengan nama saya dan profile picture saya. 

    Terus abis itu dia kok bisa add temen-temen saya di LINE? Ini yang masih menjadi misteri. Kalo menurut GPS (Gunakan Pengetahuan Sotoy) sepertinya sih dia masukin username instagram temen-temen saya ke username search di LINE karena terbukti temen-temen yang usernamenya di line gak sama atau di hidden engga ada yang di add, padahal mereka jauh lebih sering berinteraksi dengan saya sehari-hari.

    Kalo berdasarkan analisis saya (ceileh dikata detective conan) dia melihat siapa yang dekat dengan kita dari recent tagged pictures atau followers paling atas, karena kebanyakan teman-teman yang dichat juga masih lingkup blogger dan influencer jogja. Jadi teman-teman di Inner Circle saya yang jarang tag foto ataupun jarang sosmedan malah kena. coba kalo mereka yang dimintain transfer, pasti langsung ditransfer gak pake mikir huhuhu :(

    Kenapa si Penipu Menggunakan Aplikasi LINE untuk berpura-pura menjadi orang lain?

    Satu, aplikasi ini umum digunakan oleh remaja dan young adult di Indonesia sehingga tidak mencurigakan kalau orang seperti saya yang young, hip, urban dan edgy punya aplikasi seperti LINE.

    Dua, karena di LINE kamu bisa menyembunyikan identitas (no telfon dan ID Line). Sebenernya ini bagus untuk privacy kita juga, tapi ternyata fitur ini disalahgunakan oleh orang-orang nggak bertanggung jawab.

    Jadi pas kita lapor, baik ke aplikasi LINE dan ke polisi, kita sama sekali nggak tahu ini siapa penipunya dan alhasil nama yang ditulis jadi nama saya sebagai pelaku. Sungguh merugikan nama baik :(

    Tiga, penanganan komplain di aplikasi LINE ini cukup berbelit-belit karena ketika saya reach out ke helpdesk saya harus berkali-kali filling out kuesioner komplain dan upload foto bukti-bukti maksimal 3 foto saja perkomplain sementara bukti penipuan banyak banget. Lo and behold, korespondensi ini berkali-kali dan makan waktu banget. 

    Karena kesel, saya akhirnya nulis komplain di instagram story DAAAAAN tada~ ketauanlah kalo sebenernya lebih efektif kalo misalnya saya langsung report akunnya dari aplikasi line. 

    Tapi gimana mau report, secara si pelaku kan nggak ngeadd saya, ngeaddnya temen-temen saya. Dan kita juga nggak familiar banget sama LINE karena udah lama gak pake LINE. By the time team line reach out ke saya soal kasus ini,si akun udah keburu ilang. 

    Jatuh Korban Tidak?

    Ada satu teman saya yang kena, karena posisinya bener-bener habis chatting sama saya pagi-pagi, dan dia nggak kepikir sama sekali kalo itu bukan saya. 

    Kejadiannya hari senin sekitar jam 10-11 pagi dimana orang-orang abis meeting ataupun briefing jadi kan belom konek 100% ke dunia nyata juga, jadi ya terjadilah. 'untung'nya dia sempat bilang kalau uangnya hanya 900 ribu, jadi dia diminta mentransfer 800 ribuan ke si penipu. 

    Dengan mengaku dia mau bayar belanjaan online shopping, kita juga jadi terpikir bahwa ga masalah kalau rekening yang diberikan adalah rekening pribadi yang bukan atas nama teman kita sendiri, karena dia bisa ngaku itu adalah si seller online (makanya berita acara selalu diminta dikosongkan kalau kita pake m-banking)

    Setelah kejadian itu kami langsung melapor ke Polda DIY untuk mengurus surat yang dapat dipakai untuk memblokir rekening dan lain-lain. Soal lapor polisi ini nanti akan saya bahas lebih lanjut dibawah ya.

    contoh chat penipuan di messenger app
    graphics are from katemangostar at freepik

    Kenapa Harus Lapor Polisi?

    Karena untuk bisa memblokir rekening bank (atau setidaknya memberi tahu bank tersebut untuk melakukan investigasi) kamu harus punya surat dari kepolisian. Untungnya lapor polisi ini bisa 24 jam, kalo nggak ya agak repot juga.

    Banyak korban yang nggak mau ribet berurusan dengan polisi karena ya jujur aja, lapor polisi itu ribet dan makan waktu. Selain itu banyak juga korban yang merasa malu karena bisa ketipu dengan scam 'abal-abal' seperti ini, but let me tell you, that isn't the case

    Dengan lapor polisi itu kamu memberikan informasi kepada penyidik soal scam yang sedang terjadi di masyarakat sehingga kalau nanti pelakunya berulah terus, polisi dapat menyelidiki kasus dengan baik. 

    Selain itu buat kamu yang dicatut namanya seperti saya juga harus lapor untuk melindungi nama baik juga. Jangan sampai kamu dituduh orang-orang disekelilingmu melakukan penipuan atau utang gak bayar gara-gara kasus ini.

    Cara Lapor Polisi Ketika Kamu Menjadi Korban Penipuan Seperti Ini

    Kenapa saya merasa harus membuat artikel ini? Karena proses lapor polisi cukup memakan waktu (dan biaya!) apalagi kalau kejadiannya di akhir bulan. Saya sempat bolak balik kantor POLDA beberapa kali padahal kasus penipuan online seperti ini idealnya harus diurus dalam hitungan jam karena penipu bisa menghilang kapan saja. 


    Jadi pertama-tama yang harus kamu siapkan untuk lapor polisi adalah:
    - identitas berupa KTP dan KK difotokopi rangkap 2
    - Semua bukti-bukti penipuan dari chat, bukti transfer, etc DIPRINT
    - Materai 6 ribu 
    - Kronologi kejadian singkat (bisa ditulis tangan atau diketik bebas)

    Habis itu berangkatlah ke kantor polisi, disini saya lapor ke POLDA DIY. Waktu itu saya sempat tanya ke bagian pelayanan bisa gak lapor ke kantor polisi lain selain POLDA tapi jawabannya harus ke POLDA karena nanti kasusnya ditangani bareskrimsus di POLDA. Mungkin buat temen-temen yang lebih tahu soal lapor melapor ini bisa bantu jelasin di kolom komen ya.

    Sampai di POLDA pertama-tama lapor ke pos piket di pintu masuk untuk mengisi buku tamu dan nanti diarahkan ke pos pengaduan. 

    Di Pos pengaduan kita akan ditanya-tanya kronologi peristiwa dan lain-lain terus dikasi kartu merah untuk rekomendasi penyidikan dari Bareskrimsus--lalu kita disuruh ke Bareskrimsus. Kalo di POLDA DIY lokasinya diluar kompleks polda, didekat masjid POLDA. 

    Di Bareskrimsus nanti kita disuruh menulis buku tamu lagi dan ditanya-tanya soal perkaranya di ruang tamunya. Nanti setelah itu kartu merah kita akan diisi dan kita disuruh balik lagi ke Pos Pengaduan. Nah di Pos Pengaduan ntar baru kita ditanya-tanya ulang kronologi peristiwa selengkap-lengkapnya dan nanti kita bakal dikasi surat-surat buat ke bareskrimsus dan bank.

    Terus kita balik lagi deh ke bareskrimsus dan dibuat BAP sama penyidiknya, abis itu boleh pulang. Nanti kita dipanggil lagi sewaktu-waktu penyidiknya butuh keterangan.

    Kalau kalian ketipu sejumlah uang, pertama lapor ke bank yang kalian pakai untuk menransfer uang dengan membawa surat keterangan kepolisian plus bukti-bukti, nanti akan dibuatkan surat keterangan lagi yang harus kalian bawa ke bank yang ditransfer.

    Contoh misalnya kalian pake m-banking mandiri untuk transfer ke rekening penipu yang menggunakan BNI, nah kalian lapor ke Mandiri dulu untuk dibuatkan surat keterangan ke BNI, nanti baru kalian ke bank BNI. Kalo misalnya transfernya gak antar bank, cuma antar rekening bakal lebih mudah, cukup ke bank yang bersangkutan aja.

    Kenapa Pelaku Penipuan Online Seperti Ini Jarang Tertangkap?

    Kalau kalian menyimak dari awal, jelas ya kalo emang penipuan kaya gini jarang banget bisa terungkap karena prosesnya semua yang serba panjang dan berbelit-belit. Padahal yang namanya online scam, dalam hitungan detik itu pelaku bisa menghilangkan jejak sampai bersih tak bersisa sama sekali. 

    Kemudian juga biasanya mereka menggunakan rekening yang bukan miliknya. Misalnya gini; penipu tersebut mau nipu Rahma, nah sebelumnya dia beli suatu barang di olshop tertentu misal beli TV di olshop X dengan harga sekian juta tapi belom dia transfer.

    Terus si penipu menghubungi rahma, ngaku-ngaku jadi saya misalnya dengan modus mau pinjam uang karena m-banking keblokir dan minta untuk ditransfer ke rekening olshop tersebut sejumlah harga TV dan minta beritanya di kosongin.

    Rahma yang ga curiga pun transfer ke rekening tersebut dan kasi bukti transfernya ke penipu. Si penipu pun menghubungi si online shop tersebut untuk mengirim barang ke tempat si penipu dan Rahma pun menagih saya karena dikiranya saya yang berhutang.

    Ribet banget kan nipunya? Melibatkan banyak pihak gitu. 

    Makanya mereka pede-pede aja nipu terus karena ga ketangkep-tangkep dan susah juga ngelacaknya. Nggak lama sesudah saya kena modus ini, beberapa teman influencer dan selebgram juga kena (bahkan masih sejumlah uang yang sama dan ditransfer ke sebuah rekening tertentu yang sama juga) 

    Kalau Kalian Mengalami Ini Maka Yang Harus Dilakukan Adalah...

    yang harus dilakukan jika tertipu penipuan online


    Dari penyidik sendiri bilang mereka juga emang nggak bisa berbuat banyak sehingga balik ke kitanya yang harus proaktif ngasi tau ke orang-orang disekitar kita bahkan kalo perlu bikin pengumuman di medsos bahwa itu adalah modus penipuan dan bukan kita yang pinjam uang.

    Jadi ya yang pertama harus kalian lakukan adalah buat pengumuman di seluruh lini media sosial kalo kalian nggak pernah pinjam uang dan itu adalah penipuan.

    Yang sempet bikin khawatir itu adalah karena pada saat terjadinya penipuan, duckofyork sedang melakukan open endorse sehingga sementara sponsored content di duckofyork pun ditutup sementara (kalian yang seneng kan karena berapa minggu nggak ada sponsored content HAHAHAAHA)  jadi langkah selanjutnya adalah mengabari pihak-pihak yang bekerjasama dengan saya untuk jangan mempercayai chat apapun yang mengatasnamakan saya selain dari chat whatsapp dengan nomer telfon yang sudah saya verifikasi. 

    Setelah membuat pengumuman, segera lapor ke kantor polisi. Langkah-langkahnya sudah saya share diatas ya. 

    Jangan lupa selalu simpan semua screenshot dan data-data terkait penipuan supaya jika sewaktu waktu dibutuhkan kalian nggak pusing nyarinya. 

    Kalau sudah jatuh korban seperti dalam kasus saya, usahakan untuk melapor bersama. Nantinya oleh polisi akan diarahkan siapa yang sebaiknya melapor dan kasusnya dijadikan satu berkas agar lebih mudah dalam proses penyelidikan.

    Jangan lupa untuk minta surat pengantar kepolisian untuk pemblokiran rekening di Bank ya, nanti bawa surat tersebut ke pihak Bank. Jika beda bank, bawa ke kantor Bank yang kalian pakai untuk mentransfer uang terlebih dahulu untuk dibuatkan surat keterangan untuk bank yang ditransfer. Jika banknya sama, cukup ke Bank tersebut saja.

    Prosesnya memang agak lama, khususnya karena di kepolisian sudah terlalu banyak kasus penipuan seperti ini yang menumpuk. Pihak bank juga biasanya kesulitan untuk menutup rekening karena biasanya uang keburu diambil/rekening dikosongkan atau bahkan itu bukan rekening si penipu.

    so that's it, that's my bad experience. Semoga kalian bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa saya ini ya. Jika ada pesan mencurigakan di messenger app, pastikan itu benar-benar teman/kerabat kalian. Jangan transfer ke rekening yang bukan atas nama teman kalian untuk berjaga-jaga. Always be vigilant and on the lookout! xoxo

    . Selasa, 18 Februari 2020 .

    3 komentar

    1. Semoga kejadian seperti ini tidak pernah terjadi lagi, kak.

      BalasHapus
    2. hehe saya sering sih ketemu gini.. kadang saya mainkan :D

      BalasHapus
    3. Pinter penipu sekarang jadi kerjaan utama, pah mau kemana? Kata mama kekantor padahalmah jadi penipu wkwkwk sampi istrinya aja ketipu wkwkw

      BalasHapus

    popular posts

    IBX5B00F39DDBE69