• about me
  • menu
  • categories
  • Agi Tiara Pranoto

    Agi Tiara Pranoto

    Seorang Blogger Indonesia yang berdomisili di Yogyakarta. Selain menulis, dia juga sangat hobi bermain game FPS. Cita-citanya adalah mendapatkan passive income sehingga tidak perlu bekerja di kantor, apa daya selama cita-cita itu belum tercapai, dia harus menikmati hari-harinya sebagai mediator kesehatan.

    Minimal Waste : OLIO - Aplikasi Untuk Sharing Makanan dan Isi Pantry Untuk Gaya Hidup Less Waste!

    Olio aplikasi untuk mengurangi foodwaste


    Kembali lagi di kehidupan minimalisku yang selain minimal barang juga minimal waste (karena kalo nggak ada barangnya, apa yang mau dibuang???)
    Jadi kemarin saya sempat berbincang dengan salah satu teman saya soal permasalahan kebanyakan belanja selama pandemi. Ini kayanya penyakit banyak orang ya? Saya juga ngerasain nih permasalahan kebanyakan belanja karena nyetok, paketan bertubi-tubi, dan impulsive/unconscious buying.

    Sebenernya bukan cuma itu sih, kadang saya masak dan jumlah masakannya berlebih, atau dapet makanan dari banyak orang sementara di rumah saya kan cuma berdua sama pak suami, jadi ya pasti masakannya nyisa banget.

    Ternyata untuk masalah food waste ini Indonesia punya riwayat yang agak jelek nih. Tahun 2017 saya baca di Jakarta Globe kalau Indonesia memegang peringkat kedua negara dengan food waste tertinggi di dunia (nomer satunya Saudi Arabia btw) sedih banget kan bacanya?

    Terus udah gitu ditambah dengan kebiasaan kita makan diluar dan kalo nggak abis maka masakan tersebut akan dibuang. Padahal sisa makanan ini selain tentunya berpengaruh kepada perekonomian, juga berpengaruh pada lingkungan :( 

    Kalian tahu nggak sih sampah dapur yang nggak diolah dengan baik bisa menghasilkan gas methane yang nantinya akan berefek buruk pada ozon :( Sama, saya baru tahu. Jadi 'jangan buang-buang makanan nanti suaminya brewokan' itu udah nggak relatable ya. Yang bener 'jangan buang-buang makanan nanti ozonnya bolong'

    Memang pucuk dicinta ulam pun tiba, salah satu teman saya mengenalkan aplikasi yang dia gunakan di luar negeri untuk berbagi makanan dan barang-barng yang memang sudah tidak terpakai lagi. Nama aplikasi untuk berbagi tersebut adalah OLIO.

    Di Indonesia nama OLIO ini emang belum terdengar tapi saya pengen sih OLIO ini bisa nge-hits di Indonesia. Di UK dan Singapore mayan rame sih pengguna OLIO ini. 

    FYI, OLIO adalah aplikasi untuk berbagi benda-benda yang nggak kita butuhkan. Selama ini di Jogja kan kita sudah terbiasa dengan sistem titip jual di depot-depot barang bekas alias barkas dan sistem 'nurunin lemari ke adek tingkat'. Nah OLIO bisa jadi solusi dari permasalahan barang-barang preloved yang ingin kita bagikan ke orang lain, tapi nggak tahu siapa.

    Saya sendiri jarang mem-preloved barang-barang yang sudah tidak saya gunakan lagi. Jadi kalau ada barang yang sudah tidak saya pakai tapi masih layak, biasanya akan saya bagikan ke teman atau kerabat yang menginginkan. Hanya saja karena semakin tua saya semakin nggak punya teman jadi yaudah numpuklah itu barang-barang. 

    which brings us to this point.

    Mencoba Berkenalan dengan Aplikasi OLIO

    aplikasi olio


    Karena ini aplikasi yang berbasis di luar negeri saya pikir nggak akan ada penggunananya di Jogja. Ternyata ada lho penggunanya meski masih sedikit sekali. 

    Kalau kalian familiar dengan aplikasi Carousel, app OLIO ini mirip dengan Carousel. Perbedaannya adalah semua yang dishare di OLIO harus dibagikan secara gratis. Aturan di OLIO ini strict, no selling, swapping ataupun minta donasi. Jadi nggak boleh digunakan untuk berjualan, barter/tuker-tukeran barang ataupun begging buat donation. 

    Setelah baca-baca aplikasi ini banyak digunakan di Eropa, UK dan Singapore. Bahkan kalau kamu google OLIO maka mereka sudah masuk dimana-mana termasuk di Guardian. Kalau dulu di Jogja sempat ada gerakan berbagi nasi bungkus dan makanan dari restoran dan kafe yang tidak terjual kepada para gelandangan, nah mungkin ini versi digitalnya.

    Getting Started with OLIO


    Jadi hal pertama yang harus kalian lakukan adalah membuat akun terlebih dahulu. Ada beberapa pilihan sih, seperti daftar dengan facebook atau e-mail. Berhubung saya orangnya males ribet jadi saya sign up pake facebook.  Sesudah itu kalian diminta membuat profile dan memasukkan lokasi rumah kalian. 



    Setelah itu kalian diminta untuk mengatur peta dimana rumah kalian untuk menentukan neighborhood terdekat. Ternyata di aplikasi OLIO ini saya punya tiga tetangga, tapi pada nggak aktif membuat listing. Mungkin karena app-nya masih baru juga di Indonesia. JADI, saya menyuruh salah seorang bala-bala duckofyork untuk membuat akun OLIO supaya saya bisa mengetes penggunaannya.



    Nanti sesudah membuat listing, kamu bisa langsung berhubungan dengan orang-orang yang mau mengambil barang yan kamu listing. Nah disini kesepakatan aja sih, mau diambil dimana dan ongkir ditanggung siapa. Sistemnya emang via message gitu, gak ada escrow atau rekening bersama buat transfer-transfer karena memang barang yang dibagikan sifatnya gratis. 


    Barang Apa Saja Yang Bisa Dibagi dengan OLIO?




    Jadi bukan hanya berbagi makanan, kamu juga bisa berbagi benda-benda non makanan misalnya kosmetik, baju, buku, dan lain-lain. Tapi karena aplikasi ini banyak fokus di food & waste sharing jadi banyak yang berbagi makanan. 

    untuk makanan, kamu bisa berbagi makanan yang kamu masak sendiri, makanan kemasan yang baru dibuka, frozen, mentah, nanem sendiri dan alkohol. Tapi kamu nggak bisa berbagi makanan yang sudah expired atau makanan yang nggak layak untuk dimakan ya.

    Untuk yang bukan makanan, kamu bisa berbagi apapun termasuk toiletries kaya shampoo, sabun, kosmetik, alat-alat dapur, buku, mainan, baju, garden equipment, furnitur dan barang-barang rumah tangga lainnya.

    Kamu ngga boleh berbagi binatang peliharaan, kupon diskon, obat-obatan dan senjata ya. Kalau misalnya kamu ketahuan melanggar, maka listing kamu bisa di take down. 

    Environmental Impact Yang Saya Rasakan Saat Menggunakan OLIO itu...



    Buat saya aplikasi ini bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan food waste dan waste lainnya. 

    Banyak sekali lho orang di sekeliling saya yang hidup secara berlebihan, misal memesan makanan berlebihan lalu tidak habis. Kalau dipikir-pikir ini sebenernya ya berdampak juga ke lingkungan, atau beli suatu barang karena nafsu doang baca review di internet terus ternyata nggak cocok.

    Belum lagi kalau dipikir pikir banyak sekali lho, kafe dan restoran yang kalau makanannya tidak habis lalu dibuang. Bukannya saya pelit ya, tapi menurut saya ini mubadzir dan buang buang makanan. 

    Jujur awalnya saya 'apa banget' dengan makanan sisa ini, tapi rasanya agak sedih juga kalau banyak makanan belum termakan yang harus dihancurkan atau dibuang saat tidak laku.... Apalagi di masa pandemi saat nggak semua orang bisa makan enak :(

    Saya juga bisa berbagi barang barang yang tidak saya butuhkan dirumah, misalnya sheet mask yang belinya bundle padahal saya cuma butuh 1, kosmetik dan skincare yang belum saya buka dan pakai, serta masih banyak lagi. Benda benda ini jadi bisa menemukan rumahnya sendiri di tempat yang membutuhkan mereka. 

    Apakah Menurut Saya OLIO Relevan digunakan di Indonesia?



    Jawabannya adalah ya.

    Karena saya melihat banyak sekali culture of excess di sekeliling saya, misal beli es kopi 1 liter dan hanya diminum seteguk, atau beli roti tawar sebungkus padahal hanya butuh setangkup. Hal hal seperti itu banyak terjadi apalagi banyak penjual yang belum menawarkan porsi personal saat berjualan bahan makanan, padahal hari gini banyak orang yang tinggal sendirian atau berdua, dimana tentunya buat sekali bikin kue mungkin tepung terigu yang terpakai hanya 250 gram saja dari bungkus 1 kilo yang dijual bebas. 

    Belum lagi kebiasaan belanja impulsif yang nggak tahu bagaimana mengatasinya.

    OLIO ini membuat sharing menjadi terasa lebih ringan dan menyenangkan dengan interface app yang mudah dipahami. Saya sih berharap kedepannya OLIO bisa ada versi bahasa indonesianya untuk menjangkau lebih banyak orang.

    Karena berbagi di OLIO gratis, mungkin akan ada lebih banyak orang yang mengharapkan listing demi mendapatkan produk gratisan, tapi budaya ini sebenarnya bisa kita ubah perlahan dengan mengajarkan gaya hidup minimalis dan less waste.

    Kendala Selama Menggunakan OLIO

    Karena sekarang member OLIO belum banyak jadi saya masih kesulitan untuk melisting barang. Selain itu OTP yang dikirimkan oleh OLIO seringkali tidak sampai, sehingga kadang malas sekali untuk resend-resend kode verifikasi berulang-ulang. Menurut saya itu cukup mengganggu. 

    Saya sempat coba pakai provider merah dan nggak perlu resend verifikasi berulang kali tapi kalau pake provider kuning sms verifikasinya nggak bisa masuk :(

    All in all, kalo OLIO bisa membetulkan isu-isu ini sih aku rasa aplikasinya bakal sangat membantu kita untuk meringankan beban hidup.

    Jadi, siapa yang mau OLIO-an sama saya? Cek link dibawah ini ya untuk kenal lebih dekat sama OLIO!

    OLIO



    Olio aplikasi untuk mengurangi foodwaste


    Kembali lagi di kehidupan minimalisku yang selain minimal barang juga minimal waste (karena kalo nggak ada barangnya, apa yang mau dibuang???)
    Jadi kemarin saya sempat berbincang dengan salah satu teman saya soal permasalahan kebanyakan belanja selama pandemi. Ini kayanya penyakit banyak orang ya? Saya juga ngerasain nih permasalahan kebanyakan belanja karena nyetok, paketan bertubi-tubi, dan impulsive/unconscious buying.

    Sebenernya bukan cuma itu sih, kadang saya masak dan jumlah masakannya berlebih, atau dapet makanan dari banyak orang sementara di rumah saya kan cuma berdua sama pak suami, jadi ya pasti masakannya nyisa banget.

    Ternyata untuk masalah food waste ini Indonesia punya riwayat yang agak jelek nih. Tahun 2017 saya baca di Jakarta Globe kalau Indonesia memegang peringkat kedua negara dengan food waste tertinggi di dunia (nomer satunya Saudi Arabia btw) sedih banget kan bacanya?

    Terus udah gitu ditambah dengan kebiasaan kita makan diluar dan kalo nggak abis maka masakan tersebut akan dibuang. Padahal sisa makanan ini selain tentunya berpengaruh kepada perekonomian, juga berpengaruh pada lingkungan :( 

    Kalian tahu nggak sih sampah dapur yang nggak diolah dengan baik bisa menghasilkan gas methane yang nantinya akan berefek buruk pada ozon :( Sama, saya baru tahu. Jadi 'jangan buang-buang makanan nanti suaminya brewokan' itu udah nggak relatable ya. Yang bener 'jangan buang-buang makanan nanti ozonnya bolong'

    Memang pucuk dicinta ulam pun tiba, salah satu teman saya mengenalkan aplikasi yang dia gunakan di luar negeri untuk berbagi makanan dan barang-barng yang memang sudah tidak terpakai lagi. Nama aplikasi untuk berbagi tersebut adalah OLIO.

    Di Indonesia nama OLIO ini emang belum terdengar tapi saya pengen sih OLIO ini bisa nge-hits di Indonesia. Di UK dan Singapore mayan rame sih pengguna OLIO ini. 

    FYI, OLIO adalah aplikasi untuk berbagi benda-benda yang nggak kita butuhkan. Selama ini di Jogja kan kita sudah terbiasa dengan sistem titip jual di depot-depot barang bekas alias barkas dan sistem 'nurunin lemari ke adek tingkat'. Nah OLIO bisa jadi solusi dari permasalahan barang-barang preloved yang ingin kita bagikan ke orang lain, tapi nggak tahu siapa.

    Saya sendiri jarang mem-preloved barang-barang yang sudah tidak saya gunakan lagi. Jadi kalau ada barang yang sudah tidak saya pakai tapi masih layak, biasanya akan saya bagikan ke teman atau kerabat yang menginginkan. Hanya saja karena semakin tua saya semakin nggak punya teman jadi yaudah numpuklah itu barang-barang. 

    which brings us to this point.

    Mencoba Berkenalan dengan Aplikasi OLIO

    aplikasi olio


    Karena ini aplikasi yang berbasis di luar negeri saya pikir nggak akan ada penggunananya di Jogja. Ternyata ada lho penggunanya meski masih sedikit sekali. 

    Kalau kalian familiar dengan aplikasi Carousel, app OLIO ini mirip dengan Carousel. Perbedaannya adalah semua yang dishare di OLIO harus dibagikan secara gratis. Aturan di OLIO ini strict, no selling, swapping ataupun minta donasi. Jadi nggak boleh digunakan untuk berjualan, barter/tuker-tukeran barang ataupun begging buat donation. 

    Setelah baca-baca aplikasi ini banyak digunakan di Eropa, UK dan Singapore. Bahkan kalau kamu google OLIO maka mereka sudah masuk dimana-mana termasuk di Guardian. Kalau dulu di Jogja sempat ada gerakan berbagi nasi bungkus dan makanan dari restoran dan kafe yang tidak terjual kepada para gelandangan, nah mungkin ini versi digitalnya.

    Getting Started with OLIO


    Jadi hal pertama yang harus kalian lakukan adalah membuat akun terlebih dahulu. Ada beberapa pilihan sih, seperti daftar dengan facebook atau e-mail. Berhubung saya orangnya males ribet jadi saya sign up pake facebook.  Sesudah itu kalian diminta membuat profile dan memasukkan lokasi rumah kalian. 



    Setelah itu kalian diminta untuk mengatur peta dimana rumah kalian untuk menentukan neighborhood terdekat. Ternyata di aplikasi OLIO ini saya punya tiga tetangga, tapi pada nggak aktif membuat listing. Mungkin karena app-nya masih baru juga di Indonesia. JADI, saya menyuruh salah seorang bala-bala duckofyork untuk membuat akun OLIO supaya saya bisa mengetes penggunaannya.



    Nanti sesudah membuat listing, kamu bisa langsung berhubungan dengan orang-orang yang mau mengambil barang yan kamu listing. Nah disini kesepakatan aja sih, mau diambil dimana dan ongkir ditanggung siapa. Sistemnya emang via message gitu, gak ada escrow atau rekening bersama buat transfer-transfer karena memang barang yang dibagikan sifatnya gratis. 


    Barang Apa Saja Yang Bisa Dibagi dengan OLIO?




    Jadi bukan hanya berbagi makanan, kamu juga bisa berbagi benda-benda non makanan misalnya kosmetik, baju, buku, dan lain-lain. Tapi karena aplikasi ini banyak fokus di food & waste sharing jadi banyak yang berbagi makanan. 

    untuk makanan, kamu bisa berbagi makanan yang kamu masak sendiri, makanan kemasan yang baru dibuka, frozen, mentah, nanem sendiri dan alkohol. Tapi kamu nggak bisa berbagi makanan yang sudah expired atau makanan yang nggak layak untuk dimakan ya.

    Untuk yang bukan makanan, kamu bisa berbagi apapun termasuk toiletries kaya shampoo, sabun, kosmetik, alat-alat dapur, buku, mainan, baju, garden equipment, furnitur dan barang-barang rumah tangga lainnya.

    Kamu ngga boleh berbagi binatang peliharaan, kupon diskon, obat-obatan dan senjata ya. Kalau misalnya kamu ketahuan melanggar, maka listing kamu bisa di take down. 

    Environmental Impact Yang Saya Rasakan Saat Menggunakan OLIO itu...



    Buat saya aplikasi ini bisa menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan food waste dan waste lainnya. 

    Banyak sekali lho orang di sekeliling saya yang hidup secara berlebihan, misal memesan makanan berlebihan lalu tidak habis. Kalau dipikir-pikir ini sebenernya ya berdampak juga ke lingkungan, atau beli suatu barang karena nafsu doang baca review di internet terus ternyata nggak cocok.

    Belum lagi kalau dipikir pikir banyak sekali lho, kafe dan restoran yang kalau makanannya tidak habis lalu dibuang. Bukannya saya pelit ya, tapi menurut saya ini mubadzir dan buang buang makanan. 

    Jujur awalnya saya 'apa banget' dengan makanan sisa ini, tapi rasanya agak sedih juga kalau banyak makanan belum termakan yang harus dihancurkan atau dibuang saat tidak laku.... Apalagi di masa pandemi saat nggak semua orang bisa makan enak :(

    Saya juga bisa berbagi barang barang yang tidak saya butuhkan dirumah, misalnya sheet mask yang belinya bundle padahal saya cuma butuh 1, kosmetik dan skincare yang belum saya buka dan pakai, serta masih banyak lagi. Benda benda ini jadi bisa menemukan rumahnya sendiri di tempat yang membutuhkan mereka. 

    Apakah Menurut Saya OLIO Relevan digunakan di Indonesia?



    Jawabannya adalah ya.

    Karena saya melihat banyak sekali culture of excess di sekeliling saya, misal beli es kopi 1 liter dan hanya diminum seteguk, atau beli roti tawar sebungkus padahal hanya butuh setangkup. Hal hal seperti itu banyak terjadi apalagi banyak penjual yang belum menawarkan porsi personal saat berjualan bahan makanan, padahal hari gini banyak orang yang tinggal sendirian atau berdua, dimana tentunya buat sekali bikin kue mungkin tepung terigu yang terpakai hanya 250 gram saja dari bungkus 1 kilo yang dijual bebas. 

    Belum lagi kebiasaan belanja impulsif yang nggak tahu bagaimana mengatasinya.

    OLIO ini membuat sharing menjadi terasa lebih ringan dan menyenangkan dengan interface app yang mudah dipahami. Saya sih berharap kedepannya OLIO bisa ada versi bahasa indonesianya untuk menjangkau lebih banyak orang.

    Karena berbagi di OLIO gratis, mungkin akan ada lebih banyak orang yang mengharapkan listing demi mendapatkan produk gratisan, tapi budaya ini sebenarnya bisa kita ubah perlahan dengan mengajarkan gaya hidup minimalis dan less waste.

    Kendala Selama Menggunakan OLIO

    Karena sekarang member OLIO belum banyak jadi saya masih kesulitan untuk melisting barang. Selain itu OTP yang dikirimkan oleh OLIO seringkali tidak sampai, sehingga kadang malas sekali untuk resend-resend kode verifikasi berulang-ulang. Menurut saya itu cukup mengganggu. 

    Saya sempat coba pakai provider merah dan nggak perlu resend verifikasi berulang kali tapi kalau pake provider kuning sms verifikasinya nggak bisa masuk :(

    All in all, kalo OLIO bisa membetulkan isu-isu ini sih aku rasa aplikasinya bakal sangat membantu kita untuk meringankan beban hidup.

    Jadi, siapa yang mau OLIO-an sama saya? Cek link dibawah ini ya untuk kenal lebih dekat sama OLIO!

    OLIO



    . Kamis, 16 Juli 2020 .

    31 komentar

    1. Wah baru tau nih mbak.
      Aku juga dulu kebetulan kuliah di Jogja juga jadi bener2 ngerasain gimana dapet barang "turunan" ahahaha
      Well, seandainya OLIO ini bisa viral kyk aplikasi yg lain itu bakal2 keren bgt sih tapi khawatir juga ga sih kalo orang deket tau bisa2 mereka nungguin barang bekas mulu gamau beli apa2 alias jadi pelit ahahaha

      BalasHapus
      Balasan
      1. wkwkw, sebagai sesama anak jogja yang dapet lungsuran, aku mau bilang: IYA BANGET!

        tapi gapapa lho kalo pada mau pake barang second hand karena sebenernya itu bagus banget untuk environment kita hehehe

        Hapus
    2. 'jangan buang-buang makanan nanti ozonnya bolong'
      Sepakaaatt dgn kalimat ini
      Wehh, bakalan demen banget sama app OLIO nih.
      Ngebantu bumi kita supaya tetep sehaaatttt

      BalasHapus
      Balasan
      1. install dong mba, nanti kita olio-an barengggg!

        Hapus
    3. Wah, aplikasi yang sangat bagus nih, membantu kita2 yang berniat berbagi makanan dan barang2 lainnya. Betul sekali mbak, janganlah kita berlebih2an dalam segala hal. Jika ga mau dimakan atau dipakai, lebih baik berikan saja kepada orang2 yg memerlukan. Kecuali barang yg memiliki nilai histori dll ya disimpan aja. Olio ini bisa dicoba ah, ternyata ga sulit ya menggunakannnya.

      BalasHapus
      Balasan
      1. gampang banget kok pakenya, ayo mak kalo udah pake kan lumayan kita bisa tuker-tukeran barang hehehe

        Hapus
    4. App OLIO ini bermanfaat banget untuk berbagi barang yang nggak dipakai atau bahan makanan berlebih daripada mubazir. Coba deh ngintip appnya siapa tahu ada yang pakai OLIO juga di sekitar saya.

      BalasHapus
      Balasan
      1. kalo di jogja ada aku yang bisa diajak olioan bareng! <3

        Hapus
    5. Saya mau deh lihat apps OLIO. Memang kadang-kadang suka belanja lebih karena ada bundle atau promo gitu. Nah, siapa tau kan kemudian bisa tukeran atau dibagi di sana

      BalasHapus
      Balasan
      1. iyesss seru sih kalo bisa tuker-tukeran barang terutama yang belanjanya nyetok gitu dan ada item promo yang bundlingan atau kelebihan beli

        Hapus
    6. Bagus ya ada aplikasi OLIO ini.
      Saya itu kadang mau bagikan barang-barang yang udah nggak saya pakai ke kerabat, tapi maju mundur, karena bagaimanapun itu kan "barang bekas". Soalnya pernah ngasih terus ada kerabat yang nyinyir "masa aku di kasih barang bekas"

      Akhirnya sekarang kalau ada barang yang udah nggak terpakai, saya minta ART saya untuk membawa dan membagikannya pada para tetangganya yang kira-kira membutuhkan. Alhamdulillah diterima dengan baik, sampai ada yang ke rumah ngantar makanan sebagai ucapan terima kasih.

      BalasHapus
    7. Andai bisa diterapkan di Indonesia ya. Soalnya masih banyak orang yang mubazir dalam memesan makanan dan menyimpannya lalu gak bisa menghabiskan semuanya.

      BalasHapus
    8. fix, gw pengen cepet2 balik jogja nih gi abis baca ini

      BalasHapus
    9. Asyik kalau ada OLIO sekarang.
      Dulu saat 2009-2011 aku tinggal di Amerika ada grup Freecycle. Ini ada di beberapa negara. Mencari dan membagikan secara free barang dan makanan. Ada di Yahoo Group waktu itu. Aku waktu itu dapat: baju Muslim, perlengkapan bayi, sepeda anak, buku anak, mainan ....sampai jeruk :D. Aku juga ngasih free waktu balik ke Jakarta, perlengkapan bayi ke anggota grup lainnya. Tapi waktu di sana ga pake kirim"kiriman. Cuma ditaruh di halaman atau depan gerbang apartemen aja. Terus kita dikasih alamat dan ambil barangnya.
      Keren banget kalau ada OLIO begini karena pasti ada orang yang bingung mau kasih siapa barang yang sudah tidak dipakai, berlebihan jumlahnya atau makanan yang ga habis dimakan

      BalasHapus
    10. Bener banget ini sampah makanan tuh masih jadi PR banget di kita ya, karena bukan sampah plastik aja yang terbesar di Indonesia. Aku nih beberapa kali buang makanan karena masak berlebih atau kadang ada yang kesimpan lupa digunakan akhirnya expired. Aku pengen nyobain si aplikasi Olio juga ah.

      BalasHapus
    11. AKu baru tau aplikadi olio ini, tadi awalnya aku pikir makanan. Jadi di aplikasi ini kita bisa upalod barang yang mau dikasihkan gitu ya. Jadi pingin download nih mau lihat di sekitar rumahku ada yang pakai juga gak ya

      BalasHapus
    12. Berbagi barang yang tak kita butuhkan tapi kondisinya baik, mungkin ini solusi agar rumah tak jadi gudang ya Mbak. Tapi kalau berbagi makanan, saya kok ragu ya. Kalau makanan bekas atau kemasan sudah dibuka misalnya, takutnya sudah rusak begitu diambil oleh yang membutuhkan

      BalasHapus
    13. Belum pernah pakai Olio mba. Tapi pengen nyoba juga sih. Smoga masukan dari mba jadi semacam masukan untuk perbaikan selanjutnya ya :)

      BalasHapus
    14. Saya langsung download ah. Soalnya berasa banget di rumah sudah banyak banget banget dan banget barang yang tidak digunakan yang malah menumpuk tidak karuan.

      BalasHapus
    15. Unik juga nih..dan solusi banget ya untuk minimalis lifestyle.. Semoga semakin banyak penggunanya yaa

      BalasHapus
    16. Eh, ada aplikasi juga yang membuat solusi tentang masalah food waste. Iya, bener banget, Mbak, seringkali kita beli makanan berlebih yang ujung-ujungnya dibuang. Mubazir, secara agama juga gak bagus buang-buang makanan.

      Semoga makin banyak pengguna OLIO, agar kita bisa secukupnya saja memakan atau menggunakan sesuatu.

      Ish ish, Indonesia pernah jadi peringkat dua untuk sampah sisa makanan. :(((

      BalasHapus
    17. Keren ya yg mencetus aplikasi OLIO inj mau bnget sistem OLIO harus dibagikan secara gratis. Aturanny Juga bagus, no selling, swapping ataupun minta donasi. Jadi nggak boleh digunakan untuk berjualan, barter ataupun buat donation. Mau unduh ah

      BalasHapus
    18. Food waste ini aku sering ngalamin, makanya serang udah jarang nyetok makanan banyak. Terlebih dalam islam buang makanan itu kan mubazir. Solusinya memang dikasihkan.
      Mau coba gabung di OLIO nih, Mba.

      BalasHapus
    19. Wah keren ini aplikasi. Tempo hari baru baca soal gerakan berbagi ini makanan "sisa", tapi belum pakai aplikasi (duuh, kata sisa sampai saya kasih tanda kutip krn kalau di sini makanan sisa itu kesannya uda rusak gitu, padahal kalau misal roti yang uda dibuka, masih bersih, tapi belum ED kan masih layak buat dibagi). Beberapa waktu lalu baca topik ini di detik.com, tentang mengoordinir dan membagi makanan2 sisa (nggak habis) dari hotel/resto/catering untuk dibagikan ke orang2 yang membutuhkan

      BalasHapus
    20. wah, i will kepo nih with OLIO..similiar word with KALIO, hahaha. Who development, from Padang kah ?

      BalasHapus
    21. Food waste ini memang kadang ga kekontrol apalagi kalau ada tambahan macam-macam :(

      Tapi ada ini jadi bisa sharing banyak ya apalagi food yang kebanyakan bingung mau kemana

      BalasHapus
    22. Baru tahu soal aplikasi olio
      bisa banget ini ya, buat memasarkan yang udah nggak kita pengenkan.
      Mayan meminimaliskan

      BalasHapus
    23. Waah aku baru tau ada aplikasi OLIO ini. Membantu sekali ya. Bisa saling berbagi barang yang tidak dibutuhkan lagi atau makanan jika kita membeli dalam jumlah banyak tapi butuhnya cuma sedikit.

      BalasHapus
    24. Waah baru tau nih mba ada aplikasi OLIO ini. Kebetulan banget pengin gitu ngeluarin baju or buku yang numpuk di rumah tapi ga tau kudu ke siapa gitu ngasihnya. Pas banget kalik ya pake OLIO ini. Kalau makanan jarang beli banyak-banyak, pas untuk dimakan aja biasanya.

      BalasHapus
    25. Saya baru tahu tentang OLIO ini dan sangat tertarik untuk mencoba. Selama ini kami jarang belanja produk kemasan besar dikarenakan kebutuhan tidak banyak. Kalaupun akhirnya beli, saya harus memutar otak bagaimana untuk menghabiskannya. Paling galau itu kalau dikasih orang. Misal oleh-oleh atau hasil kebun. Tentunya bersyukur karena itu rejeki tapi kalau nggak habis suka sedih sendiri.

      BalasHapus
    26. So more applications to help us running our lives better and better every day? This will be lovely and I would like to try that

      BalasHapus

    popular posts

    IBX5B00F39DDBE69