Melawan Nyamuk dengan Nyamuk: Eliminate Dengue Project Yogyakarta

Hari itu, Kamis 9 November 2017, mendung merundungi kota Sleman dan Yogyakarta. Saya berhenti di perempatan MM UGM karena beberapa pengen...


Hari itu, Kamis 9 November 2017, mendung merundungi kota Sleman dan Yogyakarta. Saya berhenti di perempatan MM UGM karena beberapa pengendara motor didepan saya berhenti untuk memakai jas hujan. Gerimis rintik-rintik mengiringi perjalanan saya menuju Insektarium Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta di Jalan Podocarpus I, sekitar 200 meter dari Fakultas Kedokteran UGM.

Jujur, saya tidak tahu apa yang ada didalam kepala saya waktu saya mengiyakan ajakan untuk datang ke EDP Yogyakarta. Belum lagi ketika mendengar isi laboratorium yang diprakarsai oleh Fakultas Kedokteran UGM dan Yayasan Tahija Jakarta itu adalah nyamuk, dan nyamuk!
Saya takut sekali dengan serangga. Kumbang, nyamuk, lalat, kecoa, bahkan semut, you name it. Sahabat terbaik saya dirumah adalah insektisida. Peduli setan dengan dampak insektisida pada kesehatan saya, yang penting batin saya tenang, begitu menurut saya dulu.

Soal nyamuk juga saya tidak main-main. Di jakarta dulu, bapak saya adalah penggerak lingkungan, pemantau Jumantik alias juru pembasmi jentik, dan hobinya sebagai Pak RW adalah mengirim surat ke puskesmas untuk meminta fogging setiap ada warganya yang terkena demam berdarah. Alih-alih nyamuk, kebanyakan yang bergoleran dihadapan saya setelah fogging adalah kecoa.

Jadi, ketika saya mendengar bahwa EDP Yogyakarta melawan nyamuk demam berdarah dengan nyamuk demam berdarah lainnya, yang ada dibayangan saya adalah tawuran antar golongan nyamuk. Jadi nyamuk-nyamuknya bawa pentungan, gir, obeng terus pukul-pukulan crows zero style sambil teriak-teriakan "GENJEEEEH" "SEREZAWAAAHH" "OREEEAAHHH"

(buat yang belum nonton Crows Zero, saya sangat sarankan buat nonton film ini untuk tahu kenapa sebenarnya tawuran antar pelajar di Indonesia itu nggak serem-serem amat, oke skip)


Para Nyamuk Baik

Tidak semua nyamuk itu adalah nyamuk jahat, well, paling nggak itu yang saya pelajari hari ini. 

Nyamuk yang dikembangbiakan di EDP Yogyakarta memang bukan nyamuk biasa. Nyamuk-nyamuk ini adalah nyamuk Aedes Aegypti, nyamuk yang biasa kita kenal sebagai nyamuk demam berdarah. Menurut Pak Warsito Tantowijoyo, Ph.D., ada berbagai jenis nyamuk yang akrab dengan kita misalnya jenis Cullex yang hobi bikin bunyi berdenging super annoying kalo lagi ronda, tapi di EDP Yogyakarta, penelitian difokuskan pada nyamuk Aedes Aegypti karena selain menyebarkan virus dengue yang berakibat Demam Berdarah Dengue alias DBD juga menyebarkan berbagai penyakit lainnya, misalnya Zika.



Beberapa hari yang lalu, saya membaca tweet dari Conrad Hackett yang dilengkapi dengan infografis dari blognya Bill Gates atau GatesNotes dimana nyamuk membunuh lebih banyak orang daripada ikan hiu, gajah, anjing atu bahkan orang sendiri. Angka ini bikin merinding-merinding sedap karena ternyata ternyata memang lebih banyak orang yang mati karena nyamuk.

Pak Warsito bercerita bahwa penularan penyakit yang dilakukan oleh nyamuk terjadi saat nyamuk menghisap darah manusia yang terkena penyakit, lalu kemudian menghisap darah orang lain yang sehat. Pada saat itu terjadi transfer penyakit, bahkan bukan cuma dengue fever alias demam berdarah yang dibawa oleh si nyamuk tapi bisa jadi penyakit-penyakit lain juga terbawa

Lalu bagaimana EDP menggunakan nyamuk Aedes Aegypti untuk membasmi DBD? EDP menggunakan bakteri alami yang bernama Wolbachia. Bakteri ini ada pada hampir semua serangga, kecuali nyamuk. Ketika nyamuk disuntikkan dengan bakteri Wolbachia, dia tidak bisa menularkan virus dengue lagi, bahkan virus-virus lainnya juga cenderung tidak bisa ditularkan lagi.

Nah Wolbachia di EDP diambil dari lalat buah yang kecil-kecil. Eksperimen ini pertama kali dilakukan di Monash University, dimana nyamuk disuntikkan dengan bakteri yang diambil dari lalat. Pada awalnya susah sekali untuk menyuntikkan nyamuk dengan bakteri wolbachia, namun ketika pada akhirnya eksperimen tersebut berhasil, diketahui bahwa nyamuk yang memiliki bakteri wolbachia tidak dapat menularkan penyakit dengue.

Berhubung kayanya PR banget kalo kita harus nyuntikin nyamuk-nyamuk sedunia dengan bakteri (kebayang nggak, sekecil apa jarumnya?) akhirnya para peneliti yang super kreatif ini memutuskan untuk mengembangbiakkan para nyamuk berwolbachia ini. Maka, berkembangbiaklah mereka di insektarium milik EDP ini

Kiri: Pak Warsito Tantowijoyo, Ph.D, Entomolog EDP sedang menerangkan soal Persebaran Nyamuk Aedes Aegypti di Yogyakarta
Kanan: Strip berisi ratusan telur nyamuk berwolbachia untuk dilepas di Yogyakarta
Insektarium merangkap laboratorium EDP ini memang sangat mudah kita lewati begitu saja, karena bangunannya tidak mencolok. Hanya ada sebuah plang yang tertempel di muka gedung dengan tulisan Eliminate Dengue Project. Pada saat saya datang, terdapat beberapa pegawai berjas laboratorium keluar masuk sebuah ruangan bertuliskan Mosquito Rearing Unit. Tidak saya kira bahwa saya diberikan kesempatan untuk masuk kedalam ruangan tersebut.



Disini terdapat beberapa ruangan yang memiliki fungsinya masing-masing. Kesamaan dari tiap ruangan adalah memiliki freezer dan ditutup kain kelambu dengan bahan berjaring mirip kasa. Seorang relawan EDP menceritakan pengalamannya bekerja di "peternakan" nyamuk ini.

Jadi, nyamuk-nyamuk yang sudah dikembangbiakkan tersebut kemudian diambil telurnya dan diletakkan di kertas oranye dengan strip putih tersebut. Satu strip kertas bisa mengandung 100-150 telur nyamuk yang siap ditetaskan. Penetasannya sangat mudah; karena nyamuk aedes aegypti senang berkembang biak di air bersih, maka telur cukup dicelupkan kedalam air bersih kemudian ditunggu, dalam kurun waktu 1 - 24 jam, telur-telur tersebut sudah menetas, kemudian dalam 7-14 hari, mereka siap menjadi nyamuk dewasa.

(Itu kenapa kita harus inspeksi bak air dirumah gaes, aedes aegypti cepet banget berkembang biaknya!)

Kemudian nyamuk-nyamuk dewasa yang sudah menetas ditaruh didalam sebuah box transparan dengan lubang berkasa yang hanya cukup dilalui oleh moncong mereka. Seorang relawan yang gagah berani kemudian meletakkan tangannya diatas lubang tersebut.

"Ngapain mas?" tanya kami penasaran

"Saya lagi ngasih makan nyamuk mbak!"

Mas yang pemberani itupun bercerita bahwa dirinya sudah beberapa lama menjadi relawan di EDP. Untuk menjadi relawan, harus dites dulu darahnya agar tidak mengontaminasi si nyamuk. Kemudian, kamu harus duduk selama 15 menit dan 'menikmati' sensasi digigit nyamuk terus menerus sampai para nyamuk kenyang kemudian mengisi form laporan.

Nyamuk aedes aegypti cenderung menyukai orang bergolongan darah O, walaupun kalau dirumah anda tidak ada orang dengan golongan darah O, dia bisa kok makan golongan darah lainnya. Cuma ibarat kata kalo darah bergolongan O adalah steak, nah golongan darah lainnya adalah nasi sambel angkringan, gitu aja.

(jangan tanya saya nyamuk ada yang vegetarian apa nggak, karena nggak ada, titik)


Wolly Mubeng Yogya - Cerita Para Relawan Lapangan EDP

Tidak hanya di insektarium, para relawan EDP juga turun kelapangan untuk prosesi 'antar-jemput' nyamuk. Jadi, sebelum nyamuk dengan wolbachia dilepas di lapangan, sebelumnya harus diketahui apakah di wilayah tersebut terdapat nyamuk aedes aegypti. tujuannya agar nantinya nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia ini bisa kawin dengan nyamuk tanpa wolbachia dan kemudian menelurkan nyamuk-nyamuk dengan wolbachia yang tidak menularkan penyakit.


Para peneliti menggunakan aplikasi mobile untuk melacak rumah-rumah yang dipasangi Sentinel Trap untuk menangkap nyamuk aedes aegypti dewasa untuk dibawa ke laboratorium. Nyamuk-nyamuk ini nantinya dikawinkan dengan nyamuk ber-wolbachia untuk bisa menghasilkan telur-telur nyamuk, kemudian dilepas lagi di lokasi tempat dia ditangkap.

Kenapa harus gitu? karena kalau nyamuk laboratorium yang dilepas, kemampuan adaptasi dan bertahan hidupnya nggak akan sebaik nyamuk yang diambil dari 'habitat asli'nya 

Nah, berhubung ini Jogja, tentunya ada budaya 'kulo-nuwun' yang harus dilakukan oleh para relawan-relawan EDP ini. Kulo Nuwun sendiri artinya permisi, jadi sebelum menjadikan suatu wilayah sebagai lokasi penangkapan atau pelepasan nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia, EDP harus melakukan serangkaian perizinan kemudian duduk bersama masyarakat untuk menjelaskan soal wolbachia. 

Disini lahir gerakan Wolly Mubeng Yogya, atau Wolly Keliling Jogja. Wolly--maskot nyamuk milik EDP, diajak keliling Jogja oleh para relawan untuk memperkenalkan alternatif baru dalam pertarungan panjang melawan DBD. Pendekatan ke masyarakat ini jelas tidak mudah, karena masih terdapat masyarakat yang takut dengan efek samping dari nyamuk ber-wolbachia.

Jangan takut, karena bakteri wolbachia tidak akan menular ke manusia lewat nyamuk, soalnya bakteri ini lebih besar ukurannya dari mulut nyamuk, sehingga ia tidak bisa keluar dari si nyamuk. Bakteri ini juga tidak menimbulkan efek samping apa-apa pada manusia, dia cuma mencegah nyamuk untuk menularkan berbagai virus dan penyakit.

Sample nyamuk yang 'dijemput' dari tempat masyarakat sendiri diteliti oleh para laboran di EDP. Nyamuk-nyamuk dipisahkan berdasarkan spesiesnya. Cara membedakannya? dengan menggunakan mikroskop. Saya menjadi saksi betapa multi-taskingnya para laboran ini, satu tangan memisahkan nyamuk dengan pinset dan tangan satunya mencatat hasil laporan. 

Mengintip Nyamuk Lewat Mikroskop - memisahkan berbagai spesies nyamuk yang diambil dari lapangan bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan kehati-hatian dan ketajaman mata agar tidak merusak sampel yang sudah ada.
didalam tabung ini ada nyamuk - sampel-sampel nyamuk ini kemudian dibawa ke Mosquito Rearing Unit untuk kemudian dikembangbiakkan
Petualangan saya di EDP hari itupun berakhir dengan rasa lega luar biasa. Rasa lega itu muncul karena penelitian EDP sudah berada ditahap akhirnya, dimana nantinya penelitian ini bisa kemudian dikembangkan untuk mengurangi angka DBD di Yogyakarta.

Berbagai wilayah yang sudah menjadi wilayah percobaan EDP di Yogyakarta terbukti sekarang mulai bebas dari DBD. Saya memiliki harapan nantinya penelitian ini bisa direplikasi di wilayah-wilayah lainnya yang rawan DBD. Bahkan tidak hanya DBD, besar harapan bahwa nyamuk-nyamuk dengan wolbachia ini bisa melindungi kita dari ancaman penyakit zika serta penyakit-penyakit lainnya yang dibawa oleh nyamuk. 

Hujan pun telah berganti dengan senja yang semakin menguning, dan saya kembali berada didalam mobil yang menggelindingkan rodanya, menuju kemacetan kota Yogya yang semakin bebas DBD.

You Might Also Like

5 comments

  1. What.. nyamuknya beneran di kasih makan sama orang?? baru tau.. acaranya keren kie.. buat diriku sedikit diluar nalar tapi ternyata ada kegiatan kaya gitu..

    ReplyDelete
  2. Proyek EDP ini baru diteliti di Sleman, Kota Jogja dan Bantul. Jika berhasil bisa dijadikan percontohan untuk daerah lain di Indonesia. Semangaaat!

    ReplyDelete
  3. Meski ceritanya panjang dan tadinya takkira berat, ternyata asik dan seru juga. Seneng ada yang peduli dan mengembangkan penelitian ini buat ngatasin DBD. :D

    ReplyDelete
  4. Ternyata kasus kematian karena nyamuk banyak juga ya. Aku baca artikel ini, biarpun panjang malah penasaran jadi pengen ikutan liat kegiatan disana langsung. Keren banget

    ReplyDelete
  5. Aduh salut deh sama penelitian ini, gak kebayang satu persatu nyuntik nyamuk, apalagi si mas yg ngasih makan nyamuk, kaya apa itu rasanya, gateeeelll

    ReplyDelete

I'm Part of:

Blogger Perempuanpostimage

Instagram Feeds