Fuerdai Generation: Salahkah Lahir dengan Privilese?

Orang Indonesia suka banget sama yang namanya sob stories,  alias cerita sedih. Kenapa saya tahu? karena saya juga orang Indonesia. H...



Orang Indonesia suka banget sama yang namanya sob stories, alias cerita sedih. Kenapa saya tahu? karena saya juga orang Indonesia. Hari-hari saya (yang konon produktif itu) pernah dihabiskan untuk rebutan remote dengan ibu saya yang ngotot pengen nonton film india yang ceritanya sedih banget ituh. Kalau saya bilang film-film itu nggak mendidik, ibu saya akan mengeluarkan jurus utamanya; "ini banyak pesan moralnya!"

Ah iya, pesan moral. Sebuah kalimat yang paling bikin saya keki semasa SD. Saya nggak tahu gimana kondisi anak SD jaman sekarang, tapi sumpah, jaman saya SD, pelajaran bahasa Indonesia itu didominasi dengan tugas "jelaskan pesan moral yang bisa kita tarik dari cerita diatas" "buatlah karangan dengan menyertakan pesan moralnya". moral, moral dan moral.

Don't get me wrong, nggak ada yang salah dengan pesan moral. Saya pikir pesan moral itu bagus untuk generasi muda, namun nggak semua pesan moral itu harus dikemas dalam jalan cerita basi dimana si A adalah tokoh cantik, pintar, saleha namun extra-teraniaya terus kemudian dia ketemu si B yang ganteng, kaya, tajir terus jatuh cinta dan muncullah tokoh-tokoh antagonis yang berusaha menghancurkan si A--walaupun entah dengan cruel twist of fate, si A bakal tetap menang.

Because nobody hates the happy ending, right?

Kita semua seringkali terlalu terlarut dengan kisah-kisah sedemikian rupa, sampai di dunia nyata kita mulai 'mengantagonisasi' orang-orang yang kondisinya jauh lebih baik dari kita. Semua seolah-olah untuk bisa menjadi orang nomer satu kita semua harus 'dianiyaya' terlebih dahulu. Padahal kenyataannya emang ada kok orang yang hidupnya menurut kita lebih bahagia tapi menurut dianya mah biasa aja.

Mungkin ada yang familiar dengan istilah fuerdai? Fuerdai adalah istilah yang digunakan oleh orang-orang Tiongkok sana untuk menyebut anak-anak 'orang kaya baru'. Setelah reformasi di Tiongkok pada tahun 1970, munculah generasi baru yang sekarang menjadi tiang pancang perekonomian disana. Generasi ini kemudian berevolusi menjadi pengusaha, pemilik pabrik, profesor, politisi, dan lain-lain yang menghasilkan perputaran uang yang luar biasa.

Sialnya, meskipun generasi ini sukses mencetak devisa dan pundi-pundi uang bagi negara mereka (dan diri mereka sendiri, of course) anak-anak mereka kemudian menjadi 'korban' dari kesuksesan ini. Anak-anak ini kemudian dipandang oleh masyarakat sebagai anak-anak yang bebas, bisa menjadi apapun--kecuali menjadi seperti (atau lebih tepatnya sesukses) orang tua mereka.

Awalnya sih, istilah ini cuma dipakai untuk menyebut golongan anak-anak orang kaya ini. Sekarang istilah fuerdai ini dipakai secara 'nyinyir' untuk menyebut siapapun yang menikmati privilege dalam kehidupan mereka. And that, my friend, is why we're here today.


Salahkah Lahir dengan Privilese? 

Kamu nggak mungkin menyalahkan orangtuamu atas kesuksesan mereka. It's just plain stupid. Nggak ada yang salah dengan terlahir di keluarga yang penuh dengan kesuksesan. Kamu pun nggak bisa memilih mau lahir di keluarga yang mana kan?

Well, kalau bisa, udah dari dulu mungkin saya milih lahir di keluarganya Obama. atau Gordon Ramsay. atau Obama, definitely Obama. (Keluarga Obama adalah #familygoals buat saya saat ini pokoknya)

Antagonisasi privilese ini paling sering ditunjukkan dengan membuat seolah-olah orang sukses itu nggak tahu susah--dan anak-anak mereka cuma anak-anak manja yang nggak tahu gimana rasanya sepedaan 3 kilo cuma supaya bisa sekolah. Sounds so familiar right?

Masalah kehidupan orang-orang yang lahir dengan privilese kadang dimentahkan dengan kalimat "wah lo kurang bersyukur", "gitu aja nyerah", "dasar kelas menengah ng*he" dan lain sebagainya. Padahal semua orang, kaya maupun miskin, punya masalah kehidupan sendiri-sendiri. 

Kita sangat suka dengan cerita sedih sampai-sampai kadang nih ya, kalau ada anak orang kaya, pintar, lulus dengan nilai yang bagus, mau dia jungkir balik biayain sekolahnya sendiripun, dia bakal kalah di mata masyarakat sama anak orang yang datang dari keluarga nggak punya tapi bisa lulus sekolah juga. Kenapa? karena kita semua langsung berasumsi bahwa si anak orang nggak punya itu harus melewati berjuta rintangan untuk bisa lulus (which is true) dan si anak orang kaya tinggal berangkat sekolah aja jadi.

ai ekspektasi orangtuanya yang nggak masuk diakal, padahal orangtuanya lebih sibuk ngurusin bisnis ketimbang anak kan? Kita nggak tau apakah si anak orang kaya berusaha keras begadang 3 hari 3 malem biar bisa lulus sesu

Kita nggak tau apakah si anak orang kaya berusaha bayar uang kuliahnya sendiri karena orangtuanya ngajarin kerja keras kan? Kalaupun tahu, reaksi pertama orang biasanya adalah nanya, "lho, kok nggak minta orangtua lo?" "yaela bokap lo tajir masa anaknya begini" (kalo ada yang ngomong begini, saya pengen teriak di kupingnya "lo coba gih sono jadi anak bapak gue!!!!")


This Is When Things Started to Get Personal...

Jujur aja, meskipun orangtua saya nggak kaya-kaya amat, saya pernah mengalami hal seperti itu. 

Rasanya gimana? Ya sakit lah! Gile lo! 

seolah-olah, nggak ada yang inspiratif kalau kamu lahir dari keluarga yang berkecukupan, punya prestasi akademis dan non akademis yang bagus, terus sukses dalam kehidupan, nggak ada! Kenapa? Karena semua orang beranggapan kalau kamu sudah seharusnya sukses. Kalau kamu nggak sukses, orangtuamu bakal membawa kamu ke kesuksesan. Kalau kamu males kerja? ongkang-ongkang kaki aja dirumah, uang jajan mengalir sendiri.

Nggak ada yang peduli kamu bakal berdarah-darah diluar sana ditikam teman dan saudara yang mendekati kamu cuma karena uang. Nggak ada yang urusan kalau orangtuamu tidak punya waktu buat kamu karena semua sudah digantikan dengan uang, uang dan uang!

Oke, uang itu penting dan saya yakin nggak ada orang yang kepengen susah dimuka bumi ini, but it's not everything! Hanya karena orang lain kelihatan lebih beruntung daripada kita, bukan berarti hidup orang itu mulus dan menyenangkan. 

Status sosial dan ekonomi itu nggak bikin seseorang imun dari depresi, sakit hati, angkara murka, dan  lain-lain. Hanya karena kamu punya duit nggak berarti terus hidupmu gemah ripah loh jinawi. 

But we loved to point fingers, don't we? 

Lebih nyaman untuk menunjuk kekurangan-kekurangan orang lain ketimbang melihat ke dalam diri sendiri terus bersyukur atas apa yang kita punya sekarang. Mungkin akan ada beberapa orang yang menuding saya yang berprivilese ini nggak tau apa-apa soal kesusahan. I don't care. Saya mah kalo pas susah nggak mau bikin pengumuman (kalo iya, saya bisa bikin pengumuman panjang lebar tiap akhir bulan)

Lebih enak kan kalo ada tokoh antagonis dalam hidup kita yang bisa kita salah-salahin? *pasang tampang nyinyir*. Ketimbang berusaha untuk menjadi sesukses orangtuanya si Fuerdai, kita lash-out dan menumpahkan segala rasa iri dengki hasad envy kepada anaknya--sang Fuerdai, karena mereka lahir dari keluarga yang sukses. Terserah si Fuerdai mau ngapain, orang kaya mah bebas! *sarkastis mode: on*


Tapi Kenyataannya...

Kita semua memang suka sama cerita sedih. Makanya drama istri teraniaya-suami selingkuh-istri tetap memaafkan dan mendoakan meskipun selingkuhannya jahara luar biasa laku keras berseason-season di TV Indonesia. Kita senang melihat orang tertindas menang karena kita semua merasa tokoh orang tertindas jauh lebih relatable ketimbang tokoh kelas menengah ngehe yang hidupnya datar-datar aja. 

And i'm guilty of these stuff(s) too. Saya dulu sering nonton Jerry Springer dan menyadari kenapa Jerry Springer dan acara TV nya (yang menurut saya super-duper-unfaedah itu) ditonton berjuta-juta orang. 

When the days gets crappy, you can turn on the tube, and watch people had a crappy life, and you suddenly feel good about yourself. 

and that is a privilege too.

Sampai sini mungkin kamu mulai mengerutkan kening dan mulai nyumpahin saya dalam hati. Iya, postingan kali ini memang nggak ada pesan moralnya--apalagi pesan sponsor hehehe. Yang jadi poin saya adalah; kamu nggak perlu merasa bahwa dunia harus menganiaya kamu supaya doamu didengar Tuhan--nggak perlu merasa harus musuhin orang-orang yang punya kesempatan yang lebih dari kamu kalau misalnya kamu dikecewakan.

Kamu tahu obat terbaik dari kecewa? Mencoba lagi. dan lagi. dan lagi. Jack Ma, orang terkaya di China sono juga pernah ditolak waktu ngelamar kerja di KFC, and look at him now! Selalu ada langit diatas langit. Jadi jangan menyerah ketika kamu ngerasa semua orang bisa dapet apa yang mereka mau dengan gampang!

I know, i sounds exactly like those privileged women on fake motivational seminar, tapi percaya deh, ketimbang kita saling salah-salahan, saling benci-bencian, mending semua energi itu kita pake untuk melakukan hal-hal yang bisa mencapai cita-cita kita. 

Cita-cita saya sih, bisa ongkang ongkang kaki di langit yang ada diatas langitnya Jack Ma. 

See you next time!

You Might Also Like

2 comments

  1. Iniii aku pernah banget lho mbak mikir kenapa berita tentang orang sukses yang digembor-gemborin itu kebanyakan yang dari bawah? Apa mereka yang lahir berkecukupan itu nggak sama perjuangannya? Huft ya ternyata ini jawabannya~~

    ReplyDelete
  2. Hai Agi, Kunjungan balik nih, nice to know you..
    Iya, kadang memang lebih gampang ngejudge orang lain, padadal kita ga tau gimana perjuangan siapapun itu untuk mendapatkan sesuatu. Ga selamanya, anak yang berasal dari keluarga berkecukupan itu bahagaia dan mendapat full support orang tua. Ada lho, beberapa teman dari keluarga tajir melintir yang saya kenal dekat, malah orangtuanya lebih tegas dan disiplin atau malah lebih cuek akan kebutuhan (moril maupun materil) mereka. That also sad, right?

    ReplyDelete

hai, terimakasih ya sudah mau mampir ke blog aku dan baca-baca isi blognya. kalau mau komen plis jangan ninggalin link hidup. keep in touch yaaa

I'm Part of:

Blogger Perempuanpostimage

Instagram Feeds