Soal Mertua (Yang Gak Suka Sama Kita) Ituh...

(Disclaimer: Saya bikin postingan ini bukan untuk bongkar-bongkar aib, melainkan untuk ngasi perspektif baru soal hubungan mertua dan m...



(Disclaimer: Saya bikin postingan ini bukan untuk bongkar-bongkar aib, melainkan untuk ngasi perspektif baru soal hubungan mertua dan menantu. Saya nggak mau bilang kalo apa yang saya lakukan ini benar atau perlu dicontoh. Semua orang punya caranya masing-masing untuk dealing dengan permasalahan mereka--this just happens to be mine. untuk para mertua (dan calon mertua) diluar sana, dimohon untuk tidak emosi setelah baca postingan ini. Emangnya enak jadi menantu teraniaya yang ngga tau apa-apa njuk ujug-ujug disuruh hidup sesuai standar hidup orang lain? Blergh.)

Saya adalah menantu semi semi durhaka. (insert sfx film horror: JREEENG)

Saya harus mengakui kalo nggak punya hubungan batin dengan mertua saya, saya nggak pernah membayangkan untuk ingin, manut dan nunut sama mertua dan yang lebih parah, saya nggak mau terlalu urusan sama kehidupan mertua saya. Kayanya sih mertua saya juga nggak suka sama saya, but who cares? (I CARE btw! cuma kadang-kadang kalo inget beberapa kejadian nggak enak yang melibatkan pak suami, saya males untuk peduli apakah saya menantu idaman apa bukan)

Serem banget kan? Enggak, enggak seserem itu.


Pak suami hidup dan besar di keluarga yang tradisional. Keluarganya itu makan nggak makan yang penting kumpul. Saya besar di keluarga metropolitan yang... well... absurd, dan sangat bertolak belakang sama Pak suami, pokoknya kumpul gak kumpul sing penting mangan!

Ibu saya workaholic. Bapak saya workaholic tapi karena saya waktu kecil sakit-sakitan nggak bisa ditinggal, jadi beliau itungannya workaholic yang suka bawa anak ke tempat kerja, dan karena bapak saya kontraktor jadilah saya bocah yang afal merk semen, keramik, genteng sampai toilet. Keluarga saya  bisa dibilang punya segudang cukup banyak konflik internal, tapi Bapak dan Ibu saya masih memegang janji pernikahannya sampai hari ini. 

Pak suami tidak seberuntung saya. Keluarganya harus mati-matian bekerja supaya dia bisa sekolah, dan at some point in his life, bapak ibunya bercerai--kemudian saling hidup dengan keluarga baru masing-masing. Perceraian itu masih meninggalkan kepahitan tersendiri di hati Pak Suami, karena alasan-alasan yang nggak bisa saya sebutkan disini. Intinya, some people have a good divorce, some have a bad one. Kebetulan yang terjadi sama pak suami adalah the bad one.

Saya terbiasa dengan nasihat bapak ibu saya yaitu "if it's unreasonable, illogical, and stupid, don't do it" yang artinya kurang lebih kalo kamu gak punya alasan untuk melakukan hal itu atau hal itu gak wajar, gak logis dan bodoh, jangan pernah lakukan. So here i am, a 24 years old housewife who always questions people authority over her. Semua saya pertanyakan kenapa harus begini dan begitu, termasuk sama mertua. Sifat saya yang satu ini pernah menyelamatkan saya dari prospek-prospek ajaib dari MLM sampai aliran sesat, so i don't think this trait of mine will go away very soon.

Jadi, ketika saya 'dicemplungkan' ke lingkungan jawa yang harus diakui masih sangat patriarkis sekali, jiwa liar saya berontak dong. Enak aja saya yang sudah disekolahkan bertahun-tahun dan di'plot' menjadi orang sukses oleh bapak ibu saya kudu nunut suami + keluarganya kemana-mana. Ogah!

Dan ya, bisa ditebak dong apa yang terjadi. Konflik pun muncul di rumah tangga saya. Konfliknya bukan antara saya dan Pak Suami, tapi konflik menantu dan mertua. Cuma, karena kami sudah tua dewasa, jadi konfliknya gak pake kultwit atau post instastories panjang lebar kayak saya.

Oh tidak, ini bukan salah mertua saya, meskipun ya ada juga campur tangan mertua disitu. Ini murni salah saya yang keras kepala, nggak mau denger pendapat orang lain, dan nggak suka diatur-diatur (baca paragraf ini dengan nada sinis ala-ala sinetron indosiar ya) 

Itu baru konflik saya, belom konfliknya pak suami dengan Ibu Bapak saya yang nggak kalah ajaibnya. Ibu dan bapak saya (terutama ibu sih) punya cita-cita saya bakal menikah sama teman masa kecil saya yang sekarang sudah sakses dan berasal dari keluarga terpandang. Sialnya, teman kecil saya itu nggak naksir sama saya because let's face it, i'm not beautiful. Saya juga nggak naksir sama dia sih, karena ya namanya juga temen kan ya, kita udah tau busuk-busuknya dia.

Jadi, saya tahu persis bahwa keputusan saya (catat ya, keputusan saya!) untuk menikah di usia 23 tahun, sama dokter hewan kurus dari Yogyakarta yang tidak bercita-cita jadi PNS atau pegawai kantoran dan lebih suka pelihara anjing daripada burung, sukses membuat mereka separoh kecewa. 

Dan saya tahu persis bahwa kekecewaan itu sering kali mereka tunjukkan secara gamblang didepan suami saya. 

Jadi, bagaimana cara saya dan pak suami menghadapi mertua masing-masing?

1. Dilarang Baper!



Ini adalah tips saya yang paling pertama. Jangan baper. Saya akan mencontohkan omongan-omongan yang umumnya bikin baper semacam ini:

"kok suamimu tambah kurus?"
"mentang-mentang sudah nikah kok ya jadi lupa orang tuanya!"
"jadi perempuan kok nggak bisa ngurus rumah"
"itu menantunya bu x suka kirim uang ke bu x lho!"  

and shit(s) like that. 
Ketahuilah bahwa apapun yang kamu lakukan tidak akan ada yang sempurna di mata mertuamu. Mau kamu beliin pasanganmu + mertuamu berlian 24 karat tiap bulan pun, akan selalu ada 'cela' di mata mereka. Kenapa? karena banyak hal, bisa aja kamu memang tercela seperti saya, atau emang yaaaa... emang mertuamu mulutnya setajam silet.

Kalo yang pertama, yaa berubahlah. Saya juga (masih) belajar untuk punya 2 pasang mertua lengkap dengan keluarga baru masing-masing yang kudu dipahami satu persatu. Kalo yang kedua... well, udah tau orangnya sinis, kenapa masih ditanggapin? Orang itu kalo udah ngga suka sama kamu, apapun yang kamu lakukan bakal dipermasalahin, jadi jangan dimasukin ke hati. 

You can't choose your in laws, but you can choose to ignore rude comments and that basically the same thing.

2. Hindari Konfrontasi



Nah, kalau sudah tahu nih ada yang nggak sehat antara hubunganmu dengan mertua, jangan terus kamu konfrontasi. Bisa pecah perang dunia ke III! (well, lebih tepatnya pecah isi kepala but that's basically the same thing)

Saya nggak lagi-lagi berkonfrontasi dengan mertua. Been there, done that and never again. Konfrontasi saya dengan mertua itu jelas sebab dan musababnya; saya itu seringkali mewakili amarah Pak Suami yang nggak kesampaian. 

Ada yang bilang, pak suami itu otak dari rumah tangga saya, dan saya corongnya. Permasalahannya adalah, orang yang diam itu biasanya otaknya lebih jalan dan pemikirannya lebih keras. Nah, personality pak suami yang ini yang sering saya 'kemukakan'. Ini adalah contoh dan bukti nyata bahwa saya sudah cocok menjadi advokat, karena saya seringkali tidak secara sukarela mewakili pak suami pas dia lagi berkonflik dengan orangtuanya meskipun harusnya saya ngga perlu ikut-ikutan. Kepada Bapak dan Ibu saya yang masih tidak merestui anaknya menjadi lawyer, menyerahlah.

Jadi, 90% konfrontasi yang terjadi di rumah tangga saya itu karena Pak Suami perang dingin sama ortunya dan saya lelah melihatnya, so i say what i observe loudly, dan yaudah, jadi deh konfrontasi. Kalau udah telanjur kejadian? Palingan saya yang minta maaf kan orangtua selalu benar.

Tapi belakangan saya berubah, saya nggak lagi tertarik untuk berkonfrontasi dengan mertua saya. Simply because i know they listen but they won't understand. Pendapat orang yang udah jadi anaknya 27 tahun aja gak didenger apalagi pendapat saya yang cuma remah-remah tempe?

Mau tau cara menghindari konfrontasi yang paling gampang? PINDAH. Pindah yang jauh dari Pondok Mertua Indah, tapi saya yakin betul gak semua orang punya privilege buat tinggal jauh dari mertua. Saya sendiri nggak tinggal bareng sama mertua tapi rumah kita cukup dekat. Ingat, namanya keluarga gak mertua gak orangtua itu jauh bau harum, dekat bau bangkai. Selalu maintain jarak aman. Ini penting. 

Jadi, kalo saya liat udah bau-baunya bakal ada konflik nih, saya kabur. Alasan yang paling sering saya gunakan? Ayam di rumah belom dikasi makan.

3. Rumah Tanggamu adalah Punya Kamu



Ada pepatah, saat kamu menikah sama seseorang, kamu ngga hanya menikah sama dia, tapi juga sama keluarganya. Di Indonesia, pepatah ini partially true alias bener-bener-gak-bener. Bingung kan lo? Sama.

Lah iya lah ya... saya berhak dong untuk bingung, wong saya berjanji sehidup semati susah dan senangnya sama suami saya dan bukan sama bapak ibunya.

Ya kan? Mana ada janji pernikahan 'saya bersedia sehidup semati dengan suami saya + bapak, ibu, adek tiri, budhe, pakdhe, om, tante dan anggota keluarganya yang lain dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, miskin maupun kaya' MANA ADAAAA?!!!

Ijab kabul juga ga ada tuh yang bunyinya "saya nikahkan anak saya beserta seisi keluarga besarnya dengan mas kawin..." Ga ada!!!

Jadi ilmu darimana kalo kita nikah kudu nikahin sekeluarga besarnya itu darimana datangnya juga saya nggak tau (dan nggak mau tau juga). Yang nggak ada jangan diada-adain dong. Walaupun kita nikah itu berarti nikahin orang + masalah-masalahnya dia, tapi kalo sebelum nikah ga ada masalah terus abis nikah muncul drama keluarga ala ala sinetron 'menantu teraniaya' itu namanya ngaco.

Di dunia ini semua orang berhak untuk bahagia dengan caranya masing-masing. Kalo ada orang yang memaksa kamu untuk bahagia dengan caranya dia, ini namanya nggak bener. Pelanggaran HAM itu *lebay* Dan sebaliknya, kamu nggak boleh maksa orang untuk bahagia dengan caramu.

Yang saya tahu begini. Kamu menikah dengan seseorang berarti kamu bikin komitmen untuk menjaga hubungan tersebut dengan si orang yang kamu nikahi. Disitu, kalian berhak untuk mengatur mau jadi apa kedepannya rumah tangga kalian, mau hidup yang seperti apa, mau tinggal dimana, karena ya kalian sudah berani nikah berarti sudah bisa bikin keputusan hidup untuk orang lain!

Bertanggung jawab lah dengan keputusan hidup yang kamu buat untuk pasangan kamu, karena cuma kalian yang menjalankan dan cuma kalian yang tahu rasanya. Jangan terus karena ibu mertua memprovokasi menyuruh kalian untuk ngelakuin A,B,C terus kalian main ngejalanin tanpa perhitungan yang matang karena kalo sampe keputusan itu fail, kalian akan menyalahkan orang lain.

Keluarga mungkin bisa komentar inilah itulah, tapi emang mereka ikut merasakan dan memikul beban? I doubt so. Perasaan itu tidak bisa dibagi bos!

4. Remind Yourself: Saya Adalah Orang Ketiga dalam Hubungan Mertua dan Pasangan



Bapak saya pernah bilang, kalau didunia ini gak ada yang lebih aneh daripada tahu bahwa anaknya sudah bukan 'anak' nya lagi dan sudah jadi istri orang. Saya berasumsi hal yang sama terjadi dengan mertua saya. Asumsi lho ya.

Perasaan 'kehilangan' anak itu emang bisa bikin sebagian besar orang jadi gila. sebagian besar lho ya, bukan semuanya. Kenapa? karena susah untuk menerima kenyataan bahwa their little daughter/son is not so little anymore. Dan kadang, karena ini mereka menempatkan diri sebagai pesaing.

sucks, i know.

Kamu nggak akan bisa berkompetisi dengan orang-orang yang sudah nggantiin popok suamimu. Sampe macan biskuat pensiun dari dunia permaskotan pun kamu pasti jelas bakal kalah peranan hidup dari mertuamu. Jadi, ngalah aja udah. 

Namanya orangtua sama anak, sekacau apapun hidupnya pasti tetep ada bond atau ikatan tersendiri, jadi kita sebagai remah tempe dunia yang fana ini nggak usah memaksakan diri untuk fit in, tapi juga jangan yang cuek. Tahu batasan aja, seberapa jauh sih kita bisa mencampuri urusan mertua dan pasangan kita? Kalo udah tau batasannya yaudah jangan dilanggar!

Kalo mertua yang ngelanggar batasan dan terlalu ikut campur sama hidup kita gimana? Ya diinget aja, selama pasangan kita mendukung apa yang kita lakukan, terus mau gimana lagi? Kalo misalnya ada kasus ekstrim dimana mertua sampai memfitnah dll sih ya kacau juga, biasanya sih saya modal screenshot, voice recorder dan sebagai bagainya kalo lagi mau buktiin ke suami kalo sebenernya saya ngga salah pas ada konfrontasi dengan mertua. But it's just me, soalnya saya yakin ada cara-cara lain yang lebih elegan. Cuma saya belom nemu aja caranya gimana. 

5. Jangan Curhat Sama Keluarga Sendiri. Jangan. 



I learned this the hard way. 

Saya pernah kelepasan curhat sama ibu saya soal kondisi rumah tangga saya yang amburadul karena berbagai sebab. Curhatan saya bersambut dengan si ibu ngerasanin menantunya abis-abisan, dan bukannya membaik, situasi malah tambah nggak nyaman. Untung masalahnya udah kelar sekarang.

Kenapa? karena suka ngga suka, keluarga sendiri pun sudah menjadi orang ketiga diluar pernikahan saya. Jadi, mereka ya sama aja dengan orang ketiga lainnya: bisa mendengarkan, tapi belom tentu bisa mengerti. Orang yang ngga ngerti, kalo bikin komentar kadang suka waton alias ngasal. Jadi, ya ati-ati aja deh kalo udah soal curhat ke keluarga sendiri soal rumah tangga kita.

Belom lagi kalo keluarga kita tipe yang reaktif atau yang emosional. Duh, yang ada kita makin bingung karena masalah sama suami belom kelar, eh ada lagi tambahan 'kisik-kisik' ini itu dari keluarga. Apa nggak makin bubar?

Jadi, sampai hari ini kalo ada masalah sekecil dan sebesar apapun antara saya dan pak suami, mostly saya selalu pasang wajah datar dan bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Saya rasa kita sudah cukup dewasa untuk bisa menyelesaikan permasalahan dalam rumah tangga kita sendiri tanpa perlu nyanyi Hati Yang Luka by Betharia Sonata. Nggak perlu lah curhat-curhat soal masalah rumah tangga ke mama dan papa, kalo emang mau pulang ke rumah mama dan papa, pulang aja tapi tujuannya karena kangen bukan karena ada masalah sama pasangan.

***

Jadi, intinya sih, kalo emang mertua kita agak gimana gitu sama kita, yaudah. Ngalah aja udah. Sakit memang, tapi lebih baik ngalah dan bisa mempertahankan rumah tangga ketimbang mengeraskan kepala terus hubungan suami-istri jadi rusak. Yakin deh tiap rumah tangga pasti ada pengorbanannya masing-masing.

And sometimes, to love someone, you need to love their flaws. And sometimes, the flaw came in the form of two unpleasant person calling themselves 'mom' and 'dad'. Love your significant other, no matter what. If he/she is really destined for you, then these kind of conflict won't stop you from loving them.

PS: mau curhat seputar mertua? Email saya ada di bawah!


You Might Also Like

27 comments

  1. Nomor 5 itu kayaknya memang penting ya Mbak, soalnya mamaku juga pernah berpesan seperti itu. Ya sama beti-beti lah dengan : jangan curhat ke lawan jenis soal pasanganmu.

    AKu gatau kenapa aku suka baca tulisanmu. Not too arogant, tapi apa yang kamu tulis memang apa adanya, gak dibuat-buat dan gak lebay. JADI KAPAN IH KE MALANG? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. intinya sih emang jangan curhat soal permasalahan rumah tangga lho mbak win, soalnya zaman sekarang nih ye, lebih banyak orang yang 'nyukurin' kalo rumah tangga kita ndlungsep (bahasa opo iki) ketimbang yang dukung kita untuk mempertahankan rumah tangga.

      on a lighter note: IH PENGEN KE MALANG TAPI GAK JADI-JADI. TUNGGU YAH!

      Delete
  2. huhu baper banget kalau masalah seperti ini memang sering terjadi dalam rumah tangga saya. Terima kasih informasinya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan baper dong. laper boleh, baper jangan.

      Delete
  3. kalau mau curhat soal "calon mertua" gimana tuh sis? hahahaha baca postingan ini aku jadi merasa
    1. Kok jadi serem ya mau nikah
    2. langsung mikir watak calon mertua ku kayak apa ya
    3. uhmmm.... ternyata watak orang tua ku yang keras kepala
    4. kasian calon pasanganku

    sekian sis hahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. eeehhh jangan takut nikah gara-gara eik dong, ini tidak terjadi sama semua orang kok (cuma sebagian besar aja, dan sadly aku termasuk yang sebagian besar itu hahaha)

      yang penting sabar aja, namanya juga orangtua. Orang tua selalu ingin dimengerti, nanti mungkin kalo jadi ortu aku juga bakal seperti ituuuu

      Delete
  4. Mbak Agi saya belom punya mertua, kalo maunya cari jodoh bisa lewat email juga nggak? Uhuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh boleh, silahkan email kriteria pria yang diinginkan siapa tahu ada kerabat yang cucok #makcomblangmodeon

      Delete
  5. Hehehe... saya gak pernah punya pengalaman hidup bersama mertua... paling ketemu kalau pulang kampung ke kota suami... selebihnya menikmati hidup di kota masing-masing... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah enak ya, hahaha. saya meskipun tidak tinggal bareng, tapi masih satu kota pun berusaha menikmati hidup di kelurahan masing-masing kok (karena satu kecamatan hahaha)

      Delete
  6. Klo g berhasil dengan mertua yang satu bisa gak misalnya kita ganti mertua gitu? Please dibahas yak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waiki lho mas priyo, aku ra melu2 yo nek iki dibaca mertuamu huahahaha

      Delete
  7. Hahaha aku ada tuh pengalaman. Budeku nikah cerai 5 kali. Ini beneran terjadi! Ceritanya, dia sering curhat sama eyang dan eyang kompor jadi deh nikah cerai

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah namanya ortu kan pengen yang terbaik buat anaknya. kalo udah denger anaknya sedih bawaannya pasti pengen ngelempar orang yang bikin sedih itu, makanya jangan curhat sama ortu. cerita luar-luarnya aja. cukup ortu sudah pusing merawat kita dari kecil, jangan sampe ikut pusing lagi karena masalah rumah tangga kita.

      Delete
  8. aduh agi memang sih drama menantu dan mertua nggak ada habis2nya
    kalau aku sih alhamdulillah malah nggak pernah ngalamin
    ya kalau baper2 dikit dan sensi wajar lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, apa tuh tipsnya mbak? boleh dibagi dooong hehehe
      iya namanya keluarga, baper sama sensi ya wajar selama ga keseringan hahaha. personally, aku kalo udah mulai baper pasti melipir. daripada lelah, ya kan?

      Delete
  9. Hahaha, sabar aja deh. Mau gimana lagi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin bisa koprol sambil goyang dua-lima ala sctv di lapangan sepakbola terdekat mbak :)

      Delete
  10. Saya jadi tau, pemikiran2 Mba Agi yang jauh lebih dewasa dengan usia yang jauh lebih muda dari saya, ini karena memang sedari kecil udah terbiasa menghadapi kehidupan orang dewasa (diajak bapak ke kantor dan gaul dg dunia semen dan sejenisnya). Yeps, nggak bisa takaran bahagia kita diatur menurut kadar bahagianya orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya mbak, saya terpaksa dewasa karena kejamnya dunia (engga deng, dunia ngga kejam-kejam amat sama saya, alhamdulillah) betul sekali, takaran bahagia kita ya cuma kita yang tahu kan. makanya kalimat "sak-bahagiamu" atau se-bahagiamu itu tidak boleh jadi umpatan dan makian, justru harusnya menjadi pujian, gitu *ini kok malah bahas yang lain hahaha*

      Delete
  11. Sini, curhat ke aku saja gi. wkwkwkwk
    mungkin ini juga akan terjadi padaku karena jawa liar juga
    tapi aku sepakat karena rumah tangga kita milik kita, keluarga sudah jadi pihak ketiga.
    pun termasuk urusan anak nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. lhooo biasanya kan aku curhat sama kamu mbak wkwkwkw

      Delete
  12. Hik hik mengalami saat ini, merantau, numpang dimertua pula, dan suami kagak ngarti :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba dijelasin baik-baik. kasih sudut pandang kita, take time out berdua suami dan ngobrol empat mata. jangan lupa bilang "aku mau ngomong tapi dengerin dan jangan marah yaaaaa"

      Delete
    2. Skrng lg planning mau ambil rmh,, mdh2an pas pindahan gada drama,,

      Delete
  13. benar banget kak, aku suka dengan kata-kata yang terakhir itu, lebih baik ngalah dan mempertahankan rumah tangga..

    ReplyDelete
  14. Kalo yang baperan tuh mertua gimana mbak? Sifatnya bisa beda2 tiap hari tiap jam tiap menit, kadang anget kadang anyep, bikin salah tingkah dan mikir aku salah apa ke mertua ya
    padahal udh ngerjain tugas2 sbg istri 😂

    ReplyDelete

hai, terimakasih ya sudah mau mampir ke blog aku dan baca-baca isi blognya. kalau mau komen plis jangan ninggalin link hidup. keep in touch yaaa

I'm Part of:

Blogger Perempuanpostimage

Instagram Feeds